Bau gosong membangunkan Fina lebih dulu daripada alarm.
Ia berbaring diam di kamar lantai bawah dan menimbang: bau dapur, atau cuma ingatan hidungnya yang belum pulih dari rumah sakit. Lalu terdengar sendok beradu dengan panci, disusul suara laki-laki yang mengumpat pelan.
"Sial. Kok bisa lengket?"
Fina tersenyum ke bantal.
Sabtu. Sebentar lagi ponselnya akan bergetar membawa foto antrean hari kopi dari Pita, dan ia sudah tahu dadanya akan hangat dan nyeri sekaligus. Ia duduk pelan-pelan, menunggu kepalanya berhenti berputar, lalu memakai bergo hitamnya. Di meja samping ranjang, amplop putih Hasna masih menindih buku biru. Tiga hari. Ia menyentuh pinggir amplop itu dengan ujung jari, kemudian menarik tangannya. Belum. Tidak apa-apa kalau belum.
Di lorong menuju dapur berdiri sebuah papan tulis putih di atas kaki tripod. Revan memasangnya Rabu malam. Isinya tabel bergaris pakai penggaris dengan spidol tiga warna: merah muda untuk vitamin, biru untuk obat pagi, hijau untuk obat malam, jamnya ditulis sampai ke menit. Di pojok kanan atas ada tulisan besar, MINUM AIR, FIN!!! Tangan yang lebih kecil sudah menambahkan gambar gelas bermata dan bermulut senyum.
Revan berdiri di depan kompor dengan celemek bunga-bunga milik Mbak Marni. Rambutnya berantakan. Di tangannya ada panci, dan di dasar panci ada sesuatu berwarna cokelat tua.
"Jangan lihat," katanya.
"Aku sudah lihat."
"Itu bukan seperti yang kamu pikir."
"Aku pikir itu arang."
"Itu bubur." Revan menatap panci itu. "Tadinya bubur."
Fina menahan tawa dengan telapak tangan, tetapi tertawa masih menarik bekas operasinya dan ia meringis. Revan langsung menaruh panci dan maju selangkah.
"Sakit? Duduk. Aku ambilkan..."
"Mas." Fina mengangkat tangan. "Aku tidak apa-apa. Aku cuma mau bilang sesuatu, dan Mas jangan lari ke papan tulis dulu."
Revan berhenti.
"Tadi malam Mas masuk kamarku tiga kali."
"Dua."
"Tiga."
"Yang ketiga cuma mengintip." Ia mengusap tengkuk. "Aku takut kamu berhenti napas."
"Aku napas, Mas. Sepanjang malam." Suara Fina turun, bukan marah, hanya letih. "Jadwal obatnya satu papan penuh, di lorong, dibaca semua orang yang lewat. Pak Ucup tadi berdiri dua menit di depannya. Aku diperlakukan seperti pasien tiap menit. Aku tahu aku memang pasien. Tapi aku mau diperlakukan juga seperti..."
Ia berhenti. Kata berikutnya belum ketemu.
"Seperti apa?" tanya Revan.
"Nanti di teras. Bawa teh. Yang benar."
"Yang benar bagaimana?"
"Nanti Mas tahu."
•||•
Teras belakang basah oleh embun, dan Revan duduk di kursi rotan dengan tangan kosong, merasa seperti murid yang dipanggil tanpa tahu salahnya. Fina menarik selimut tipis ke lututnya. Burung gereja berdebat di pagar.
"Mas, aku mau Mas kenal aku lagi."
"Aku kenal kamu."
"Mas kenal Fina yang bangun jam empat membuat teh. Fina yang diam di meja makan. Fina yang sekarang belum Mas kenal." Ia tersenyum tipis. "Aku juga belum."
Revan menelan ludah. "Caranya?"
"Pertanyaan. Sembilan masing-masing, bergantian. Tidak boleh jawab 'terserah'. Tidak boleh bohong supaya kedengaran bagus."
"Kenapa sembilan?"
"Sembilan tahun." Fina memandang taman. "Satu untuk tiap tahun yang Mas lewatkan."
Revan tidak membantah. Ia hanya membungkuk sedikit. "Kamu duluan."
"Warna favorit Mas."
"Hitam."
"Itu bukan warna, itu alasan."
"Biru tua. Yang hampir hitam." Ia menimbang. "Warna favoritmu?"
