"Tasnya sudah di mobil," kata Reffa, suaranya serak tapi mantap, suara seorang ibu yang pernah melahirkan dan tahu persis berapa menit yang boleh dibuang. "Yang tertinggal cuma bantal. Hasna maunya bantal sendiri."
"Biar aku ambil." Revan sudah berbalik, lalu ingat ia masih memegang bahu Hasna. Ia mengeluarkan suara kasar dari tenggorokan, setengah umpatan setengah tawa. "Mbak Marni! Bantal Hasna di kamar tamu bawah, yang bersarung biru!"
"Enggih, Pak!" teriak Mbak Marni dari dapur, dan sesaat kemudian terdengar langkah berlari.
"Na, kamu bisa jalan?"
"Bisa." Hasna menarik napas lewat gigi. Keringat dingin menetes di pelipisnya, padahal lorong itu sejuk. "Pelan-pelan, Van. Aduh. Pelan."
Revan memapahnya menyusuri lorong sampai ke teras, setiap langkah seperti ujian kesabaran. Di depan, Mbak Marni sudah membukakan pintu dengan mata sembab dan rambut berantakan. Pak Ucup menunggu di samping mobil dengan mesin menyala dan pintu belakang terbuka lebar. Pria itu tidak berkata apa pun, hanya mengangguk pada Revan, dan Revan mengerti bahwa ia sudah bangun lebih dulu dari semua orang.
Hasna duduk di jok belakang dengan susah payah. Reffa naik dari sisi lain dan langsung menyelipkan bantal ke punggung putrinya. Setelah itu Reffa mengeluarkan ponsel dan menekan satu nomor tanpa membuka kontak, seolah sudah hafal.
"Dimas? Ketuban pecah. Jam empat kurang. Kamu tunggu di rumah sakit. Mobilmu masih di Bogor, jangan menjemput, Pak Ucup yang nyetir." Jeda. "Iya. Ibu tahu. Kamu juga hati-hati."
Hasna menahan lengan Revan sebelum ia menutup pintu. Genggamannya kuat sekali, kukunya hampir menembus kemeja.
"Kamu menyusul?"
Wajahnya di bawah lampu dalam mobil pucat dan basah oleh keringat. Revan menelan sesuatu yang besar di tenggorokannya.
"Aku menyusul."
"Janji."
"Aku di sana secepat aku bisa, Na."
Hasna menatapnya lama, kemudian melepaskan lengannya. Pintu menutup. Lampu belakang mobil menjauh sampai tikungan, menyisakan Revan sendirian di halaman dengan udara subuh yang lembap dan satu pertanyaan yang belum bisa ia jawab: bagaimana caranya berada di dua tempat sekaligus.
•||•
"Pergi, Mas."
Fina berdiri di ambang pintu rumah dengan gamis abu-abu dan bergo hitam pemberian Hasna, satu tas kecil di tangan. Wajahnya putih seperti kertas, tetapi punggungnya tegak. Rupanya ia sudah bangun, mungkin sejak gedoran pertama.
"Pergi sekarang. Susul Mbak Hasna."
"Aku antar kamu dulu."
"Mas, rumah sakitku arahnya lain. Itu empat puluh menit kalau lancar. Mbak Hasna lebih butuh."
"Operasimu jam tujuh lewat tiga puluh, Fin. Sekarang belum jam empat."
"Aku bisa naik taksi daring. Atau Papa..."
"Tidak." Revan berjalan mendekat, dan baru ketika berdiri di depannya ia sadar suaranya meninggi. Ia menurunkannya. "Maaf. Tidak. Aku tidak mau kamu ke ruang operasi sendirian. Aku tidak mau itu jadi kenangan kamu, Fin. Aku tidak mau itu jadi kenanganku."
"Aku tidak mau jadi alasan Mas terlambat."
"Kamu bukan alasan. Kamu istriku."
Kata itu keluar tanpa tambahan apa pun, tanpa 'juga', tanpa 'salah satu'. Fina menatapnya. Bibirnya bergetar sedikit, kemudian mengatup.
"Mas sudah janji sama Mbak Hasna."
