Revan tiba di rumah sakit Fina pukul dua belas kurang sedikit, dengan kemeja yang basah di punggung dan satu sepatu yang talinya terlepas entah sejak kapan. Lobi terasa lebih sunyi dari tadi pagi. Di meja informasi seorang perawat menatapnya lama, lalu tanpa bertanya mengangkat telepon dan berbicara pelan.
Iqbal muncul dari lorong operasi beberapa menit kemudian. Jasnya kusut, ada bekas garis tipis di pipinya seperti tertekan masker terlalu lama. Ia tidak berbasa-basi.
"Pak Revan. Ini berkasnya."
Map itu hanya berisi dua lembar. Revan membaca kalimat pertama, lalu kalimat kedua, dan baru pada kalimat keempat ia menyadari bahwa ia membaca hal yang sama untuk ketiga kalinya. Pulpen yang disodorkan Iqbal terasa seperti benda asing. Ia menandatangani dengan tangan bergetar sampai garisnya patah di tengah huruf R.
"Sudah?" tanyanya.
"Sudah, Pak." Iqbal menerima map itu, menahan sejenak. "Persetujuan Bapak sudah dicatat sejak tadi lewat telepon. Berkas ini hanya penegasan. Bapak tidak perlu cemas soal itu."
"Saya tidak cemas soal itu. Saya cemas soal dia."
Iqbal memandangnya sebentar, dan di wajah dokter itu terlintas sesuatu yang cepat ditutup rapat. "Saya tahu."
"Dia bagaimana?"
"Dokter Hendra masih menangani. Belum ada kabar baru, dan saya tidak mau memberi kabar yang belum pasti." Iqbal menunduk sedikit. "Ruang tunggu di sebelah sana. Keluarga Bapak sudah di situ."
Revan berjalan ke arah yang ditunjuk. Kakinya baru terasa gemetar ketika ia sadar tak ada lagi yang harus dikejar.
•||•
Ruang tunggu lantai tiga berbentuk persegi panjang, dengan deretan kursi biru yang menghadap jendela besar tanpa pemandangan apa-apa selain tembok gedung sebelah. Ressie duduk di ujung paling dekat pintu, punggung lurus, tas di pangkuan. Wira di sampingnya, tongkat bersandar di lutut, mata terpejam, bibir bergerak halus. Langga duduk di kursi paling jauh dengan buku gambarnya terbuka di pangkuan dan pensil di tangan.
"Papa!"
Langga melompat, buku gambar jatuh ke lantai. Ia menabrak pinggang Revan dengan kepala dan memeluknya erat.
"Mama Hasna sudah punya bayi?" bisiknya, dan Revan tidak berpikir ia bisa menjawab sebanyak itu sambil berdiri.
"Sudah. Perempuan. Sehat."
"Namanya siapa?"
"Kirana."
"Bagus." Langga mengangguk serius, seperti penilai lomba. "Itu artinya cahaya. Langga pernah baca di buku nama bayi punya Oma Ressie."
"Kamu baca buku nama bayi?"
"Soalnya Bu Laila bilang orang harus membaca yang kecil-kecil supaya nggak malas." Langga mundur sedikit dan memandang wajah Revan lekat-lekat dari balik kacamatanya. "Papa tadi lari, ya? Napas Papa bunyi."
"Iya."
"Ibu belum keluar."
"Belum."
"Ya sudah." Langga mengambil buku gambarnya dan menepuk sampulnya dua kali, gerakan kecil yang entah ia tiru dari siapa. "Kita tunggu."
Ia kembali duduk. Revan menyusul dan duduk di kursi di sebelahnya. Ressie tidak berkata apa-apa, hanya menggeser tasnya sedikit memberi ruang, dan menatap lurus ke jendela.
Waktu berjalan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Jam dinding mencatat dua belas, dua belas empat puluh, satu lewat seperempat. Seorang perawat melintas dua kali, menjawab "belum" tanpa diminta. Revan membuka ponsel, membaca pesan Dimas yang masuk sejak tadi: foto Kirana di boks bayi, dengan satu kalimat: Hasna tidur. Reffa tidur. Gue jaga. Fokus ke Fina.
Ia membalas dengan satu kata, terima kasih, dan menyimpan ponselnya.
