Iqbal tidak menatap layar. Itu hal pertama yang Fina sadari.
Biasanya dokter itu memutar monitor ke arahnya, menunjuk dengan pulpen, lalu bicara sambil bercanda supaya angka-angka terdengar lebih jinak. Pagi ini monitor tetap menghadap dinding. Iqbal duduk dengan dua tangan di atas meja, jari-jarinya saling mengunci, dan suster Citra berdiri di dekat pintu dengan map di dada.
"Bu Fina, Pak Revan. Terima kasih sudah datang tepat waktu."
Bu Fina. Pak Revan. Bukan Fin, bukan Di. Fina menggenggam tali tasnya di pangkuan.
Suster Citra juga tidak menatapnya. Perawat yang biasa menyapanya dengan "Ibu Fina, apa kabar kemarin?" itu sekarang sibuk meluruskan tepi map yang sudah lurus. Fina sudah cukup lama menjadi pasien untuk tahu arti diam seperti itu. Ruangan berbau antiseptik dan kopi dingin, dan jam dinding berdetak keras sekali.
"Pencitraan pascaoperasi sudah keluar," kata Iqbal. "Pemulihannya baik. Jahitan, fungsi sisa ginjal, hitung darah, semuanya sesuai yang kami harapkan." Ia berhenti sebentar. "Ada satu hal yang harus saya sampaikan apa adanya. Di dekat tepi jaringan yang tersisa, ada bayangan kecil. Ukurannya sekitar sebesar kacang. Pada pencitraan sebelum operasi bayangan itu tidak ada."
Revan, di kursi sebelahnya, tidak bergerak. Fina hanya mendengar napasnya berubah, sedikit lebih pendek.
"Itu apa, Dok?"
"Bisa jaringan parut. Itu paling sering sesudah operasi, dan bentuknya memang mirip. Bisa juga sel yang tertinggal." Iqbal menatapnya langsung. "Saya tidak mau menebak. Karena itu Jumat, Ibu akan menjalani biopsi. Jarum kecil, bius lokal, pulang di hari yang sama. Hasilnya keluar Kamis depan."
"Kamis depan," ulang Fina. Suaranya terdengar jauh, seperti suara orang lain di ruangan lain. Ia teringat selang infus, rambut yang menumpuk di bantal, dan bunyi mesin yang membuatnya tidak bisa tidur berminggu-minggu. Semua itu sudah ia tutup rapat di laci, dan sekarang laci itu terbuka sendiri. "Jadi dari awal lagi?"
"Belum tentu."
"Dok."
"Belum tentu, Bu Fina." Iqbal tidak mengalihkan matanya. "Saya tidak akan berkata begitu hanya untuk menenangkan Ibu. Saya berkata begitu karena memang belum ada yang bisa dipastikan. Kalau hasilnya buruk, kita bicara langkah berikutnya, dan Ibu tidak sendirian. Kalau hasilnya baik, Ibu sudah melewati satu minggu yang tidak perlu."
Revan bertanya beberapa hal pendek. Apakah biopsinya sakit. Apakah Fina harus berpuasa. Apakah ia boleh menemani sampai ke dalam. Iqbal menjawab satu per satu dengan sabar, dan suster Citra mencatat. Fina melihat tangan Revan di lututnya: tenang, rata, tidak bergetar sedikit pun.
Ketika mereka berdiri, Iqbal menyerahkan lembar persiapan biopsi kepada Revan, bukan kepada Fina. Revan menerimanya dan melipatnya rapi dua kali, seperti orang yang sudah berlatih menghadapi hal ini di kepalanya.
Entah kenapa itu yang membuat dadanya panas.
•||•
Di dalam mobil, Pak Ucup menyetir tanpa bicara. Hujan tipis mulai turun, dan wiper bergerak seperti detak yang diperlambat.
"Mas tenang sekali," kata Fina.
Revan menoleh. "Apa?"
