Minggu, lima hari sesudah Revan menyerahkan map itu kepada Dimas, kapur putih membuat huruf-hurufnya terlalu besar. IBU PULANG, tulis seseorang di paving halaman, dengan bentuk U yang miring dan tanda seru yang berubah menjadi bunga. Di sampingnya ada gambar rumah, matahari bermata dua titik, dan sesuatu yang kemungkinan besar adalah kuda.
"Boleh Mas pegang lenganmu?" tanya Revan di pintu mobil.
"Boleh."
Fina turun pelan-pelan dengan satu tangan di lengan Revan dan satu lagi di bingkai pintu. Tubuhnya terasa seperti milik orang lain yang dipinjamkan: ringan di beberapa tempat, berat di tempat yang tidak ia duga. Udara sore menyapu pipinya, hangat dan berbau rumput basah, dan untuk beberapa detik ia hanya berdiri dan menghirupnya.
"Ibu!"
Dua peluru kecil berlari dari teras. Langga di depan, kacamatanya melorot, kaus kapur menempel di lutut. Bima menyusul, kacamata plastik merah di hidungnya, sebelah kakinya tanpa sandal. Mereka berhenti tepat satu langkah dari Fina, seakan sepakat tanpa berunding bahwa tidak boleh menabrak.
"Ibu boleh dipeluk nggak?" tanya Langga.
"Pelan-pelan," kata Fina. "Dari samping. Yang kanan jangan."
Mereka memeluknya serentak dari samping kiri, dua kepala kecil menempel di pinggang dan dada. Fina menunduk, menciumi rambut Langga yang mulai tumbuh lagi dan rambut Bima yang bau sampo stroberi. Di belakang mereka Pita berdiri di tangga teras dengan kantong kertas di dua tangan dan air mata di pipi yang ia usap pakai lengan, marah pada dirinya sendiri karena menangis.
"Pita bikin bolu stroberi!" kata Pita, serak. "Kata Bos Revan Mbak nggak boleh makan banyak, tapi Pita bikin banyak. Biar sisanya buat yang lain!"
"Terima kasih, Ta."
"Iya, Mbak. Iya." Ia menangis lagi.
Langga menarik tangan Fina. "Ibu lihat gambar Langga di jalan nggak? Itu kuda."
"Itu kuda?"
"Itu Kakek bilang itu kuda."
"Cantik sekali kudanya," kata Fina, dan ia tidak berbohong.
Bima menarik ujung gamisnya. "Mama Ibu. Hari Rabu Bima ikut Mama ke Bogor. Tapi Bima boleh telepon Ibu tiap malam?"
Fina berlutut sedikit, pelan sekali, tangan menahan perut. Revan sudah mengulurkan tangan untuk membantunya dan ia menerima. "Boleh. Tiap malam. Kalau Ibu ketiduran, Bima bangunkan saja."
"Beneran?"
"Beneran."
Bima mengangguk serius dan menyentuh kacamata merahnya.
•||•
Rabu lalu, di rumah sakit, Revan menuntun Fina berjalan di koridor, dengan izinnya. Mereka baru sampai pintu lift ketika Fina berhenti dan meremas lengan baju Revan. "Sebentar." Revan tidak bertanya apa pun. Ia berdiri diam sampai Fina menarik napas dan melangkah lagi. Hari-hari sesudahnya hanya hasil laboratorium dan dua kali latihan naik turun tangga. Selimut kecil itu selesai Kamis malam, dan sekarang terlipat di tas Fina bersama bergo cadangan dan botol obat.
Pagi terakhir sebelum pulang, dr. Hendra duduk di tepi kursi dan menggambar di balik lembar jadwal kontrol: dua bulatan, satu dicoret.
"Yang tersisa ini," katanya sambil mengetuk bulatan satunya, "bekerja untuk dua. Cukup, Bu Fina. Sangat cukup, kalau Ibu mau menurut."
"Menurut apa saja, Dok?"
"Air putih. Obat dari kami, bukan dari tetangga. Kontrol tiap bulan, jangan ditunda."
Revan mencatat semuanya di ponsel. Jempolnya tidak berhenti sampai dr. Hendra selesai, dan baru sesudah itu Fina sadar ia sendiri menahan napas.
Rumah menyambutnya dengan bau yang ia kenal: sabun lantai Mbak Marni, kayu dan wangi teh. Tapi ada yang berbeda. Di lantai ruang tengah berjajar kardus-kardus kosong, lipatan lakban masih menempel di sisi-sisinya, dan dari lantai atas terdengar bunyi laci ditarik dan ditutup, tarikan lakban, langkah yang tidak asing.
