Bagasi mobil Reffa menutup dengan bunyi dalam, dan Revan merasakannya sampai ke tulang rusuk.
Pagi itu terlalu cerah untuk hari seperti ini. Langit biru tanpa awan, daun-daun mangga bergoyang pelan, dan di halaman berserakan sisa-sisa kapur dari hari Minggu yang belum hilang sepenuhnya diterjang hujan semalam. IBU PULANG, tulisan itu masih terbaca samar di paving, sebagian huruf sudah tinggal bayangan.
Dimas menaruh kardus terakhir ke bagasi mobil kedua, sebuah hatchback abu-abu yang ia bawa sendiri. Ia bekerja tanpa banyak bicara sejak pukul tujuh. Mengangkat, menata, menutup tali. Setiap kali melewati Hasna ia hanya berkata, "Awas, Na," atau, "Yang ini ringan," dan Hasna hanya menjawab, "Iya, Dim." Selebihnya mereka seperti dua orang yang sepakat menaruh sesuatu di rak tinggi dan tidak menyentuhnya.
Revan berdiri di teras dengan tangan di saku. Ia tidak diminta membantu. Reffa sudah menyatakan itu semalam, bukan dengan kasar, hanya dengan datar: "Biar kami sendiri."
Mbak Marni keluar membawa dua termos dan sekantong plastik berisi kue. "Untuk di jalan," katanya kepada Reffa. Reffa menerimanya, menatap kantong itu sebentar, lalu berkata, "Terima kasih, Mbak," dengan suara yang lebih hangat daripada yang Revan duga. Ia tidak menoleh kepadanya, tapi ketika lewat, bahunya sedikit miring ke arah Revan, gerak sangat kecil yang bisa saja bukan apa-apa.
"Papa!"
Bima berdiri di tengah halaman dengan ransel kecil di punggung. Langga berdiri berhadapan dengannya, tangan di sisi tubuh, kacamata tegak. Dua anak itu tinggi sedikit berbeda, dan Revan, dari tempatnya, bisa melihat Langga menegakkan punggung supaya tampak lebih tinggi lagi.
"Mas," kata Bima.
"Iya, Bim."
"Bima nggak jauh. Bogor cuma sebentar. Papa bilang akhir pekan Bima ke sini."
"Iya."
"Mas nggak boleh lupa Bima."
"Mas nggak akan lupa." Langga mengatakannya pelan, tapi tegas. Ia mengatakan kalimat yang sama yang dulu ia ucapkan kepada Revan dengan nada berbeda, dan Revan tahu betul apa bedanya. "Mas janji. Kita masih adik-kakak."
"Janji beneran?"
"Janji. Mas bisa tepati yang itu."
Bima membuka ransel, mengaduk sebentar, dan mengeluarkan kacamata plastik merah yang sudah agak penyok di salah satu sisinya. Ia menyodorkannya dengan dua tangan.
"Ini buat Mas."
"Mas sudah punya kacamata."
"Ini kacamata cadangan. Kalau yang asli rusak." Bibir Bima bergetar. "Nanti kalau Mas lihat ini Mas ingat Bima."
Langga menerimanya. Ia menatap benda kecil itu di telapak tangannya, merah dan jelek dan lensanya bolong, dan rahangnya mengencang. Ia tidak menangis. Revan melihat bagaimana ia melawannya dengan segenap tubuh: mata dibuka lebar, napas ditahan, tangan mengepal di sekeliling kacamata.
Bima yang menangis duluan. Anak itu terisak keras, bahunya naik turun, dan ia memeluk perut Langga erat-erat. Langga membiarkan. Ia menepuk punggung adiknya dengan tangan yang gemetar, dua kali, kemudian dua kali lagi, seperti gerak yang pernah ia pelajari dari seseorang.
•||•
"Van."
Hasna berdiri di sampingnya. Revan tidak mendengarnya mendekat. Ia mengenakan gamis biru tua dan kerudung yang sama dengan yang dipakainya ke rumah sakit melahirkan, dan di tangannya sebuah amplop putih, tanpa nama di depan, hanya lipatan yang rapi.
"Untuk Fina," katanya. "Tolong kamu yang kasih."
Revan menerimanya. Kertas itu tebal, lebih dari satu lembar. "Dia akan tanya kenapa tidak kamu sendiri yang antar."
