Hasna sudah duduk di teras belakang sejak pukul tiga, satu jam lebih awal dari yang ia katakan. Ia ingin memastikan tidak ada yang akan melihatnya gugup.
Kursi kayu di tepi kolam itu keras, tapi ia memilihnya karena dari sini ia bisa melihat pintu kaca dan tidak terlihat dari dapur. Kirana tidur di lengannya, mulut kecilnya mengerut, sesekali bergerak seakan menyusu dalam mimpi. Air kolam memantulkan cahaya sore yang jingga. Di kursi sebelah ada cangkir teh yang sudah dingin; Marni yang menaruhnya tadi tanpa bertanya.
Hasna meraba rantai kecil di lehernya. Cincin kawin itu tergantung di ujungnya, bergeser di antara kain gamis dan kulit, hangat oleh tubuhnya sendiri. Sudah lama ia tidak memakainya di jari karena bengkak, lalu ia lupa betapa ia sebenarnya tidak merindukannya.
Aku bisa berhenti sekarang, pikirnya. Aku bisa bilang aku salah hari. Aku bisa tersenyum dan bilang aku cuma capek.
Ia teringat Revan di ruang pemulihan, tangan menggenggam tangannya sementara ponselnya bergetar. Ia teringat wajah itu ketika mendengar kata ginjal. Ia teringat bagaimana pria itu tidak pernah, sekali pun dalam seluruh perjalanan hari itu, melihat ke arahnya dengan wajah orang yang menyesal karena harus pergi. Wajah itu penuh sesuatu yang lain. Wajah orang yang akhirnya tahu ke mana ia harus pulang.
Dan Hasna tahu persis wajah itu bukan wajah yang pernah ditujukan kepada dirinya.
"Kita bisa," bisiknya pada bayi di lengannya. "Kita bisa, Sayang. Mama janji."
Pintu kaca bergeser.
•||•
Revan berdiri di ambang dengan kemeja yang sudah ganti dan rambut yang basah. Mungkin ia mandi di rumah sakit, mungkin tadi, entah. Ia terlihat lebih baik dari Jumat, tapi mata itu masih menyimpan malam-malam tanpa tidur.
"Aku terlalu awal," katanya.
"Aku yang terlalu awal. Duduk."
Revan duduk di kursi sebelah. Cangkir teh dingin itu bergeser ke ujung meja karena tangannya. Mereka diam sebentar. Air kolam berdecak halus di tepinya.
"Kirana pakai kain gendongan itu terus?" tanya Revan.
"Dia suka detak jantung." Hasna tidak menoleh. "Aku mau cerai, Van."
Kalimat itu keluar lebih mudah daripada yang ia bayangkan. Ia sudah menyiapkan sepuluh pembukaan yang lebih lembut dan ternyata semuanya tidak perlu.
Revan tidak bergerak. Ia tidak bertanya, "Apa?" Ia hanya menatapnya, dan di wajahnya, Hasna melihat kejutan yang sangat kecil, hampir seperti kejutan orang yang menunggu pukulan lalu mendengar pintu terbuka.
"Kenapa?" katanya akhirnya. Pelan.
"Karena aku tidak mau punya suami separuh." Hasna memperbaiki letak Kirana di lengannya. "Aku bukan marah. Aku sudah lewat marah. Aku mau dipilih utuh atau tidak sama sekali, Van. Dan hari Kamis itu aku sadar, kamu sudah memilih sebelum aku bertanya. Kamu cuma tidak tega bilang."
"Na, aku..."
"Jangan bilang kamu tidak memilih." Ia mengangkat satu tangan. "Aku tidak bodoh. Kamu lari ke Fina sampai pintu operasi, lalu lari ke aku. Kamu menepati dua janji sekaligus dan aku bangga padamu karena itu. Sungguh. Tapi aku juga lihat siapa yang kamu tangisi di lorong."
"Aku menangis untuk keduanya."
"Iya." Hasna tersenyum, kecil dan letih. "Itu yang paling menyakitkan. Kamu orang baik, Van. Kamu menangis untuk keduanya dan itu jujur. Tapi kamu cuma bisa pulang ke satu."
