"Pa, nanti saja," kata Revan. Ia berlutut di depan kursi biru itu dan menggenggam tangan ayahnya yang dingin dan basah. "Papa harus minum dulu. Aku panggil perawat."
"Tidak." Wira menggeleng pelan, tapi matanya tidak mau lepas dari wajah Revan. "Kalau Papa tunggu lagi, Papa tidak akan pernah berani. Lama sekali Papa menunggu."
Ressie sudah berdiri di sisi suaminya. Tasnya jatuh ke lantai tanpa ia sadari. "Pa, ada apa? Jangan bikin Mama takut."
Revan menoleh. Langga duduk dua kursi dari mereka, buku gambar terbuka di pangkuan, pensilnya berhenti di udara. Anak itu tidak menatap mereka. Justru itu yang membuat Revan tahu ia mendengar semuanya.
"Pit," panggil Revan.
Pita mengangkat wajah dari kotak nasinya. "Iya, Bos?"
"Tolong ajak Langga ke kantin. Belikan susu cokelat."
"Langga nggak haus," kata Langga.
"Langga." Revan memaksa suaranya lembut. "Papa janji, Papa cerita nanti. Sekarang Kakek perlu bicara sama Papa dan Oma saja."
Langga memandangnya lama dari balik kacamata. Lalu ia menutup buku gambar, menepuk sampulnya dua kali, dan turun dari kursi. Ia menggandeng tangan Pita tanpa bicara. Di pintu ia menoleh sekali, seperti menghitung sesuatu.
Pintu menutup. Wira menarik napas yang terdengar berat sampai ke tulang.
"Bukan di sini," katanya. "Ada ruangan kecil di ujung."
Ruangan itu berisi dua sofa vinil, dispenser air, dan jendela yang menghadap lorong ICU. Lampunya putih dan terlalu terang. Ressie duduk di sofa dengan punggung kaku. Wira tetap berdiri bersandar pada tongkat, seperti orang yang takut kalau duduk ia tak bisa melanjutkan.
"Dulu sekali," kata Wira. "Sekitar setahun sebelum kamu menikah dengannya."
"Menikah dengan Fina," ucap Revan.
"Ya." Wira menelan ludah. "Waktu itu ginjal Papa sudah tidak bekerja. Dua kali sepekan Papa cuci darah di rumah sakit di Bandung. Kalian ingat Papa bilang kontrol rutin?"
"Papa bilang kontrol rutin," kata Revan. Suaranya terdengar jauh. "Aku percaya."
"Papa memang ingin kamu percaya." Wira menatap lantai. "Mama kamu, Om Adi, saudara-saudara Papa, semua dites. Ada yang tidak cocok, ada yang tidak sanggup. Kamu tidak Papa izinkan dites. Kamu baru mulai bekerja dan Papa pikir lebih baik Papa yang pergi daripada anak Papa kehilangan satu ginjal."
"Pa," bisik Ressie.
"Dengar dulu, Ma." Wira mengangkat tangan sedikit. "Waktu itu ada relawan di rumah sakit. Mahasiswi tingkat akhir, berkerudung, kurus. Ia sering duduk menemani pasien yang tak ada keluarganya. Kadang membacakan koran, kadang hanya duduk. Papa tidak ingat kapan ia mulai menemani Papa. Namanya Safina."
Revan tidak bergerak.
"Ia yang bertanya kepada dokter apakah ginjalnya mungkin cocok. Tak seorang pun menyuruhnya, tak seorang pun membayarnya. Hasil tesnya cocok." Wira mengusap mata dengan punggung tangan yang bergetar. "Papa menolak. Papa bilang ia masih muda, Papa sudah tua. Ia bilang, Pak, saya masih punya satu lagi."
Ressie menutup mulut dengan kedua tangan.
"Ia hanya minta satu hal," lanjut Wira. "Namanya dirahasiakan. Mama diberi tahu cuma 'donor sukarela'. Papa baru tahu namanya setelah pulih, Van. Papa cari. Papa temukan ia di Bandung, sendirian, tanpa siapa-siapa. Papa tanya mengapa ia tidak minta apa pun. Ia bilang, Pak, saya cuma tidak mau Bapak mati."
"Kenapa Papa tidak pernah bilang?" tanya Revan. Pertanyaan itu keluar lebih kasar daripada yang ia niatkan, dan ia melihat ayahnya meringis seperti ditampar.
