Jalanan Jakarta pukul tujuh lewat tiga puluh lima sudah berubah wajah. Subuh yang lengang tadi berganti klakson, bus yang berhenti di tengah jalur, dan motor yang menyalip dari segala sisi. Revan menggenggam kemudi dengan kedua tangan dan menekan nomor Dimas lewat tombol di setir untuk yang ketiga kali.
"Gue nyetir," katanya begitu tersambung.
"Gue tahu. Lo kedengaran." Suara Dimas rendah, ada gema lorong di belakangnya. "Hasna lagi disiapkan buat masuk ruang operasi. Jam delapan lewat lima. Reffa nunggu di depan."
"Dia ngomong apa?"
"Waktu dipindah ke ranjang? Dia nanya lo di mana."
"Lo jawab apa?"
"Gue jawab lo lagi di jalan." Dimas berhenti sebentar. "Dan itu benar, kan?"
Revan tidak menjawab. Lampu merah di depannya menyala, dan ia menginjak rem terlalu keras sampai tubuhnya terdorong ke sabuk. Di kaca spion tengah, matanya sendiri tampak asing: merah, melebar, dengan garis lelah yang belum ia lihat bulan lalu. Ia membuka mulut hendak mengumpat, tetapi yang keluar justru doa pendek yang ia hafal sejak kecil dan hampir tidak pernah ia ucapkan dengan sungguh-sungguh. Ia mengucapkannya sekarang, dua kali, untuk dua orang di dua gedung berbeda.
"Van, lo masih di sana?"
"Masih. Gue kirim pesan tiap lampu merah."
"Jangan. Nyetir aja." Dimas menarik napas. "Masih jauh?"
"Satu jam. Macet."
"Oke. Gue turun ke lobi."
Panggilan berakhir. Lampu berubah hijau, dan Revan menekan gas.
•||•
Ia tiba pukul delapan empat puluh, melempar kunci mobil ke petugas valet tanpa menunggu karcis, dan berlari menyusuri lobi yang bau antiseptik dan bunga plastik. Dimas sudah berdiri di depan lift dengan kemeja yang sebagian keluar dari celana, rambut kusut, dan ekspresi yang tidak bisa Revan baca.
"Sudah?" Revan berhenti dengan napas terputus-putus.
"Delapan dua puluh." Dimas tersenyum. Bukan senyum lebar, tetapi sesuatu di wajahnya longgar seolah ada tali yang baru dilepas. "Perempuan. Sehat. Menangis keras banget sampai satu lorong denger."
Revan terdiam, dan lututnya hampir menyerah. Ia menahan diri dengan menumpukan tangan di dinding lift.
"Hasna?"
"Baik. Masih di ruang pemulihan, tapi dokter bilang tensinya turun dan semuanya terkendali." Dimas menatapnya. "Lo telat, Van."
"Gue tahu."
"Tapi lo nggak absen."
Lift terbuka. Mereka naik tanpa bicara. Di lantai empat Reffa menunggu di kursi tunggu depan ruang bayi, bahunya merosot dengan cara orang yang baru turun dari ketegangan panjang. Ketika melihat Revan, ia berdiri. Revan sudah menyiapkan diri untuk makian, untuk kalimat seperti di tangga darurat waktu itu, tetapi Reffa hanya menatapnya, mengangguk sekali, dan menunjuk pintu kaca dengan dagunya.
"Masuk. Dia nunggu ayahnya."
"Hasna bagaimana, Ma?"
"Mama lihat dia sebelum dibius. Dia tidak menangis." Reffa mengusap pipinya yang basah dengan ujung kerudung. "Tapi dia tanya tiga kali kamu sudah sampai atau belum. Tiga kali, Van. Mama hitung."
"Maaf, Ma."
"Jangan minta maaf ke Mama. Nanti, ke dia." Reffa menatapnya sebentar, lalu menambahkan lebih pelan, "Tapi terima kasih sudah datang."
Revan hanya mengangguk, karena tidak ada kalimat yang cukup.