"Sejak kapan kamu memutuskan?" tanyanya.
"Senin lalu, di kamar Fina." Hasna menunduk menatap Kirana. "Bayiku menggenggam jarinya dan tidak mau lepas. Aku iri, Van. Tapi bukan karena Fina merebut sesuatu dariku. Aku iri karena dia bisa memberi tanpa menghitung, dan aku tidak pernah bisa. Aku mau belajar itu, dan aku tidak bisa belajar itu sambil menghitung berapa jam kamu di kamarnya dan berapa jam kamu di kamarku."
Revan memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya, matanya merah. "Kalau aku menyelesaikan semuanya? Kalau aku bilang aku akan belajar? Untuk Kirana, untuk Bima. Anak-anak berhak punya rumah yang utuh."
"Rumah yang utuh itu bukan yang cuma berdiri." Hasna menatap bayi di lengannya. "Kirana punya Papa seumur hidup. Aku tidak mau dia tumbuh melihat Mamanya menunggu. Duduk di teras, pura-pura membaca, lalu bangun kalau mobil masuk. Aku sudah bertahun-tahun begitu, Van. Aku tidak akan membuat dia belajar itu dari aku."
Revan tidak menjawab. Ia memandang kolam, dan Hasna tahu tidak ada yang bisa ia bantah.
"Ini bukan karena Dimas," lanjut Hasna.
"Aku tidak bilang apa-apa."
"Mama sudah menyebut namanya sepuluh kali di mobil minggu lalu. Aku tahu orang-orang akan berpikir begitu." Ia mengangkat dagu. "Dimas tidak minta apa pun dan aku tidak memberi apa pun. Ini keputusanku. Kalau suatu hari aku jatuh cinta lagi, itu urusan lain, dan bukan sekarang."
Revan mengangguk. Satu kali, pelan.
"Fina sudah tahu?" tanya Revan.
"Belum. Kamu yang bilang, besok." Hasna menatapnya tajam. "Dan jangan sampai dia mengira ini karena dia. Kalau dia merasa begitu, kamu yang harus membereskan."
"Aku akan bilang."
"Syaratnya," ulang Hasna.
"Apa pun."
"Jangan bilang apa pun sebelum dengar." Ia menegakkan duduk. "Pertama, nafkah untuk Kirana dan Bima sampai mereka mandiri, bukan sekadar sampai mereka cukup umur. Kedua, Bima tinggal bersamaku. Kamu boleh menemuinya kapan saja, tidak perlu minta izin Mama, tidak perlu telepon dulu. Tiap akhir pekan kalau dia mau, dan dia mau, aku tahu. Ketiga, Langga. Dia boleh datang ke rumahku nanti seperti ke rumahnya sendiri. Bima tidak boleh tumbuh tanpa kakaknya."
"Itu semua..." Suara Revan tercekat. "Itu semua kupikir bahkan tidak perlu diminta."
"Aku tahu. Tapi aku mau kamu dengar aku mengatakannya."
Kirana menggeliat di kain gendongan, membuka mulut menguap sebesar bunga mawar, lalu tidur lagi. Hasna menunduk, mengusap pipinya dengan ujung jari. Gerakan itu seluruhnya lembut. Ia tidak sedang berpura-pura tegar. Ia hanya melakukannya sambil melepaskan sesuatu.
"Boleh aku gendong dia?" tanya Revan.
Hasna menatapnya sedetik, lalu menyerahkan bayi itu. Revan menerimanya dengan dua tangan, seperti membawa air penuh. Ia menatap wajah kecil itu lama sekali.
"Aku minta maaf, Na."
"Jangan." Hasna menggeleng. "Jangan sekarang. Aku tidak mau permintaan maafmu jadi hadiah perpisahan."
Revan mengangguk, dan bayi itu mengerut dalam tidurnya.
Hasna berdiri. Ia merapikan gamis, menarik napas yang tidak menyakitkan lagi, dan berjalan ke pintu kaca. Di ambang ia berhenti, tidak menoleh.
"Jaga Fina."