Revan pulang lebih awal dari kantor Selasa itu karena ia tidak sanggup duduk di kursinya. Sudah dua kali Dimas masuk ke ruangannya, dan dua kali pula ia menjawab pertanyaan dengan "Nanti" tanpa mendengar apa yang ditanyakan. Akhirnya Dimas mengambil kunci mobil dari mejanya dan berkata, "Pulang, Van. Lo nggak di sini."
Mbak Marni menyambutnya di teras dengan jari di bibir. "Bu Fina di taman belakang, Pak. Katanya jangan diganggu dulu."
"Aku tahu."
Ia memang tahu. Ia ingat kalimat Sabtu di toko, dan ia sudah menyiapkan diri untuk menunggu. Revan melepas sepatu di ruang tengah, meletakkan tas, lalu berdiri di dapur selama dua puluh menit sambil mengaduk teh hijau yang tidak ia minum, menatap pintu kaca yang menuju kolam. Dari balik gorden tipis ia melihat bayangan Fina duduk di kursi kayu dengan ponsel disandarkan pada gelas di atas meja kecil, kameranya menghadap wajahnya.
Dia bicara, pikirnya. Dia sedang bicara pada layar.
Pintu kaca itu sedikit terbuka, mungkin karena Mbak Marni lupa menutupnya. Suara Fina menyelinap lewat celahnya, lembut dan terukur, nada yang biasa ia pakai untuk Langga ketika menjelaskan hal yang sulit.
"...dan Ibu mau Langga tahu, Ibu sudah bangga sejak hari Langga belajar mengikat tali sepatu. Waktu itu Langga bilang, 'Ibu, kok talinya galak?' Ibu tertawa sampai perut sakit." Jeda. "Ibu juga mau Langga tahu bahwa Papa sedang belajar. Papa tidak sempurna, tapi Papa berusaha. Jangan benci Papa, ya, kalau Papa kadang salah lagi." Jeda yang lebih panjang. "Kalau Ibu tidak bangun setelah operasi, Langga, itu bukan karena Ibu tidak mau..."
Gelas di tangan Revan jatuh.
Bunyi pecahnya nyaring di lantai keramik. Ia tidak menoleh. Ia sudah berlari melewati dapur, mendorong pintu kaca sampai membentur dinding, dan keluar ke teras taman dengan napas yang terengah-engah seakan baru berlari sepuluh kilometer.
"Kamu tidak boleh pergi."
Fina menoleh. Ponsel di meja masih merekam, titik merah menyala di sudut layar. Matanya melebar, tapi ia tidak bergerak.
"Mas, aku..."
"Kamu tidak boleh pergi, Fin." Suara Revan pecah. "Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Tidak boleh merekam yang seperti itu. Aku tidak mengizinkan."
"Mas Revan."
"Kamu tidak boleh..."
"Revan."
Satu kata, tanpa gelar, tanpa Mas. Revan berhenti. Fina berdiri perlahan, mematikan rekaman dengan satu sentuhan, dan menatapnya lurus dengan mata yang jernih sekali.
"Aku tidak berencana mati, Mas." Ia bicara pelan sekali, seperti kepada orang yang baru terjatuh. "Aku berencana jujur."
Revan menekan pelipisnya dengan dua jari. Dadanya naik turun.
"Aku sudah memikirkan ini sejak aku tahu hasil CT. Operasi besar itu bukan operasi kecil, Mas. Dokter Hendra sendiri bilang." Fina menarik napas. "Kemungkinan terburuknya kecil, tapi bukan nol. Kalau aku tidak bangun, aku tidak mau Langga menyimpan satu hal yang menggantung dalam hatinya. Aku mau dia punya suaraku. Yang jelas, yang tidak sedang menangis."
"Dan kalau kamu bangun?"
"Aku bangun, dan aku hapus video ini, dan kita tertawa. Itu rencana utamanya." Fina tersenyum kecil. "Ini hanya rencana cadangan."
Revan memejam sebentar. "Kenapa kamu tidak bilang?"
"Karena Mas pasti akan marah seperti sekarang." Fina menunduk, lalu mengangkat wajah. "Dan karena aku malu mengakui sesuatu. Aku iri."
"Iri?"