Pukul dua siang, pintu ruang tunggu terbuka dan Pita masuk dengan kerudung miring dan kantong plastik besar di kedua tangan. Napasnya terengah.
"Bos Revan!" serunya, lalu menutup mulut dengan punggung tangan ketika melihat wajah-wajah di ruangan. "Maaf. Pita tadi telepon Mbak Marni, katanya Mbak Fin... Pita langsung tutup toko. Ini nasi kotak. Nggak tahu siapa mau makan. Tapi Pita bawa saja."
"Duduk, Pit," kata Revan.
Pita meletakkan kantong, duduk di kursi paling pinggir, dan dalam beberapa detik air matanya mengalir tanpa suara. Ia menyeka dengan ujung kerudung berkali-kali. "Mbak Fin kuat, Bos. Mbak Fin itu kuat banget. Pita kerja sama Mbak Fin, Pita tahu, Mbak Fin yang..."
"Pita."
"Iya, Bos."
"Aku tahu."
Pita mengangguk sambil terisak. Langga bangkit, mengambil satu kotak nasi, dan menyodorkannya pada Pita. "Makan, Mbak Pita. Kata Ibu orang nangis harus makan supaya nangisnya ada tenaga."
Itu cukup untuk membuat Ressie, di ujung sana, mengeluarkan bunyi aneh dari tenggorokan, setengah tawa setengah isak, dan memalingkan wajah ke jendela.
•||•
Pukul empat tiga puluh, pintu ganda di ujung lorong membuka. Dokter Hendra keluar lebih dulu, masih dengan penutup kepala hijau dan masker yang digantung di leher. Wajahnya letih, namun tenang, ketenangan yang membuat Revan berdiri sebelum ia sempat menyuruh dirinya sendiri.
"Keluarga Ibu Safina."
Mereka mengitarinya. Revan di depan, Ressie di kiri dengan tangan mencengkeram lengannya, Wira berdiri dengan tongkat, dan Langga menyelip di antara pinggang orang dewasa, tangan di kemeja Revan.
"Operasinya selesai," kata dokter Hendra. Suaranya ringkas, tidak ada hiasan. "Pendarahan tadi sudah terkendali. Kami tidak perlu mengangkat seluruh ginjal. Sebagian berhasil dipertahankan."
Ressie menjerit pendek, lalu menutup mulut dengan kedua tangan. Revan merasakan lututnya mengendur dan ia menumpukan satu tangan ke dinding.
"Tapi," lanjut dokter itu tanpa menurunkan nada, "Bu Fina kehilangan cukup banyak darah. Beliau kami pindahkan ke ICU untuk dipantau ketat. Dua puluh empat sampai empat puluh delapan jam ke depan adalah masa yang menentukan. Saya tidak akan mengatakan beliau sudah aman, karena belum. Tapi kondisinya stabil, dan itu kabar baik."
"Boleh kami lihat?" tanya Revan.
"Satu orang, sebentar, nanti setelah perawat selesai. Bukan hari ini untuk yang lain."
"Ibu bangun kapan?" tanya Langga.
Dokter Hendra menunduk, menatap bocah itu dari balik kacamata tipisnya. "Kami berharap besok, Nak. Tapi tubuh ibumu yang memutuskan. Kami hanya membantu."
"Ibu kuat," kata Langga.
"Ya." Dokter itu tersenyum sedikit, pertama kali sepanjang hari. "Itu terlihat."
Ia menjabat tangan Revan, mengangguk kepada yang lain, lalu berbalik dan hilang di balik pintu ganda.
Revan masih menatap pintu itu ketika terdengar bunyi tongkat jatuh ke lantai. Ia menoleh. Wira terhuyung, satu tangan menggapai bahu Ressie, lalu dengan bantuan Pita ia berhasil duduk di kursi biru terdekat. Wajahnya putih. Keringat dingin menetes di pelipis dan tangannya yang gemetar meraih lengan Revan.
"Van."
"Pa, jangan banyak bergerak. Duduk saja, aku panggil perawat..."
"Van." Wira menatap Revan, dan tangan tua di lengan Revan itu bergetar sampai kukunya menekan kulit. "Papa harus bilang sesuatu. Sekarang."