Ruang CT scan punya pintu tebal bertanda kuning yang hanya boleh dilewati pasien. Revan berdiri di depannya sampai petugas radiologi, perempuan muda bermasker dengan suara ramah yang terlatih, menunjuk deretan kursi plastik di seberang lorong.
"Bapak tunggu di sana ya. Sekitar dua puluh menit. Ibu Fina akan disuntik cairan kontras dulu, jadi nanti sempat terasa hangat."
"Dia sendirian di dalam?"
"Ada kami dari balik kaca, Pak. Ibu bisa bicara lewat pengeras suara."
Fina menoleh dari ambang pintu, memakai baju pasien berwarna hijau pucat di atas gamisnya, kerudung diganti topi kain tipis. Ia mengangkat tangan setengah seperti orang melambai kepada anak yang ia antar naik bus sekolah. "Mas, tunggu di sana. Jangan lihat-lihat."
"Aku di sini," kata Revan.
Pintu menutup dengan bunyi pelan.
Revan duduk. Ia menyadari bahwa tangannya sudah menggenggam pegangan kursi sampai buku-buku jarinya memutih. Jam di dinding menunjuk delapan lewat sepuluh, dan di kepalanya jam lain berdetak lebih keras: video dua puluh lima menit, wajah Arga yang menua di layar laptop, mata yang berair, tangan yang gemetar memegang kertas yang akhirnya tidak ia baca.
Lihat dia, Van. Itu yang diminta Arga, dan sesudahnya Arini menyuruhnya melihat hidup Fina, bukan hanya video itu. Revan menatap pintu kuning di depannya. Dari balik pintu itu sebuah mesin besar sedang berputar mengitari perempuan yang ia nikahi sembilan tahun lalu dan baru benar-benar ia lihat enam minggu lalu.
Ia memejamkan mata. Ia tidak berdoa dengan kata-kata, hanya mengulang nama itu berulang-ulang di kepalanya.
Pintu samping terbuka, dan petugas tadi menyembulkan kepala. "Pak, kalau mau, boleh lihat dari jendela kecil ini. Ibu minta."
Revan bangkit terlalu cepat. Dari kaca setinggi dada ia melihat Fina terbaring di meja sempit yang meluncur masuk ke cincin putih besar, kakinya terlihat kecil dan lurus di bawah selimut tipis. Dari pengeras suara di dinding terdengar suaranya, sedikit parau dan tenang.
"Mas, aku bisa lihat bayanganmu di kaca. Kepalamu menghalangi lampu."
"Maaf." Revan melangkah mundur setengah langkah.
"Tidak apa-apa. Cuma mau bilang, ini tidak sakit. Mas tidak perlu tegang begitu."
Ia tidak bisa menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangan di balik kaca, dan dari dalam, jari-jari Fina terangkat sedikit di atas selimut, membalas.
Dua puluh menit terasa seperti satu jam.
•||•
Kantin rumah sakit di lantai dasar berbau bubur dan teh manis. Fina memilih meja di dekat jendela yang menghadap taman kecil, dan Revan membawakan semangkuk bubur ayam tanpa seledri yang ia pesan dengan cermat, karena ia tahu Fina tidak suka seledri. Hal sekecil itu baru ia tahu bulan lalu, dan ia mencatatnya di kepala seperti mencatat angka penting.
Fina makan pelan. Rona di pipinya kembali setelah puasa enam jam, tetapi matanya tampak jauh, seperti masih mendengar dengung mesin tadi.
"Hasilnya Kamis," kata Fina sambil mengaduk bubur tanpa selera. "Dokter Iqbal bilang dr. Hendra ikut membaca."
"Kamis. Aku kosongkan seharian."
"Mas bisa begitu?"
"Kantor sudah kuberi tahu. Dimas mengurus sisanya." Revan mengangkat bahu. "Ternyata bos bisa juga minta tolong anak buahnya."
Fina tersenyum kecil, lalu senyum itu pelan-pelan hilang. "Mas."
"Ya?"
"Boleh aku minta sesuatu?"
"Apa pun."
Fina menaruh sendok. "Ceritakan hari pertama Mas melihat Langga. Bukan cerita yang bagus. Cerita yang benar."
