Tik. Tik. Tik.
Dua jarum bambu bergerak lambat di tangan Fina, menyeret benang merah muda pucat lewat simpul demi simpul. Revan berdiri di ambang pintu ruang rawat sambil memegang dua gelas teh hijau dari kantin, dan tidak ingin mengganggu bunyi itu. Sudah sehari semalam ia menunggu waktu yang pantas untuk bicara, dan ia baru sadar waktu yang pantas tidak pernah datang sendiri.
"Mas berdiri di situ seperti satpam," kata Fina tanpa mengangkat mata.
"Aku bawa teh."
"Letakkan di meja. Dan duduk."
Ia duduk di kursi di samping ranjang. Selimut rajut itu sudah tampak jadi, lebar kira-kira sejengkal lagi, dengan tepi bergelombang halus yang Fina bilang disengaja. Pagi ini rambutnya, yang masih hanya bayang pendek di kulit kepala, tertutup bergo hitam bertepi krem. Wajahnya lebih berwarna. Sedikit saja.
"Kemarin sore aku ke rumah," kata Revan. "Bicara dengan Hasna."
Jarum-jarum itu berhenti.
"Hasna mau kami berpisah," lanjutnya. "Ia yang minta. Bukan karena marah. Katanya ia tidak mau punya suami separuh."
Hening. Dari lorong terdengar roda troli dan seorang perawat tertawa kecil. Fina meletakkan rajutan di pangkuannya, pelan, seakan benda itu bisa pecah.
"Dia bilang apa tentang aku?"
"Dia bilang, jangan sampai kamu mengira ini karena kamu."
"Itu sebagian karena aku." Fina memandang selimut di pangkuannya. "Sedikit. Tapi itu bukan salahku, dan aku tidak akan minta maaf untuk itu."
"Aku tidak minta kamu minta maaf."
"Aku tahu." Ia mengangkat wajah. Matanya jernih dan tenang. Jauh lebih tenang daripada yang Revan duga. "Mas, dengar aku. Aku tidak mau jadi alasan Mbak Hasna kalah. Kalau Mas menahannya hanya karena aku sakit, itu menghinanya. Dia perempuan yang mengambil keputusan dengan mata terbuka. Menahan dia karena kasihan sama aku sama saja bilang dia tidak sanggup berdiri sendiri."
"Aku tidak menahan."
"Mas belum tahu itu." Fina menarik napas, dan sesaat Revan melihat sosok yang ia kenal sejak tahun-tahun pertama pernikahan mereka: perempuan yang selalu mengerti apa yang dibutuhkan orang lain tepat sebelum orang itu mengerti sendiri. "Mas akan dibujuk Mama, dibujuk Tante Reffa, dibujuk perasaan bersalah Mas sendiri. Jangan. Biarkan dia pergi dengan kepala tegak. Hanya itu yang bisa Mas kasih padanya yang belum pernah Mas kasih."
Revan menatap tangan Fina yang diam di atas selimut. Ia ingin mengatakan banyak hal. Ia memilih yang paling pendek.
"Aku tidak akan menahan."
"Bagus." Fina meraih jarum lagi. "Sekarang diam dulu, aku mau selesaikan satu baris. Kalau tidak, aku akan menangis, dan aku tidak mau menangis sebelum selesai."
Beberapa menit berlalu. Satu baris selesai, lalu satu lagi. Pada baris ketiga, setetes air jatuh di punggung tangan Fina dan ia mengusapnya dengan ibu jari tanpa menghentikan jarumnya.
"Bima bagaimana?" tanyanya, suaranya ditahan rata.
"Ikut Hasna. Aku bisa menemuinya kapan saja."
"Dan Langga boleh ke sana." Itu bukan pertanyaan. Fina sudah menebaknya. "Mbak Hasna orang yang adil dengan anak-anak. Dulu aku tidak mau mengakui itu."
Tik. Tik. Tik. Revan duduk mendengarkannya, dan ponselnya bergetar di saku. Pesan Hasna: Boleh bilang Dimas. Dia berhak dengar dari kamu, bukan dari Mama.
