Ketukan di pintu kamar terdengar pelan, dua kali, lalu berhenti seolah yang mengetuk sedang menimbang untuk pergi saja.
Fina meletakkan jarum rajutnya. Selimut merah muda pucat di pangkuannya baru sampai separuh, benangnya kusut di satu sisi karena tangannya tidak setenang dulu. Pagi ini Revan mengantar Langga ke sekolah, Mbak Marni di dapur, dan rumah besar itu sunyi dengan cara yang membuat suara sekecil apa pun terdengar jelas.
"Masuk, Mbak."
Pintu terbuka. Hasna berdiri di ambang dengan satu tangan di punggung dan satu lagi memegang bungkusan kertas cokelat. Perutnya sudah sangat turun, langkahnya melebar seperti orang yang menjaga keseimbangan di atas perahu. Wajahnya tidak dirias. Matanya bengkak, dan Fina tahu itu bukan bengkak kurang tidur saja.
"Mama masih di kamar tamu," kata Hasna. Itu bukan sapaan, lebih mirip laporan bahwa mereka tidak akan diganggu. "Aku boleh duduk?"
"Boleh. Silakan."
Hasna menurunkan tubuhnya ke tepi ranjang dengan hati-hati, napasnya keluar panjang. Ia meletakkan bungkusan itu di antara mereka dan tidak menyentuhnya lagi. Beberapa saat ia hanya memandangi selimut rajut di pangkuan Fina.
"Itu untuk bayiku?"
"Untuk dua-duanya, Mbak. Yang krem untuk kalau laki-laki, tapi kata dokter perempuan, jadi yang merah muda ini yang kukejar." Fina mengangkat rajutan itu sedikit. "Belum selesai. Tanganku lambat sekarang."
Hasna tidak tersenyum. Ia menarik napas, dan Fina melihat bahunya naik seperti orang hendak mengangkat sesuatu yang berat.
"Semalam aku tidak bisa tidur. Gambar Langga itu." Suaranya bergetar sedikit di ujung. "Aku berdiri di depan cangkir itu dan aku mikir, anak sekecil itu menggambar ibunya tanpa wajah karena takut salah. Fin, kalau kamu tidak bangun hari Kamis nanti, Langga... aku harus bagaimana?"
Fina terdiam. Ia menyangka akan mendengar pertanyaan tentang Revan, tentang siapa yang dipilih, tentang hal-hal yang selama ini membuat mereka saling menghindari di tangga. Bukan ini.
"Mbak harus bagaimana?" ulangnya pelan.
"Aku yang pernah bilang dia disleksia." Hasna memejamkan mata sebentar. "Aku bilang itu di depan Revan, di depan kamu, seolah aku lagi menyebut nama penyakit. Padahal matanya yang salah, dan dia sembilan tahun diam saja karena takut. Kalau kamu pergi, siapa yang akan bilang ke dia bahwa aku sudah salah? Aku? Dia pasti tidak akan mau dengar dari aku."
"Dia mau dengar dari Mbak," kata Fina.
"Jangan menghibur."
"Aku tidak menghibur. Langga menyimpan dua gambar dari Bima di laci mejanya. Gambar kuda dan gambar mobil. Katanya itu dari Mama Hasna yang menyuruh Bima menggambar untuk dia." Fina menggeleng pelan. "Mbak sudah lebih dekat dari yang Mbak kira."
Hasna menggigit bibir. Matanya mulai basah, dan kali ini ia tidak buru-buru menyeka.
"Ada dua hal yang mau kutarik," katanya akhirnya. Ia duduk lebih tegak, seperti murid yang sudah menghafal pidatonya semalaman. "Pertama. Aku pernah minta kamu jadi pengasuh anakku. Di hari Langga jatuh dari skuter, di depan banyak orang. Aku tidak tahu apa yang ada di kepalaku waktu itu, Fin. Atau aku tahu, dan itu lebih buruk. Aku mau kamu tahu bahwa tawaran itu kutarik. Tidak ada yang pantas dijadikan pengasuh anakku selain aku sendiri."
Fina menunggu.
