Sudah dua hari Revan bekerja dari meja makan. Laptopnya terbuka di antara mangkuk buah dan termos teh, dasi tidak dipakai, dan setiap kali Fina lewat ke dapur ia mengangkat kepala sekilas, memastikan sesuatu, lalu kembali mengetik. Fina tidak bertanya. Ia tahu itu cara Revan menerjemahkan kalimat Langga: tinggal ada.
Selasa pagi, mobil Revan yang sudah berangkat menjemput ke stasiun kembali masuk halaman. Fina mendengarnya dari ruang tengah dan berdiri pelan-pelan, satu tangan di sandaran sofa, menunggu pusingnya lewat.
Wira turun lebih dulu, bertumpu pada tongkat. Ia mengenakan jaket cokelat yang kebesaran di bahu, dan Fina merasa dadanya menciut melihat betapa cepat tubuh itu menyusut dalam beberapa pekan. Di belakangnya Ressie menenteng dua tas kain besar, menolak dibantu Pak Ucup.
"Kami nginap lagi sampai Kamis," kata Ressie lebih kepada udara daripada kepada siapa pun. "Kamar tamu atas sudah dibersihkan, kan?"
"Sudah, Ma," jawab Fina. "Mbak Marni ganti seprainya tadi pagi."
Ressie berhenti setengah langkah. Ia menoleh, menatap Fina, kemudian membuang muka. "Bagus."
Hanya itu. Tetapi dua pekan lalu, Fina menyadari, kata "bagus" itu tidak akan keluar, dan kalaupun keluar, tidak akan diikuti tatapan sebentar yang terlalu mirip kekhawatiran.
Revan masuk terakhir dengan koper kecil Wira di satu tangan. Wira memperhatikannya dari ujung ruang tengah, dari rambutnya yang belum disisir sampai kemeja rumahan yang kancingnya salah satu lubang.
"Kamu tidak ke kantor, Van?"
"Aku di rumah sampai Kamis, Pa."
"Dimas sanggup menggantikan?"
"Dimas yang menyuruh." Revan menurunkan koper di kaki tangga. "Katanya kalau aku datang pun, aku cuma duduk memandangi layar."
Wira mengangguk, lalu menatap Fina, lalu Revan lagi. Ada sesuatu di wajah tua itu yang bergerak dan segera ditata, seperti orang yang menyimpan sesuatu di balik pintu dan memastikan kuncinya tertutup.
•||•
Siang itu Ressie muncul di dapur ketika Fina menuang sup ke mangkuk. Ia berdiri di dekat kulkas dengan tangan terlipat, memperhatikan uap yang naik, kemudian mangkuknya, kemudian Fina.
"Cuma itu?"
"Ini untuk makan siang, Ma. Nanti sore ada bubur."
"Tubuhmu perlu daging." Ressie membuka lemari es dengan sedikit kasar, mengeluarkan sebungkus ayam, mengamati labelnya, lalu menaruhnya kembali. "Nanti Mama minta Marni masak. Yang lunak. Tanpa santan. Kamu tidak boleh santan, kan?"
Fina berhenti menuang. "Mama tahu?"
"Papa Wira bertanya ke dokter lewat telepon kemarin. Dia tidak tahu Mama mendengar." Ressie menutup pintu kulkas dan memandangi stiker magnet Langga di atasnya. "Dia berubah sejak kamu sakit, Fina. Makannya sedikit, tidurnya sedikit, dan setiap malam dia berdoa lebih lama dari biasanya. Mama sudah lebih dari empat puluh tahun menikah dengannya dan tidak pernah lihat dia takut seperti itu."
Fina tidak tahu harus menjawab apa. Ia memutuskan menjawab dengan jujur. "Aku juga takut, Ma."
Ressie menatapnya. Lama. Tangannya yang terlipat sedikit mengendur.
"Ya," katanya. "Wajar. Mama juga."
Ia berbalik, membuka laci, dan mulai memotong bawang tanpa diminta. Fina berdiri di sampingnya dengan mangkuk di tangan, tak yakin apakah ia sedang dibantu atau diawasi, dan akhirnya menyadari bahwa mungkin dua-duanya.
