Pagi itu, sebelum berangkat ke rumah sakit, Revan menangkap Ressie memandangi Fina dari ujung meja makan. Bukan tatapan yang biasa, yang menimbang dan menolak. Tatapan yang menghitung sesuatu.
"Kemarin sore kamu sama Papa di taman," kata Ressie, mengaduk tehnya yang tidak ia minum. "Bicara apa?"
"Soal Langga, Ma." Fina menjawab tanpa jeda, sambil merapikan serbet. "Papa bilang Langga menurun darinya soal menggambar."
Ressie membuka mulut, menutupnya lagi. Pandangannya berpindah ke Revan, yang pura-pura sibuk dengan ponsel. Revan sendiri tidak tahu apa yang ia sembunyikan, hanya tahu bahwa ada sesuatu di rumah ini yang semua orang tahu kecuali dirinya, dan ia sudah memutuskan menunggu sampai Fina siap.
"Hm," kata Ressie, dan hanya itu.
•||•
Ruang konsultasi bedah di lantai tiga berbau antiseptik dan kopi sachet. Dokter Hendra menjelaskan sekali lagi, singkat, tanpa gambar dan tanpa istilah yang membuat Revan perlu mencatat: puasa mulai tengah malam, masuk kamar bedah pukul tujuh lewat tiga puluh, lama operasi tergantung apa yang ditemukan. Seorang perawat menyodorkan map berisi satu lembar terakhir yang perlu ditandatangani.
Fina membaca setiap barisnya. Revan memperhatikan jari-jarinya yang kurus menelusuri kalimat, berhenti di satu kalimat tentang kemungkinan pengangkatan seluruh organ, lalu lanjut. Ia menandatangani dengan tulisan tangan yang rapi, huruf S yang miring ke kanan seperti dulu waktu mereka menikah.
Perawat keluar. Dokter Hendra mengangguk kepada mereka dan menyusul, memberi ruang tanpa diminta.
"Mas." Fina menutup pulpennya. "Dengarkan aku sebentar, dan jangan memotong."
"Aku tidak akan memotong."
"Kamu akan memotong." Ada kilatan geli yang sangat singkat di matanya, lalu hilang. "Kalau besok ada keputusan yang harus diambil dan aku tidak bisa menjawab, Mas yang menjawab. Aku sudah menunjukmu. Jadi aku mau Mas tahu apa yang kumau."
Revan diam. Tangannya di atas lutut sudah mengepal, dan ia membukanya paksa.
"Kalau harus memilih, selamatkan nyawaku dulu. Ginjal bisa diganti mesin, Mas. Orang hidup bertahun-tahun dengan mesin itu, aku pernah melihatnya sendiri." Ia berhenti sebentar, kemudian suaranya turun. "Tapi ibu untuk Langga tidak bisa diganti. Tidak ada mesinnya."
"Fin..."
"Jangan menawar. Jangan bilang 'jangan bicara begitu'. Cukup bilang kamu mengerti."
Revan memandang mata istrinya yang tenang. Terlalu tenang. Orang yang sudah berdamai dengan sesuatu yang belum selesai ia perdebatkan dengan dirinya sendiri.
"Aku mengerti," katanya serak. "Nyawamu dulu."
"Terima kasih."
"Dan aku mau kamu tahu satu hal juga, bukan sebagai syarat." Revan menahan napas. "Aku tidak akan setuju mengangkat apa pun kalau ada cara lain. Kalau dokter bilang ada cara lain, itu yang kupilih. Tapi kalau tidak ada, aku tidak akan ragu."
Fina memandanginya agak lama. "Itu jawaban yang bagus, Mas."
Di luar jendela kaca, matahari sore jatuh di atas atap-atap rumah sakit. Seorang perawat mendorong ranjang kosong melewati lorong. Revan tidak ingin melihat ranjang itu, dan ia tetap melihatnya.
•||•
Malamnya Langga menolak tidur sebelum dibacakan cerita. Revan duduk di tepi kasur dengan buku Kisah 25 Nabi bersampul hijau yang sudah lecek di sudut-sudutnya, buku yang dulu ia baca bersama Fina di malam yang ia anggap salah. Kini ia tahu itu malam yang paling benar.