"Dan aku akan menepatinya. Tapi aku juga bilang ke kamu bahwa aku akan mengantarmu sampai pintu." Revan menarik napas panjang. "Aku tidak akan berangkat sebelum kamu masuk, Fin. Kalau kamu menyuruh aku pergi sekali lagi, aku akan duduk di teras ini sampai kamu menyerah."
Dari tangga terdengar derak tongkat. Wira turun dengan jaket cokelatnya dan Ressie di sampingnya sudah berkerudung rapi, membawa tas kain dan botol air. Langga mengikuti di belakang mereka dengan piyama astronomi, kacamata miring, dan rambut menjulang di sisi kiri.
"Ada apa?" Ressie memandangi mereka bertiga. "Kenapa tidak berangkat?"
"Ketuban Hasna pecah, Ma. Dia sudah berangkat ke rumah sakit."
Ressie tertegun. Matanya melebar, kemudian cepat-cepat ia menekan bibirnya. "Kalau begitu kalian berangkat sekarang. Kami ikut kamu, Van. Langga juga."
"Aku juga ikut!" Langga menarik lengan baju Revan. "Papa, Langga nggak mau ditinggal."
"Tidak ditinggal. Kamu ikut Ibu."
Fina menunduk dan menatap Langga. Wajahnya melembut dalam sekejap. "Pakai jaket dulu, sayang. Di rumah sakit dingin."
•||•
Mobil kedua melaju lewat jalan yang masih lengang. Revan menyetir dengan kedua tangan di kemudi, mata bergantian ke spion dan ke jalan. Wira dan Ressie duduk di belakang dengan Langga di antara mereka, Fina di jok depan dengan sabuk terpasang dan tangan terlipat di pangkuan.
Tak seorang pun bicara untuk beberapa lama. Radio mati. Hanya suara ban di aspal dan sesekali dengung mesin ketika Revan menekan gas lebih dalam dari yang diizinkan.
"Mas." Fina memandang jalan. "Nanti kalau sudah sampai, jangan berdiri di sampingku dengan muka seperti itu."
"Muka apa?"
"Muka orang yang mau jatuh."
Revan melonggarkan rahangnya. Ia tidak tahu rahangnya mengeras sejak tadi. "Maaf."
"Aku mau Mas tersenyum. Sekali saja."
Ia mencoba. Hasilnya buruk, dan dari kaca spion ia melihat Langga menahan tawa.
"Papa kayak orang mau dicabut gigi," bisik Langga.
"Langga," tegur Ressie, tetapi suaranya bergetar menahan sesuatu yang bukan marah.
Langga memeluk buku gambarnya, yang entah kapan sempat ia bawa. Ia membukanya di pangkuan, menyalakan senter kecil dari ponsel Ressie, dan mulai menggoreskan pensil di halaman kosong. Wira memperhatikan dari samping, tidak berkomentar, hanya sesekali menggeser ibu jarinya di tongkat. Setelah beberapa menit Langga menutup bukunya dan menyodorkannya ke depan, ke arah Fina.
"Nanti dibuka kalau sudah di dalam, Bu. Jangan sekarang."
"Kenapa?"
"Soalnya belum selesai."
Fina menerima buku itu dengan dua tangan dan menaruhnya di pangkuan, di atas tas kecilnya. Ia tidak membukanya. Tetapi Revan melihat ibu jarinya mengusap sampul buku itu pelan-pelan, berulang kali, sepanjang sisa jalan.
Rumah sakit muncul sebagai deretan lampu putih di ujung jalan. Lobinya sepi, hanya satpam yang mengangguk dan seorang perawat yang sudah menunggu dengan kursi roda. Iqbal berdiri di belakangnya dengan jas putih di atas kemeja yang kancing teratasnya terlepas. Di sampingnya, dokter Hendra, kacamata tipis, ekspresi tenang yang entah kenapa tidak menenangkan.
"Selamat pagi, Bu Fina," kata dokter Hendra. "Kita mulai dengan pemeriksaan terakhir. Pak Revan, silakan ikut."
Ponsel di saku Revan bergetar pada saat itu. Layarnya menyala: Dimas.