Fina berhenti di pintu kamarnya yang di lantai bawah. Revan membuka mulut untuk menjelaskan, tetapi Fina menggeleng pelan.
Suara Ressie terdengar dari kaki tangga.
"Reffa. Turun sebentar."
Fina menoleh lewat pintu yang setengah terbuka. Ressie berdiri di anak tangga paling bawah dengan punggung lurus dan tangan di pegangan, dan di atasnya, di tengah tangga, Reffa membawa setumpuk baju bayi yang terlipat rapi. Dua perempuan itu saling menatap dari ketinggian yang berbeda.
"Mama sedang mengemas barang Hasna," kata Reffa dingin. "Kalau Ibu keberatan, ya sudah, tapi Rabu kami pindah."
"Saya tidak keberatan Hasna pindah. Saya tahu dia perlu. Tapi dengar dulu." Ressie menaikkan dagu, dan suaranya mantap tetapi tidak keras. "Hasna anak saya juga. Dia sudah bertahun-tahun jadi menantu di rumah ini dan saya sayang dia seperti sayang pada Revan. Jangan jadikan cucu-cucu kita alat, Reffa. Bima dan Kirana dan Langga. Jangan sampai mereka tumbuh dengan cerita siapa yang menang."
Reffa tidak menjawab seketika. Fina melihat tangannya mengencang pada tumpukan baju itu.
"Saya tidak menjadikan siapa pun alat," katanya akhirnya. Kali ini suaranya lebih rendah, sedikit retak. "Saya cuma tidak sanggup melihat anak saya tiap pagi di rumah ini, di tangga ini, melewati kamar itu. Kamu tahu apa artinya itu bagi seorang ibu? Saya tidak mau Hasna jadi tamu di rumahnya sendiri."
"Dia bukan tamu."
"Bu Ressie." Reffa menarik napas. "Kita berdua ibu. Kita berdua tahu."
Ressie diam. Sesuatu di wajahnya, yang tadinya keras seperti batu, retak halus dan runtuh pelan-pelan. Ia mengangguk satu kali.
"Kalau begitu antar mereka dengan baik," katanya lirih. "Jangan memutus apa pun."
"Saya tidak punya niat begitu."
Dua perempuan itu berdiri sebentar lagi dalam diam. Lalu Reffa naik, dan Ressie turun satu anak tangga, dan Fina menutup pintu kamarnya dengan sangat pelan supaya tidak ada yang tahu ia mendengar.
•||•
Pukul tujuh malam, ketika rumah sudah sepi dan anak-anak tertidur di kamar masing-masing, Fina keluar untuk mengambil air. Ia hanya ingin berjalan ke dapur dan kembali. Langkahnya masih hati-hati, tangan menyentuh dinding.
Hasna berdiri di tangga.
Ia baru turun dari lantai atas dengan Kirana di gendongan dan sebuah tas kecil di bahu, dan ia berhenti di anak tangga terakhir ketika melihat Fina di lorong. Wajahnya letih, tetapi tidak ada marah di sana.
"Selamat pulang, Fin."
"Terima kasih, Mbak."
"Kamu kelihatan lebih baik." Hasna menunduk, memperbaiki kain di bahu bayinya. "Aku dengar dari Revan kamu sudah tahu."
"Sudah."
"Bagus. Jadi aku tidak perlu menjelaskan apa-apa." Matanya naik. "Rabu kami pindah ke Bogor. Sementara."
"Sementara?"
Hasna tersenyum, kecil, dan ada sesuatu di balik senyum itu yang Fina belum bisa baca. "Kalau aku bilang selamanya, Mama pasti menangis. Biar ia pikir sementara. Aku juga."
Fina memandang bayi di dada Hasna, dan teringat sesuatu di tasnya. "Mbak. Selimutnya sudah selesai."
"Simpan dulu." Hasna menggeleng. "Antar sendiri ke Bogor, kalau kamu sudah kuat. Aku mau kamu datang sebagai tamu, bukan sebagai orang yang mengantar barang. Mama pasti tidak akan suka, tapi dia akan menyuguhkan teh."
"Tante Reffa?"
"Dia tidak akan mengatakan apa-apa. Tapi dia akan menyuguhkan teh. Itu cukup."
Hasna melangkah turun, melewati Fina dengan jarak satu lengan, dan di ujung lorong ia menoleh sekali. "Fin. Jangan lari-lari ke dapur malam-malam. Kamu belum boleh."
"Aku cuma ambil air."
"Biar Mbak Marni yang ambil." Matanya melembut, nyaris geli. "Kamu bukan lagi orang yang harus melayani siapa pun di rumah ini."