Aula sekolah pagi itu berbau cat air dan karpet baru. Panel-panel gabus berdiri berderet seperti dinding kecil, dan di tiap panel tergantung gambar murid kelas tiga sampai kelas enam: pemandangan gunung, kapal layar, ikan yang terlalu besar untuk lautnya. Langga berdiri di depan panel bernomor empat belas dengan dasi kupu-kupu yang sudah tiga kali ia betulkan sendiri, kacamata di hidung, dan tangan yang dingin.
Gambarnya ada di tengah. Cangkir putih di atas meja kayu, dan dari mulut cangkir itu naik uap tipis yang, kalau dilihat lama, membentuk siluet seorang perempuan berkerudung. Tidak ada wajah. Hanya garis-garis lembut dan sedikit warna hijau di dasar cangkir. Di pojok bawah, dengan huruf miring yang rapi, ia menulis judulnya: Teh Hijau.
"Langga."
Bu Laila datang dengan kebaya biru muda dan senyum yang sudah dikenal. Ia berhenti di samping Langga dan ikut menatap gambar itu sebentar.
"Ini yang kami pilih untuk dipajang paling depan. Bu guru suka sekali. Boleh Ibu tahu, kamu menggambar apa?"
Langga menggoyangkan kakinya. Ia hampir melakukannya di depan Bu Laila, tapi ingat teguran Ibu dan menghentikannya. "Teh hijau, Bu."
"Itu saja?"
"Papa bikin teh hijau buat Ibu. Hari Sabtu waktu Ibu sakit. Papa bikinnya salah, gulanya kebanyakan." Langga menelan ludah. "Tapi Ibu minum semua. Habis. Terus Ibu senyum. Langga lihat dari kursi makan. Itu yang paling bagus yang pernah Langga lihat."
Bu Laila terdiam, lalu menepuk bahunya pelan. "Sudah, jangan bilang apa-apa lagi. Gambarmu sudah bilang semuanya."
Langga menoleh ke pintu aula. Belum ada Ibu. Perutnya terasa seperti ada kupu-kupu kecil yang bingung.
•||•
Revan datang lebih dulu bersama Wira, yang berjalan dengan tongkat dan memeriksa tiap gambar dengan mata penuh perhatian seperti kolektor. Ressie mengikuti dua langkah di belakang dengan tas tangan di lengan, berpura-pura tidak ikut tertarik. Mereka berhenti di depan panel empat belas karena Langga melambai-lambai dari sana.
"Papa! Kakek! Oma Ressie!"
Revan melihat gambar itu, dan seluruh dunia mengecil menjadi satu cangkir.
Ia mengenali meja kayu itu. Ia mengenali gelas. Ia mengenali siluet itu, dan ia tahu persis kapan ia menyeduh teh ini, pagi Sabtu yang canggung itu, ketika ia mengira tak seorang pun memperhatikannya selain istrinya. Tetapi ada yang memperhatikan. Ada seorang anak sembilan tahun di kursi makan dengan kaki yang digoyang pelan dan mata yang belum bisa melihat tulisan di papan, yang menyimpan pagi itu dalam kepalanya dan menggantinya menjadi sesuatu yang lebih indah dari kenyataan.
Dadanya sakit.
Ia berlutut. Di aula yang ramai, di depan orang tua murid dan guru dan anak-anak berseragam, Revan Ramandha Arsyad berlutut di lantai berkarpet di depan sebuah gambar, sampai tinggi matanya sejajar dengan tinggi mata anaknya.
"Ini gambarmu?"
"Iya, Pa."
"Kamu gambar waktu Papa bikin teh buat Ibu."
"Iya. Papa nggak marah?"
"Marah?" Suara Revan nyaris tidak keluar. Ia menggeleng pelan, kemudian menegakkan tubuh sedikit, cukup supaya orang-orang di sekitar mendengar. Beberapa kepala menoleh. Bu Laila berhenti merapikan kertas. "Ini anak Papa."
Langga membelalak.
"Ini anak Papa," ulang Revan, lebih keras, tanpa malu. "Dan Papa bangga sama kamu. Papa bangga sekali, Langga. Gambar ini yang paling bagus di ruangan ini, dan Papa tidak peduli siapa yang dengar."