"Pada Mas." Matanya mulai berkaca. "Waktu Papa Arga meninggalkan video itu, Mas menontonnya tiga kali dalam satu malam, dan setelahnya Mas berubah. Aku melihat. Mas pelan-pelan jadi orang yang berbeda, bukan karena aku minta, tapi karena suara Papa sampai ke Mas. Aku mau Langga punya satu. Sesuatu yang bisa ia putar kalau dunia sunyi, yang berkata, 'Ibu pernah di sini, dan Ibu sayang kamu.'"
Revan tidak sanggup berdiri lagi. Ia menjatuhkan diri ke kursi rotan di samping meja, siku di lutut, wajah di telapak tangan. Bahunya bergetar.
"Maaf," katanya, tertahan. "Maaf, Fin. Aku marah karena aku takut. Aku marah karena aku sudah menunda terlalu banyak hal, dan sekarang waktunya terasa pendek. Aku tidak berhak membentakmu."
"Aku tidak keberatan dibentak untuk alasan itu."
"Boleh aku..." Ia mengangkat wajah. "Boleh aku bicara ke kamera itu? Sebentar."
Fina menatap ponselnya, lalu Revan, lalu mengangguk. Ia menekan tombol dan menyerahkan ponsel itu kepadanya, menyandarkannya kembali pada gelas.
Revan menghapus air matanya dengan kasar. Ia menatap lensa seperti menatap dinding yang terlalu tinggi, lalu menurunkan pandangan sampai ke Fina yang duduk di seberang meja dengan tangan terlipat di pangkuan.
"Fin," katanya. Suaranya rendah, hampir tak terdengar. "Bangun. Aku mencintaimu."
Hanya itu. Ia menekan tombol berhenti dengan jari yang tidak sepenuhnya mantap.
"Itu pesanku. Kalau kamu tidak mau menonton, jangan. Tapi simpan."
Fina tidak menjawab. Ia memegang ponsel itu di dadanya dengan dua tangan.
"Boleh Mas duduk di sini sampai kamu selesai merekam punyamu?" tanya Revan setelah hening yang panjang.
"Boleh. Tapi hadap kolam, jangan lihat. Kalau Mas lihat, aku tidak bisa."
Revan memutar kursi menghadap air. Di belakangnya terdengar bunyi tombol, napas yang ditarik, lalu suara Fina bicara lagi, kini lebih lancar, tentang resep bubur sumsum, tentang tali sepatu, tentang kenapa Langga tidak perlu takut pada angka. Ia mendengar kata toga, lalu tawa kecil Fina yang pecah di tengah. Ia tidak menoleh sekali pun. Itu hal paling sulit yang pernah ia lakukan, dan ia melakukannya sampai selesai.
•||•
Tak lama kemudian, suara roda skuter berderak di paving depan. Pak Ucup berseru dari gerbang, dan sesaat kemudian Langga muncul di pintu kaca dengan tas di punggung, kacamatanya berembun karena berlari. Ia melihat gelas pecah di lantai dapur lewat celah pintu, lalu melihat wajah kedua orang tuanya yang sembab.
"Kok pada nangis?" tanyanya curiga.
"Ibu dan Papa lagi latihan." Fina menyeka pipinya. "Latihan menangis kalau nonton film sedih."
"Itu bukan latihan. Itu alasan." Langga melepas kacamatanya yang berembun, mengelapnya dengan ujung seragam, dan memakainya lagi. "Gelas siapa yang pecah di dapur?"
"Gelas Papa," kata Revan.
"Papa ceroboh."
"Papa tahu."
"Kata Kakek, orang ceroboh itu bukan orang jahat, cuma orang yang terlalu banyak mikir." Langga mengatakannya dengan khidmat, seperti mengutip kitab suci, kemudian menunjuk Revan dengan telunjuk. "Papa jangan nangis lagi. Nanti kacamata Langga yang kena."
Revan tertawa pendek, kering, dan hampir pecah menjadi tangis lagi.
Langga mengurungkan niat bertanya lebih jauh. Ia merogoh tas dan mengeluarkan selembar kertas kusut. "Kamis ada pameran gambar di sekolah. Karya Langga dipilih. Bu Laila bilang Langga boleh bawa keluarga." Ia memandang Fina dengan harap yang dipendam. "Ibu datang, ya?"