"Kuning. Kuning pucat, seperti lampu dapur."
Revan terdiam. Selama ini ia mengira Fina suka hijau, karena teh. Ia menyimpan fakta kecil itu di dadanya, seperti menyimpan batu yang ternyata bukan batu.
Pertanyaan kedua dan ketiga datang berurutan. Buku pertama yang dibaca sendiri: Fina menjawab ensiklopedia binatang punya Papa Arga, sampulnya sobek, dibaca sambil tengkurap karena Ibu Arini tidak suka bunyi halaman dibalik. Revan menjawab kamus, sebab Wira menyuruhnya menghafal tiga kata tiap malam. Lalu apa yang ditakuti waktu kecil.
"Bunyi pagar ditutup malam-malam," kata Fina. "Aku kira kalau pagar ditutup, ada orang yang tidak akan pulang lagi."
Revan menunduk. "Ruang kerja Papa. Kalau nilaiku jelek, aku disuruh berdiri di sana. Sampai sekarang aku nggak suka lampu meja."
"Mas pernah menyuruh Langga berdiri di sudut ruang tamu."
"Iya. Karena itu aku jawab jujur."
Fina memandangnya sebentar, lalu mengangguk, dan pertanyaan keempat dimulai.
Makanan yang paling dibenci: hati ayam, terong. Lagu yang dihafal tanpa sengaja. Tempat yang ingin dikunjungi: laut yang tidak ada orangnya, dan Bandung tanpa ponsel. Satu per satu jawaban itu jatuh di antara mereka, kecil dan jujur, dan Revan sadar ia tidak lagi menghitung mana yang menguntungkannya.
"Pertanyaan kesembilan," kata Fina. "Mas takut apa sekarang?"
Revan tidak memikirkan jawabannya. "Kamu berhenti bilang 'boleh'."
Fina diam cukup lama. Burung-burung di pagar sudah terbang.
"Dan kamu?" tanya Revan. "Apa yang kamu mau dari hari ini?"
"Teh yang benar."
Mereka tertawa berbarengan, dan kali ini Fina menahan perutnya dengan tangan lebih dulu.
Revan masuk ke dapur. Dari saku celananya ia mengeluarkan kartu kecil yang ia tulisi semalam: satu sendok teh, dua ratus mililiter, air jangan mendidih, dua menit. Ia mengikuti kartu itu seperti mengikuti resep bom, menuang pelan-pelan, mengaduk searah jarum jam, dan membawanya keluar dengan dua tangan.
Fina menyesap. Alisnya naik. "Airnya masih terlalu panas."
"Aku tunggu sampai gelembungnya hilang."
"Gelembung kecil itu justru yang pas, Mas. Dan dua menit kelamaan. Satu setengah." Ia menyesap lagi, dan sudut bibirnya melengkung. "Tapi hampir."
Revan menulis di kartu itu, tangannya sedikit gemetar: satu setengah. Fina melihatnya dan tersenyum lebih lebar. Itu senyum yang tidak ia simpan untuk siapa pun.
Pagi merambat naik. Teh di cangkir Fina tinggal separuh, dan bahunya mulai merosot ke sandaran rotan, kelopak matanya berat.
"Mas."
"Iya."
"Aku ngantuk."
"Masuk, aku antar."
"Sebentar lagi." Ia menggeser kepalanya sedikit, ragu. "Kalau aku bersandar, Mas keberatan?"
Revan tidak bergerak. "Boleh aku yang geser kursinya?"
"Boleh."
Ia menggeser kursi sampai bahu mereka bersentuhan, perlahan supaya tidak ada bunyi. Kepala Fina turun di bahunya, ringan, hangat, dan dalam semenit napasnya sudah panjang dan teratur. Revan duduk kaku. Ia tidak berani menggerakkan lengannya, tidak berani minum tehnya sendiri.
Ponselnya bergetar di saku. Ia mengeluarkannya dengan satu tangan.
Suster Citra
Selamat pagi, Pak Revan. Jadwal kontrol Bu Fina Rabu jam 9.
Mohon bawa hasil lab terakhir.
Dokter Iqbal minta Bapak ikut masuk ke ruangan.
Revan membaca pesan itu dua kali. Kepala di bahunya tidak bergerak. Di luar, embun mulai menguap dari rumput, dan ia tetap diam, menjaga tidur Fina sambil menggenggam kartu teh yang belum kering tintanya.