Hening kecil menyebar di sekitar mereka, disusul tepuk tangan canggung dari seorang ibu berjilbab merah muda yang kemudian diikuti yang lain. Langga berdiri kaku dengan bibir yang berusaha keras tidak tersenyum dan gagal. Sudut mulutnya naik juga, malu-malu, dan matanya basah di balik lensa.
"Papa," bisiknya, "banyak orang lihat."
"Biar saja."
Wira maju dengan tongkatnya dan menyentuh bingkai gambar itu dengan ujung jari. "Bayangan di uap itu, Kakek yang ajarkan di ayunan, kan?"
"Iya, Kek. Tapi garisnya Langga bikin sendiri."
"Memang." Suara Wira bergetar. "Itu yang paling Kakek suka. Kakek cuma menunjukkan caranya. Rasanya, Langga sendiri yang menemukan."
Ressie menatap ke arah lain, ke panel di sebelah, tetapi tangannya terangkat sekilas ke pipi dan turun lagi. "Kamu ini," gumamnya kepada Langga, tanpa nada marah. "Gambar sebagus itu, kenapa tidak bilang dari dulu."
"Langga takut Oma ketawa."
Ressie membuka mulut, menutupnya, lalu menjawab pelan, "Oma tidak ketawa."
•||•
Fina datang lima menit kemudian, didorong Pak Ucup dengan kursi roda kecil yang dipinjam dari rumah sakit. Ia memakai gamis krem dan kerudung putih tipis, wajahnya pucat tapi cerah. Langga mengejarnya dari ujung aula dengan langkah yang tidak lagi ragu, dan Fina membuka lengan.
"Ibu datang!"
"Ibu datang, sayang."
Revan berdiri di samping, memperhatikan Langga menarik tangan Fina ke panel empat belas. Fina memandang gambar itu lama sekali. Ia tidak bicara.
"Ibu?" Langga menengadah. "Jelek, ya?"
"Tidak." Suara Fina serak. "Itu perempuan yang minum teh, kan? Kenapa dia tidak ada wajahnya?"
"Soalnya Langga nggak mau salah gambar muka Ibu. Muka Ibu terlalu bagus buat dicoba-coba." Langga menunduk malu-malu. "Nanti kalau Langga sudah jago, baru Langga gambar mukanya."
Revan, yang berdiri di belakang mereka, tidak bisa lagi menahan senyum. "Kamu sudah jago, Nak. Muka itu tidak perlu digambar. Papa sudah tahu itu siapa."
Fina tertawa dengan air mata di pipi, dan ia tidak mengusapnya. Ketika akhirnya ia menoleh ke Revan, bibirnya bergetar tapi senyumnya lebar, dan Revan tahu ia mengerti siapa yang menjadi tokoh di gambar itu.
Ressie mendekat. Ia menjinjing sesuatu dari tas tangannya, kain rajut abu-abu yang dilipat rapi. Dengan gerakan agak kaku ia menyampirkannya ke bahu Fina, menariknya sedikit sampai menutupi leher.
"Kamu pucat sekali," katanya. "Di aula ini AC-nya dingin."
Fina menengadah. Revan tidak bernapas.
"Terima kasih, Ma."
Ressie menjawab dengan satu dengusan tipis, lalu berbalik pergi ke panel lain. Tidak ada kata lembut sesudahnya, tetapi syal itu tetap melingkar di leher Fina, dan itu cukup.
Dari pintu aula, Hasna masuk perlahan dengan Bima di tangannya. Kandungannya sudah sangat besar, langkahnya hati-hati, dan satu tangan menyokong punggung. Bima langsung melesat ke Langga. Hasna berhenti di depan panel empat belas dan menatap gambar itu.
Revan melihat bagaimana matanya bergerak dari cangkir ke uap, dari uap ke siluet, dari siluet ke Fina di kursi roda. Matanya basah. Ia mengusapnya tidak berhasil, dan usapan kedua juga gagal.
"Fin," katanya, tanpa menoleh pada Revan. "Besok aku mau ke kamarmu. Ada yang ingin kutanyakan."