"Kedua." Suara Hasna turun hampir jadi bisikan. "Waktu itu aku menyebut kamu jalang. Aku marah, tapi marah tidak membuat kata itu benar. Kamu tidak pernah merebut apa pun dariku. Kamu yang duluan di rumah ini, dan kamu yang tutup mulut sepanjang itu." Ia mengangkat wajah. "Aku malu. Aku sudah malu sejak hari itu dan aku tidak pernah bilang."
Kamar itu sunyi. Di luar jendela, seekor burung hinggap di pagar balkon dan terbang lagi.
Fina tahu ia bisa mengatakan banyak hal. Bahwa kata itu sempat membuatnya bangun tengah malam dengan dada sesak. Bahwa ia pernah menulis surat pendek untuk Hasna dan merobeknya. Tetapi melihat tangan Hasna yang gemetar di atas perut besar itu, ia memilih kalimat yang lebih pendek.
"Terima kasih sudah bilang, Mbak."
"Itu saja?"
"Aku tidak bisa bohong dan bilang tidak sakit waktu itu." Fina menatap lurus. "Tapi aku juga tidak mau mengingatnya terus. Hari Kamis aku tidak mau membawa itu ke kamar operasi."
Hasna menutup mulut dengan telapak tangan. Bahunya terguncang sekali, dua kali. Fina tidak bergerak mendekat karena tidak yakin pelukan itu diinginkan, tetapi ia menggeser selimut rajutnya dan menepuk ruang kosong di antara mereka. Hasna meraih tangannya. Mereka duduk begitu, dua perempuan yang sekian lama berbagi satu suami dan satu tangga, tanpa berbicara.
•||•
"Ini," kata Hasna sesudahnya, sambil menyodorkan bungkusan cokelat tadi. Suaranya sudah rapi lagi. "Jangan dibuka sambil mengejek."
Fina membuka lipatan kertasnya. Di dalamnya ada selembar bergo hitam dengan tepian krem, bahannya jatuh dan lembut, jelas bukan barang obral. Label harganya masih menggantung di sisi, dan Hasna mendadak sibuk dengan ujung bajunya.
"Aku beli kemarin sore. Sepulang pameran. Aku muter tiga toko." Ia berdeham. "Yang lama sudah longgar di kepalamu. Dan kata orang, bahan katun terlalu gerah buat yang lagi kemo."
"Mbak muter tiga toko?"
"Jangan bahas itu."
Fina menahan senyum yang naik dari dada. Ia melepas bergo abu-abu yang sudah ia pakai sejak pagi, memperlihatkan kepalanya yang licin dan pucat di hadapan Hasna, dan ia tidak berpaling. Hasna juga tidak. Ia hanya mengerjap sekali, lalu mengambil bergo baru itu dan menyerahkannya.
Bahannya dingin dan halus di kulit kepalanya. Fina menarik tepiannya ke pelipis, merapikan di depan cermin kecil di meja rias.
"Pas."
"Kelihatan," kata Hasna datar. "Kamu kelihatan seperti orang yang baik-baik saja. Jangan sampai Revan lihat dulu, dia bakal nangis lagi."
Fina tertawa. Kecil, tetapi benar-benar tawa. Hasna melirik, dan sudut bibirnya ikut naik, cepat saja, lalu hilang.
Setelah itu Hasna kelihatan ragu. Tangannya mengusap perut dengan gerakan melingkar yang tidak ia sadari. Ia menatap pintu, lalu jendela, lalu Fina.
"Fin. Kamu belum pernah tanya nama bayiku."
"Aku tidak mau mendesak, Mbak. Revan bilang Mbak belum mau menyebutnya."
"Belum mau bilang ke dia." Hasna menyentuh dagunya sendiri, kebiasaan kecil ketika ia gugup. "Aku mau dia dengar dari mulutku sendiri, saat bayinya sudah ada. Tapi aku tidak bisa tidur dengan nama itu terus-menerus di kepala dan tidak ada yang tahu."
Ia mencondongkan tubuh, dan dari jarak sedekat itu Fina bisa mencium wangi bedak bayi yang menempel di bajunya.
"Namanya Kirana," bisik Hasna. "Cahaya. Aku ingin dia lahir dan dunianya sudah terang. Jangan bilang Revan."