"Karena ia memintanya. Dan karena Papa pengecut." Wira menggeleng lambat. "Papa pikir kalau Papa menikahkan kamu dengannya, Papa bisa membayar sedikit. Papa salah, Van. Orang yang memberi tanpa minta tidak bisa dibayar. Ia cuma bisa dijaga. Dan Papa menyerahkan penjagaan itu kepada anak yang tidak mau menjaganya."
Lorong di luar jendela itu sepi. Seorang perawat melintas membawa nampan, lalu hilang.
Ressie bangkit dari sofa. Ia melangkah satu kali, dua kali, lalu lututnya lemas dan ia jatuh terduduk di lantai dengan rok mengembang di sekelilingnya. Revan belum pernah melihat ibunya duduk di lantai.
"Aku menyebutnya kampungan," kata Ressie. Suaranya pecah, setiap kata keluar seperti dicabut. "Aku suruh dia pulang. Aku sodori amplop. Sementara ginjal yang hidup di tubuh suamiku..."
Ia tidak sanggup menamatkan kalimatnya. Wira meletakkan tongkat dan akhirnya duduk di lantai di samping istrinya. Satu tangan tuanya menyentuh bahu Ressie, dan perempuan yang selalu berdiri tegak itu menjatuhkan dahinya ke dada suaminya.
Revan mundur. Ia tidak tahu apakah ia berjalan atau didorong. Ia hanya tahu ia harus keluar dari ruangan yang cahayanya terlalu terang itu.
•||•
Di ujung lorong ICU ada jendela kaca lebar dengan tirai yang disingkap setengah. Dari sana ia bisa melihat satu ranjang, satu tubuh kecil di bawah selimut biru muda, selang, kabel, layar hijau yang berkedip.
Revan menempelkan telapak tangannya ke kaca. Dingin.
Bekas luka di pinggang kiri. Pintu pantry yang tidak rapat, blus yang tersingkap, wajahnya yang ia palingkan cepat-cepat. Bekas lama, jangan tanya sekarang, kata Fina waktu itu. Aku lahir dengan dua ginjal, kata Fina di tangga rumah sakit. Papa sudah janji, bisik Fina kepada ayahnya.
Semua potongan itu sudah lama ada di tangannya. Ia hanya tidak mau menyusunnya.
Ia teringat malam-malam ketika Fina pulang dari toko dan memijat pinggangnya sendiri sambil membelakangi pintu. Ia teringat tangan yang mengaduk teh hijau tanpa pernah mengeluh, tangan yang sama yang dulu rela dibedah demi orang asing. Ia teringat Fina menenangkan Langga dengan kalimat yang sama setiap kali kecewa: kalau tidak berharap pada manusia, tidak akan kecewa. Kalimat itu bukan datang dari kebijaksanaan. Kalimat itu datang dari seseorang yang sudah memberi segalanya dan tidak pernah menerima apa-apa. Ia teringat dirinya sendiri, dulu, lebih peduli pada ponsel daripada pada seorang istri yang tidak pernah menagih apa pun.
Dan sekarang istri itu terbaring di balik kaca dengan sisa satu ginjal yang kini dipotong separuh.
"Fin," katanya tanpa suara. "Kenapa kamu tidak bilang?"
Kaca tidak menjawab. Layar hijau di dalam terus berkedip, garis yang naik dan turun dengan setia.
Sebuah suara kecil terdengar dari belakang.
Revan menoleh. Langga berdiri di tengah lorong. Pita tak kelihatan. Tangannya memeluk buku gambar di dada, dan susu cokelat dalam kotak kecil tergenggam di tangan yang satunya, sudah tertusuk sedotan tapi belum diminum. Napasnya pendek-pendek, seperti baru berlari.
"Papa," katanya. "Langga tadi nggak sengaja dengar."
"Langga, kamu seharusnya..."
"Langga bilang mau ke toilet, terus balik. Pintunya nggak ditutup rapat." Langga melangkah dua langkah mendekat. Matanya besar di balik kacamata. "Kakek bilang Ibu kasih ginjal. Ke Kakek."
Revan tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya berlutut.
"Papa," ulang Langga, lebih pelan, suaranya bergetar di ujung. "Ibu dulu kasih ginjalnya ke Kakek? Terus yang di dalam situ, yang dipotong dokter, itu ginjal Ibu yang terakhir?"