•||•
Menjelang sore, rumah sunyi lagi. Langga dan Bima sedang les gambar bersama Pak Ucup, Hasna istirahat di kamar tamu bawah bersama Reffa karena dokter kandungan melarangnya naik tangga lagi, dan Ressie menyuruh Mbak Marni menjemur sesuatu di belakang. Fina duduk di ayunan taman dengan selimut rajut merah muda di pangkuannya, jarum bergerak pelan.
Bunyi tongkat menyentuh batu paving membuatnya menoleh.
"Boleh Papa duduk?"
"Silakan, Pa."
Wira menurunkan dirinya ke bangku kayu di samping ayunan dengan gerakan yang hati-hati. Sejenak ia hanya memandang rumput yang baru dipotong. Suara jarum rajut Fina berdetak ringan di antara mereka.
"Dulu Papa pikir kamu akan menolak," katanya akhirnya. "Waktu Papa minta Revan menikahimu. Papa sudah menyiapkan banyak alasan kenapa kamu pantas menolak. Tapi kamu hanya mengangguk."
"Papa tidak perlu..."
"Dengarkan Papa dulu, Nak. Sebentar saja." Suara Wira rendah, tidak bergetar, justru lebih berat karena sengaja ditahan. "Papa memaksakan sesuatu pada anak laki-laki Papa yang tidak mencintaimu. Papa kira rasa hormat bisa berubah jadi cinta kalau diberi waktu. Papa salah. Waktu sembilan tahun yang Papa kira cukup, ternyata cuma melahirkan sembilan tahun luka untukmu."
Fina meletakkan rajutannya di pangkuan. "Pa."
"Papa minta maaf. Bukan atas niatnya. Atas caranya."
Beberapa saat Fina tidak sanggup bicara. Ia menatap tangan Wira yang menggenggam gagang tongkat, urat-urat biru menonjol di punggung tangannya. Tangan yang dulu mengajari Langga menggambar bayangan.
"Papa tidak memaksaku," katanya perlahan. "Aku yang mau."
"Fina..."
"Aku mau, Pa. Tidak ada yang menodongkan apa pun. Aku boleh bilang tidak, Papa sendiri yang bilang begitu waktu itu, dan aku ingat." Ia menarik napas pendek. "Aku bilang ya karena aku mau. Kalaupun hasilnya tidak seperti yang Papa harapkan, bukan Papa yang menanggung. Itu pilihanku, dan pilihan itu juga memberiku Langga."
Wira menunduk. Bahunya yang sudah kurus naik turun satu kali. Ia melepaskan satu tangan dari tongkat dan mengusap mata dengan punggungnya, gerak tergesa seperti orang yang tak ingin dilihat.
"Papa mau bilang sesuatu," katanya, setelah beberapa saat. Suaranya lebih pelan lagi. "Kepada Revan. Papa tidak sanggup menyimpannya sampai Kamis."
Fina membeku. Jarum di tangannya berhenti.
"Papa tidak boleh."
"Fin, kalau terjadi sesuatu padamu di meja operasi, anak itu akan hidup seumur hidup tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, dan..."
"Aku tahu siapa diriku, Pa."
"Dia tidak."
"Dia akan tahu." Fina memajukan tubuhnya, memegang lengan jaket Wira yang dingin. "Dengan caraku, bukan caranya orang lain. Kalau aku bangun, aku sendiri yang cerita pada Mas Revan. Aku mohon. Biarkan aku yang cerita."
Wira memejamkan mata. Bahunya merosot, lalu tegak lagi.
"Baik," katanya. "Papa tunggu. Tapi dengar baik-baik, Nak. Kalau terjadi sesuatu, Papa tidak akan diam. Pegang janji Papa."
"Terima kasih, Pa."
Wira menepuk punggung tangan Fina dua kali, kemudian bangun dengan susah payah. Fina tidak menawarkan bantuan, karena tahu kalau ia menawarkan, Wira akan menolak.
Ketika Wira melangkah masuk lewat pintu kaca, Fina mendengar butir tasbih beradu pelan dari jendela lantai atas, di kamar tamu. Gorden tipis di sana bergoyang sedikit, lalu diam.
Ressie. Sejak kapan ia di situ, Fina tidak tahu.
Fina menunduk menatap rajutan merah mudanya. Sebuah baris sudah terlewat dan ia harus mengurai tiga lilitan benang untuk memperbaikinya, tetapi tangannya gemetar terlalu hebat untuk melakukan itu sekarang.