"Dokter bilang bayangan. Bilang biopsi. Bilang Kamis depan. Mas tanya soal puasa." Fina menatap lurus ke kaca depan. "Mas tanya soal puasa, Mas."
"Aku..."
"Aku mati rasa di kursi itu, dan Mas bertanya soal puasa. Seolah-olah ini cuma urusan jadwal. Seolah-olah Mas tidak merasakan apa-apa."
Pak Ucup memperlambat mobil sedikit, lalu pura-pura sibuk dengan kaca spion.
"Aku tidak tenang," kata Revan. Suaranya rendah, hampir tidak terdengar di antara bunyi hujan. "Fin, aku takut. Dari tadi pagi sebelum kita berangkat. Dari Sabtu, waktu pesan suster itu datang dan kamu tidur di bahuku. Aku tahu itu tidak berarti apa-apa, bisa saja cuma urusan administrasi, tapi aku tetap takut." Ia mengusap wajah dengan satu tangan. "Aku tanya soal puasa karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Kalau aku tanya soal yang lain, aku akan menangis di ruangan itu, dan kamu akan sibuk menenangkan aku."
Fina menoleh pelan.
"Aku cuma tidak mau kamu sendirian dengan ketakutanmu," lanjut Revan. "Kalau aku ikut panik, kamu harus menanggung dua. Jadi aku pegang satu. Yang kecil, yang bisa kupegang."
Hujan makin deras. Di jendela, butirannya bergabung dan jatuh miring.
"Maaf," kata Fina akhirnya. "Aku tidak seharusnya membentak."
"Kamu tidak membentak. Kamu bertanya." Revan menarik napas. "Dan kamu benar. Seharusnya aku bilang takut dari tadi."
Ia membuka telapak tangannya di atas jok antara mereka, tidak lebih dari itu, dengan mata bertanya. Fina menatap tangan itu lama. Lalu ia menaruh jemarinya di atasnya, ringan, hanya ujung-ujungnya.
"Boleh," katanya, terlambat.
"Aku belum bertanya."
"Aku tahu."
•||•
"Pak Ucup, belok ke toko," kata Fina. "Sebentar saja."
Toko kue sedang tidak ramai. Hari Rabu, pukul sebelas, hanya ada dua pelanggan di sudut dan bau mentega yang menyambutnya begitu pintu terbuka, bau yang membuat Fina ingin berlutut di lantai. Papan menu hari kopi masih terpajang di dinding, tulisan kapur Langga yang miring. Etalase berkilau. Ada bunga kecil di meja kasir yang tidak ia taruh. Ada juga sekotak kue kering dengan label tulisan tangan Pita, dan stiker bintang di kaca etalase, jelas ulah seorang anak sembilan tahun yang pernah dibiarkan menunggu di sini. Toko ini hidup tanpa dirinya. Fina tidak tahu apakah itu membuatnya lega atau cemburu.
Pita keluar dari pantry dengan celemek miring dan tangan basah. Ia membuka mulut, siap berteriak "Mbak Fin!", tetapi suaranya tertahan di tenggorokan.
Ia menatap wajah Fina. Satu detik. Dua.
Pita tidak bertanya. Ia tidak menanyakan kabar, tidak menanyakan dokter, tidak menanyakan Bos Revan yang berdiri kaku di belakang Fina dengan payung. Ia hanya berbalik, mengambil gelas dari rak, menuang teh hijau dari teko yang ternyata sudah hangat, dan menyodorkannya dengan dua tangan.
"Hangat, Mbak. Ndak panas."
Fina menerima gelas itu. Tangannya gemetar, dan teh bergoyang membentuk lingkaran-lingkaran kecil di permukaan. Ia menatapnya, lalu menatap Pita yang matanya merah tetapi bibirnya terkatup rapat.
"Terima kasih, Ta."
"Iya, Mbak." Pita mengelap tangan ke celemek, berkali-kali, tanpa sebab. "Tokonya aman. Sabtu kemarin antrean sampai ke trotoar, Mbak. Ada ibu yang nanya Mbak kapan balik, