"Dokter bilang harus sesar, Van."
Suara Dimas di telepon datar dan cepat, seperti orang yang membaca laporan sambil berjalan. Revan bergeser ke sisi lorong, menjauh dari kursi roda dan perawat yang sedang memasangkan gelang di pergelangan Fina. Lampu neon di atasnya berdengung.
"Kenapa? Tadi katanya normal."
"Tensinya naik lagi. Bayinya belum turun, dan dokter nggak mau nunggu lebih lama dari ini. Dijadwalkan jam delapan." Ada jeda, napas Dimas kasar. "Hasna manggil lo, Van. Dia nggak bilang apa-apa lain. Cuma manggil lo."
Revan menutup mata. Jam di dinding lorong menunjukkan pukul setengah enam lewat sedikit. Dari ujung lorong terdengar suara roda ranjang. Di belakangnya, Fina sedang dipindahkan dari kursi roda ke ranjang pasien, dan Ressie menopang punggungnya dengan wajah yang sangat berhati-hati.
"Gue... Dim, gue nggak bisa langsung."
"Gue tahu."
"Fina masuk kamar operasi jam tujuh lewat tiga puluh."
"Gue tahu. Reffa juga tahu. Lo jangan buru-buru ke sini sebelum lo yakin lo bisa." Dimas berhenti, lalu menambahkan lebih lembut, "Gue di sini. Hasna dipegang tangan sama ibunya dan gue bakal bilang ke dia lo lagi nyetir."
"Jangan bohong."
"Lo lagi nyetir. Gue bilang begitu sampai lo beneran sampai."
Telepon terputus. Revan menggenggam ponsel itu sampai bingkainya menekan telapak tangan. Seluruh tubuhnya menginginkan dua arah berlawanan, dan ia berdiri di tengahnya seperti tiang yang tidak boleh roboh.
"Mas."
Fina memanggilnya dari ranjang. Rambutnya yang ditutup bergo hitam sudah tertata, wajahnya kecil di atas bantal putih, namun sorot matanya lurus. Revan datang dan berdiri di sisi ranjang. Tanpa diminta, Fina menunjuk kursi di sampingnya, dan ia duduk.
"Dari Dimas?"
"Hasna harus sesar. Jam delapan."
Fina diam sebentar. "Dia manggil kamu."
"Iya."
"Tunggu aku masuk," ucap Fina. "Setelah itu pergi."
"Fin..."
"Aku tidak mau Mas memilih." Ia mengatakannya perlahan, memilih setiap kata seolah menaruh batu bata. "Kalau aku bilang pergi sekarang, nanti Mas merasa meninggalkan aku. Kalau aku bilang tinggal, Mas merasa meninggalkan Mbak Hasna. Dua-duanya salah, jadi aku tidak mau Mas memilih. Aku mau Mas membagi diri sebaik-baiknya."
"Aku tidak tahu caranya."
"Aku juga tidak tahu. Tapi Mas sudah pernah belajar bersikap adil dengan cara yang salah selama sembilan tahun, jadi Mas pasti bisa belajar dengan cara yang benar dalam satu hari." Ada kerutan geli yang samar di sudut mata Fina. "Bilang pada Mbak Hasna aku mendoakannya. Sungguh. Jangan bilang 'Fina titip salam', bilang aku mendoakan."
"Akan kubilang."
Dari balik gorden pemisah terdengar sepasang langkah kecil. Langga muncul di celah dengan jaketnya yang terkancing salah satu kancing, kacamata sedikit berembun, rambut jambul masih tegak. Ia berhenti di ujung ranjang, ragu, seperti anak yang baru menyadari kedalaman kolam.
"Ibu."
"Sini, sayang."
Langga merayap naik ke tepi ranjang dan memeluk Fina erat-erat, kepalanya terbenam di leher ibunya. Fina membelai punggung anak itu dengan satu tangan, tangan lain yang terpasang selang infus terangkat canggung.
"Ibu sudah buka bukunya?" bisik Langga di lehernya.
"Belum. Kata Langga jangan di jalan."
"Sekarang boleh."
Buku gambar itu masih di pangkuan Fina. Revan membantunya membuka halaman terakhir yang tidak kosong. Pensil Langga menggambar enam orang yang bergandengan di depan rumah: Papa dengan dasi, Ibu, Mama Hasna dengan perut besar, Bima, Kakek, Oma. Di tengah, lebih besar dari lainnya, Ibu memakai kacamata yang jelas terlalu bulat untuk wajahnya. Di langit ada matahari dengan garis-garis yang terlalu banyak.
"Kok Ibu pakai kacamata?" suara Fina nyaris tidak keluar.
"Di gambar boleh." Langga mengatakannya serius. "Nanti kalau Ibu pulang, Langga ajarin Ibu menggambar bayangan."
Fina memejamkan mata sebentar, kemudian tertawa kecil dengan air mata yang jatuh miring ke bantal. "Ibu pegang janji itu."
"Ibu." Langga melepaskan pelukan sedikit, menatapnya dari jarak dekat. "Jaga Papa."
"Siapa yang jaga Ibu kalau begitu?"
"Dokter. Papa jaga Dokter jaga Ibu." Langga mengerutkan dahi, berpikir keras. "Terus Langga jaga Papa jaga Dokter jaga Ibu."
"Rumit sekali."
"Tapi aman."
Revan tidak sanggup menatap mereka lebih lama. Ia memalingkan wajah, dan pandangannya jatuh pada Wira yang berdiri beberapa langkah dari ranjang, bertumpu pada tongkat, tidak bergerak. Orang tua itu memandangi Fina tanpa mengatakan apa-apa. Matanya merah dan bibirnya terkatup rapat, seperti seseorang yang sedang menghafal wajah yang ia takut tidak akan lihat lagi.
"Pa?" panggil Revan lirih.
Wira hanya menggeleng pelan. Bukan menolak. Hanya meminta tidak ditanya.
•||•
Pukul tujuh lewat dua puluh, dua perawat laki-laki datang dengan seragam hijau. Dokter Hendra mengikuti di belakang dan mengangguk singkat. Iqbal berdiri di dekat pintu dengan map di dada, mengamati monitor, wajahnya profesional sampai ke garis rahang.
"Kita jalan, Bu Fina."
Ranjang mulai bergerak. Revan berdiri dan menyusul di sisinya, tangannya otomatis terulur ke jemari Fina yang terkulai di tepi kasur. Ia berhenti sedetik di atas permukaan tangan itu, karena kebiasaan baru yang sudah mengakar.
"Boleh?"
"Boleh, Mas."
Ia menggenggamnya. Mereka melewati lorong panjang berlampu putih dengan roda ranjang yang berdecit halus, melewati pintu kaca, melewati tulisan merah yang tidak mau Revan baca. Langga berjalan di sisi lain dengan tangan di rel ranjang. Di belakang, langkah Wira dan Ressie terdengar seperti dua orang yang tidak ingin tertinggal.
Pintu ganda berwarna biru muda menanti di ujung lorong, dengan lampu kecil di atasnya yang menyala merah.
"Cukup sampai sini, Pak," kata salah satu perawat dengan lembut.
Revan tidak melepaskan tangan Fina. Ia memperhatikan wajah istrinya, bergo hitam dengan tepian krem, bibir yang tersenyum kecil, mata yang menatap lurus ke langit-langit. Perlahan, jemari Fina melepaskan genggamannya sendiri, satu per satu.
"Pergi, Mas," bisiknya.
Ranjang bergeser. Pintu biru muda terbuka, menelan Fina sampai ke bahu, ke kepala, ke ujung kaki. Lalu menutup dengan bunyi lembut yang jauh lebih keras daripada yang seharusnya.
Revan berdiri di depannya dengan telapak terbuka di udara.
"Pergi, Van!" Ressie mencengkeram lengannya dari belakang, suaranya pecah, wajahnya basah. "Biar Mama dan Papa di sini! Hasna menunggu kamu! Jangan sampai terlambat!"
Revan menatap ibunya, menatap Langga yang berdiri membeku di samping Wira, menatap pintu biru. Kemudian ia berlari.