Revan terdiam. Pertanyaan itu begitu sederhana sehingga ia tahu persis di mana jebakannya: tidak ada jawaban yang bisa membuatnya terlihat baik. Ia menarik napas, lalu memilih jujur.
"Aku tidak ada, Fin." Ia memandang meja. "Malam itu aku tidak mengangkat telepon. Aku baru tahu Langga lahir dua hari kemudian, dari Mama. Aku datang ke rumah sakit dan berdiri di ambang pintu kamar. Mungkin sepuluh menit. Kamu tidur. Ada bayi kecil di sebelahmu. Aku mau masuk, tapi aku tidak sanggup." Ia menelan ludah. "Aku bilang pada diriku sendiri aku tidak mau mengganggu istirahatmu. Kenyataannya aku takut. Aku takut kalau aku masuk, aku harus mengakui aku sudah gagal sebelum jadi ayah."
Fina tidak menyela. Matanya lembut, tidak menuduh.
"Lalu?" tanyanya.
"Lalu aku pergi. Dua hari kemudian baru aku menggendongnya. Itu pun di depan Papa."
Hening sebentar di meja mereka. Suara sendok beradu dengan mangkuk di meja lain.
"Aku boleh cerita sisiku?" tanya Fina.
"Boleh."
"Aku terbangun setengah sadar. Kupikir Mas ada di pintu, tapi ternyata hanya bayangan perawat." Ia tersenyum kecil, tanpa pahit. "Aku menggendong Langga dan bilang, 'Ayahmu sedang sibuk, Nak. Tidak apa-apa, Ibu di sini.' Kalimat itu kubilang kepadanya setiap malam sampai ia berumur dua tahun. Aku tidak menyalahkan Mas. Aku hanya bilang apa yang terjadi."
Revan memegang pelipisnya. "Kamu tidak menyalahkanku, dan itu lebih menyakitkan daripada kalau kamu menyalahkanku."
"Aku tahu." Fina menatapnya. "Makanya aku tidak mau Mas pulang malam ini dengan perasaan itu sendirian. Sekarang sudah ada yang tahu."
•||•
Setelah makan Fina meminta izin ke kamar kecil. Revan menunggu di meja, menghabiskan teh manisnya yang sudah dingin, dan matanya jatuh ke tas Fina yang terbuka di kursi sebelah. Sebuah buku bersampul biru menyembul separuh, tutupnya terbuka karena Fina tadi menulis sesuatu selagi menunggu hasil.
"Boleh Mas lihat?" gumamnya pada diri sendiri, dan karena tak ada yang menjawab, ia tidak menyentuhnya. Tetapi halaman terbuka itu menghadapnya, tulisan tangan Fina yang rapi dan miring ke kanan, dan matanya sudah membaca tiga baris sebelum otaknya mencegah.
Kalau Ibu tidak sempat melihat Langga memakai toga, Ibu ingin Langga tahu bahwa Ibu sudah bangga sejak hari ia belajar mengikat tali sepatu. Kalau Ibu tidak sempat...
Kalimat itu terpotong di tengah. Pena tergeletak di samping.
Revan tidak bisa bergerak. Sesuatu naik ke tenggorokannya begitu cepat sehingga ia terpaksa menahan napas.
"Mas?"
Fina sudah berdiri di samping meja. Matanya jatuh ke buku, lalu ke wajah Revan. Ia tidak marah. Tidak terkejut. Hanya diam.
"Maaf," kata Revan, suaranya serak. "Terbuka lagi. Aku baca tiga baris, dan kali ini bukan halaman resep."
"Tidak apa-apa."
"Fin, berhenti menulis ini."
"Mas..."
"Aku mohon." Ia berdiri dan memegang bahu Fina, lalu menarik tangannya lagi karena belum meminta izin. "Maaf. Boleh?"
"Boleh."
Tangannya hangat dan gemetar di bahu Fina. "Berhenti menulis seolah kamu tidak akan ada. Aku tidak bisa membaca itu."
Fina memandangnya lama. Mata itu basah, tapi ia tidak menangis. Ia hanya menarik napas panjang, mengangkat tangan, dan menyentuh punggung tangan Revan di bahunya.
"Aku juga manusia yang takut, Mas."