"Karena kalau aku antar, dia akan membukanya di depanku, dan aku tidak mau melihat wajahnya." Hasna menghela napas pendek. "Jangan dibaca sekarang. Dia yang memutuskan kapan. Kalau dia mau sekarang, boleh. Kalau dia mau sepuluh tahun lagi, juga boleh."
"Aku tidak akan membukanya."
"Aku tahu." Ia tersenyum sedikit. "Kamu bukan orang yang suka membuka punya orang lain. Itu salah satu hal yang kusukai darimu."
Revan memegang amplop itu dengan dua tangan. Di halaman, Dimas menutup pintu hatchback dan berdiri di sampingnya tanpa menoleh ke teras.
"Kamu bahagia, Van?" tanya Hasna.
Pertanyaan itu jatuh begitu saja, tanpa tekanan. Revan memikirkan jawaban yang aman dan memutuskan membuangnya.
"Lega," katanya. "Dan sedih. Dua-duanya. Aku tidak tahu mana yang lebih besar, dan aku malu karena merasa lega."
Hasna mengangguk pelan. "Aku juga."
"Kamu?"
"Lega dan sedih, Van. Persis." Ia melirik ke bayinya yang sudah diletakkan di car seat di jok depan. "Kalau kamu bilang sedih saja, aku tahu kamu bohong. Kalau kamu bilang lega saja, aku akan tampar kamu."
Ia tertawa, dan Revan juga, pendek dan getir, dan itu seperti membuka jendela di ruangan yang sudah lama pengap.
"Hati-hati di jalan," kata Revan. "Kabari kalau Kirana demam. Jam berapa pun."
"Iya, Pak Ayah." Hasna menepuk lengannya sekali. "Sekarang aku harus pergi sebelum Mama mulai menangis."
Ia berjalan ke mobil. Di ambang pintu, Reffa menunggu dengan tangan di pinggang, wajah kaku, tapi matanya basah. Bima sudah naik ke jok belakang sambil menghapus ingus dengan lengan baju. Hasna masuk. Pintu menutup.
Mobil pertama bergerak, lalu mobil Dimas di belakangnya. Roda melewati huruf-huruf kapur yang tinggal separuh, dan ketika mobil itu menikung keluar gerbang, Revan melihat tangan kecil melambai dari jendela belakang sampai gerbang menutup di belakangnya.
Langga masih berdiri di tengah halaman. Kacamata merah itu tergenggam di tangannya. Ia menahan napas sampai mobil terakhir lenyap, dan baru kemudian bahunya jatuh.
Revan berlari kecil menyeberangi halaman dan berlutut. Langga menubruknya tanpa suara. Tangisnya baru pecah di dada Papa, deras dan basah dan tanpa malu, seperti anak yang sudah menyimpannya terlalu lama.
•||•
Ia menemukan Fina di kamarnya, duduk di tepi ranjang dengan bergo hitam bertepi krem dan sehelai selimut kecil merah muda di pangkuan. Ia pasti mendengar semuanya dari jendela. Matanya merah, tapi ia sudah berhenti menangis.
Revan meletakkan amplop putih itu di meja kecil di samping ranjang, di atas buku biru, dan menyingkir.
"Dari Hasna. Ia bilang kamu yang memutuskan kapan."
Fina menatap amplop itu lama. Ia tidak menyentuhnya, tidak bertanya apa pun, hanya memandangi garis lipatan kertas yang rapi. Di luar, bunyi mobil terakhir hilang.
"Taruh saja di situ, Mas," kata Fina akhirnya. "Aku belum tahu apakah aku siap."
"Tidak perlu hari ini."
"Langga bagaimana?"
"Tidur. Masih memegang kacamata merah itu. Aku sudah mencoba mengambilnya untuk dicuci, ia menggenggam lebih erat." Revan menelan ludah. "Ia menangis seperti orang dewasa, Fin. Aku tidak tahu apakah itu kabar baik."
"Itu kabar baik." Fina menarik selimut kecil di pangkuannya lebih rapat. "Anak yang bisa menangis di dada ayahnya itu anak yang tahu ada tempat untuk menangis."
Revan ingin duduk di sampingnya, tetapi ia bertanya dulu dengan mata. Fina menggeleng halus, bukan menolak, hanya belum. Ia mundur ke kursi dan menunggu di sana.
Surat itu tetap tergeletak di meja sampai malam, tertutup.