•||•
Kafe di sudut jalan itu masih sama. Meja kayu yang sama, kursi yang sama, bau kopi yang menempel di tembok seperti ingatan. Tempat Revan duduk pada sore ketika ia mengaku kepada Dimas bahwa ia mencintai Fina, dan Dimas membentaknya serakah.
Revan sengaja datang lebih awal untuk memesan dua gelas dan menaruhnya di meja, supaya ia punya sesuatu untuk dipandangi. Tetapi Dimas lebih awal lagi. Ia sudah di sana, di meja pojok, dengan teh chamomile di depannya yang belum disentuh. Ia berdiri ketika Revan masuk, tidak tersenyum, tidak mengulurkan tangan, hanya menunggu sampai Revan duduk.
"Hasna minta cerai," kata Revan. Tidak ada gunanya berputar. "Aku tidak menolak. Ia yang meminta, dan ia bilang boleh gue sampaikan ke lo."
Dimas tidak bergerak. Dari raut mukanya, Revan tidak bisa membaca apakah ini kabar yang ia tunggu atau kabar yang ia takuti. Mungkin keduanya.
"Gue turut sedih," kata Dimas akhirnya.
"Lo serius?"
"Serius." Dimas mengaduk tehnya yang tak diminum. "Gue memang mencintai dia dari SMA, Van. Tapi gue nggak pernah berharap lo gagal. Gue berharap lo jadi suami yang pantas. Waktu itu gue marah karena lo mengambil dua perempuan dan memberi masing-masing separuh. Gue nggak pernah ingin salah satunya pergi dengan luka."
"Dia pergi dengan kepala tegak."
"Itu bukan hasil kerja lo."
Revan menerimanya begitu saja. "Bukan."
Dimas menatapnya sebentar, dan sudut matanya melunak. "Maaf. Gue lagi nggak adil."
"Lo berhak."
Hening. Seorang pelayan melintas membawa nampan, melirik mereka berdua, lalu pura-pura sibuk.
"Gue nggak akan mendekat," kata Dimas. Suaranya datar dan terukur, seperti orang yang sudah membaca kalimat itu berulang-ulang di kepalanya. "Setidaknya sampai masa tunggunya selesai. Setidaknya sampai Hasna sendiri yang bilang dia siap. Dan mungkin dia nggak akan pernah bilang. Mungkin bertahun-tahun, mungkin tidak sama sekali. Gue bisa hidup dengan itu."
"Lo yakin?"
"Gue sudah hidup dengan yang lebih buruk. Gue melihat dia menikah, Van. Gue berdiri paling belakang di pelaminan. Menunggu itu masih lebih ringan."
Revan menarik map cokelat dari tasnya dan menaruhnya di tengah meja. Map itu tipis, tapi ia bisa merasakan bobot yang tidak sebanding dengan tebalnya.
"Apa itu?"
"Jadwal kontrol Hasna sesudah sesar. Jadwal imunisasi Kirana, nomor dokter anak, nomor dokter kandungannya. Rumah sakit tempat dia melahirkan, nomor kamar kalau-kalau perlu." Revan menelan ludah. "Semua ada di situ. Gue yang bayar. Lo yang antar, kalau Hasna mau."
"Kalau Hasna mau."
"Kalau dia mau. Kalau tidak, ya sudah, dia pakai taksi atau Mama atau diri sendiri, tapi gue mau dia punya pilihan. Dan lo satu-satunya yang gue percaya untuk tidak memanfaatkannya."
Dimas menatap map itu. Ia tidak menyentuhnya untuk waktu yang lama. Kemudian ia mengulurkan tangan, menarik map itu ke sisinya, dan menaruhnya di pangkuan tanpa membukanya.
"Gue simpan," katanya. "Tapi gue nggak akan baca dulu. Biar dia yang kasih tahu kapan."
"Jadi lo mau apa?"
Dimas menghela napas, dan baru sekali hari itu ia tersenyum, kecil, sama sekali tanpa gembira.
"Gue jadi teman keluarga dulu."