Ia membaca tentang Nabi Yusuf, tentang sumur dan saudara-saudaranya yang iri. Ia membaca pelan, memberi nada pada tiap tokoh seperti yang pernah dilakukan Wira waktu Revan kecil. Langga mendengarkan dengan kacamata yang masih menempel di hidungnya karena lupa dilepas, dan Bima di ranjang tambahan sudah mendengkur halus.
Di halaman terakhir bab itu Revan berhenti. "Sisanya besok."
"Pa."
"Hm?"
"Terusin yang Nabi Ayub." Langga menatapnya. "Tapi nanti. Kalau Ibu sudah pulang."
Revan menutup buku itu perlahan, menaruhnya di dada. Ia ingin mengatakan sesuatu yang bijak, sesuatu yang bisa dipegang anak sembilan tahun, tetapi kepalanya kosong.
"Boleh," katanya. "Kita baca sama-sama. Ibu duduk di sini, Papa di sana."
"Janji?"
"Papa nggak bisa janji soal itu," kata Revan pelan. "Tapi Papa ada." Ia menepuk selimut di dekat kaki Langga dua kali.
Langga tersenyum, melepas kacamatanya sendiri, dan meletakkannya hati-hati di meja. Ia sudah tertidur sebelum Revan keluar dari kamar.
•||•
Fina menunggunya di kamar. Sajadah sudah terbentang, dua lembar bersisian dengan jarak yang cukup untuk tidak bersinggungan. Lampu meja menyala kuning, dan di tepi kasur terlipat sebuah sarung yang ia siapkan sendiri.
"Boleh kita sholat berjamaah?" tanya Revan dari ambang pintu, dan baru setelah mengucapkannya ia sadar bahwa pertanyaan itu sudah ia tanyakan berkali-kali dan jawaban Fina tidak pernah membuatnya bosan.
"Boleh."
Mereka sholat isya. Suara Revan sendiri terdengar asing di telinganya ketika membaca surat pendek, goyah di ujung ayat, dan Fina di belakangnya tidak mengoreksi. Pada sujud terakhir ia menekan dahinya ke sajadah lebih lama dari biasa, meminta dengan kata-kata yang tidak ia ucapkan keras-keras.
Ketika selesai, Fina duduk bersandar pada sisi ranjang. Wajahnya lelah.
"Mas." Ia menatap sajadah di pangkuannya. "Kalau aku tidak bangun, pilihlah bahagia."
"Kamu akan bangun."
"Mas..."
"Kamu akan bangun, Fin." Revan menatapnya. "Aku tidak mau mendengar kalimat itu dua kali."
Fina diam. Kemudian ia mengangguk kecil, dan tangannya yang tergeletak di atas sajadah bergeser sedikit, hanya satu sentimeter, ke arah Revan.
"Boleh aku pegang?" tanya Revan.
"Boleh."
Jemari Fina dingin dan lebih ringan dari yang ia ingat. Revan menggenggamnya dengan kedua tangan, seperti memegang burung kecil yang harus diterbangkan besok pagi. Mereka duduk begitu tanpa bicara, sampai jam dinding menunjukkan pukul sebelas.
"Boleh aku di kursi?" tanyanya akhirnya, menunjuk kursi di sudut kamar. "Malam ini saja. Aku tidak akan tidur nyenyak di mana pun."
"Boleh."
Revan menyeret kursi itu ke dekat ranjang. Ia duduk, melipat tangan di dada, dan memperhatikan Fina berbaring, memejamkan mata, dan akhirnya benar-benar tidur. Ia tidak tahu kapan ia sendiri terlelap.
Gedoran di pintu membangunkannya.
Tiga kali, keras, lalu lagi. Revan terlonjak, lehernya sakit, dan sesaat tidak tahu di mana ia berada. Jam di dinding menunjukkan pukul 03.50.
"Van!" Suara Reffa, tinggi dan pecah. "Revan! Buka! Ketuban Hasna pecah!"
Revan sudah berdiri sebelum otaknya memahami kalimat itu. Ia membuka pintu. Reffa berdiri di sana dengan daster dan rambut kusut. Di belakangnya, Hasna bersandar pada dinding lorong dengan satu tangan menekan perut, wajahnya pucat, dan di lantai di bawah kakinya ada genangan yang menetes pelan.