Di balik kaca ruang bayi, deretan boks transparan berisi bungkusan kecil berselimut putih. Seorang perawat mengangkat salah satunya dengan gerakan terlatih, bergeser, dan membukakan pintu.
"Pak Revan? Silakan masuk. Cuci tangan dulu di sebelah sana."
Air mengalir dingin di tangannya. Ia menggosok telapak sampai kulitnya merah, tidak tahu berapa lama, sampai perawat berkata lembut, "Sudah bersih, Pak." Ia memasukkan lengan ke kain yang disodorkan, dan mendadak seorang bayi berada di lengannya.
Ringan. Itu hal pertama yang ia pikirkan. Lebih ringan dari bayangannya, sehingga ia refleks mengeratkan pegangan dan perawat tersenyum sambil menggeser tangannya agar menopang kepala kecil itu.
Wajahnya merah muda, kerut-kerut halus di sekitar mata, bibir yang membuka dan menutup seperti ikan kecil. Rambutnya hitam, lebat, menempel di dahi. Dan jari-jarinya, jari yang sama yang ia lihat di layar USG pekan-pekan lalu, kini nyata, menggenggam udara lalu menemukan ujung kelingkingnya dan memegang erat.
Revan menangis.
Bukan dengan isak. Air matanya keluar sendiri, jatuh ke selimut putih, dan ia tidak punya tangan bebas untuk mengusapnya. Ia teringat hari ketika Langga lahir, ketika ia datang dua hari kemudian dan hanya berdiri di pintu sepuluh menit, dan seluruh penyesalan itu datang dalam satu gelombang, sampai dadanya sakit. Bertahun-tahun lalu ia melewatkan ini. Hari ini ia berada di sini, dengan lengan yang terisi.
"Halo," bisiknya, suaranya tidak seperti suaranya. "Halo, kamu. Papa datang."
Bayi itu menguap, memperlihatkan gusi merah muda, dan kembali menutup mata.
"Anak Bapak sehat," kata perawat. "Tiga koma dua kilo. Panjangnya empat puluh delapan."
"Namanya?" tanya perawat lain di meja pendaftaran, pena sudah terangkat.
Revan memandang wajah kecil itu. "Saya belum tahu. Ibunya yang memilih."
"Tidak ada bayangan sama sekali, Pak?"
"Ada banyak. Tapi itu bukan hak saya dulu." Ia tersenyum miring, sedikit malu. "Istri saya sudah menyimpannya sejak lama. Saya cuma disuruh menunggu."
"Baik, kami tunggu."
Dimas berdiri di luar kaca. Revan menoleh ke arahnya, dan untuk sesaat dua pria itu hanya saling memandang melalui kaca tebal. Dimas mengangkat tangan setengah, lalu menurunkannya. Ia menunjuk ke arah koridor, memberi isyarat bahwa ia akan menunggu di sana. Bukan di dalam. Bukan di tempat yang bukan miliknya.
•||•
"Sudah boleh melihat ibunya," kata perawat setengah jam kemudian. "Tapi masih mengantuk karena obat. Bapak boleh duduk di dalam, jangan diajak bicara banyak."
"Saya tidak akan bicara."
"Itu yang semua bapak bilang, lalu semuanya bicara." Perawat itu tersenyum dan membukakan pintu.
Ruang pemulihan remang-remang, tirai biru menutup sebagian jendela. Hasna berbaring di ranjang dengan selang infus di lengan, selimut sampai dada, dan rambut yang sudah ditata oleh seseorang, mungkin Reffa. Wajahnya pucat, bibirnya kering, kelopak matanya tertutup.
Revan menarik kursi dan duduk. Ia tidak berani menyentuh. Ia hanya melihat dada Hasna naik turun dalam ritme yang panjang, lalu mengamati jari tangannya yang bebas dari infus, kuku pendek tanpa cat.
Hasna mengerutkan dahi sedikit. Napasnya berubah, lalu kelopak matanya bergetar dan terbuka perlahan. Pandangannya kabur ke langit-langit, mencari, dan akhirnya jatuh pada wajah di samping tempat tidurnya.
Matanya tidak kabur lagi.
"Kamu telat," kata Hasna.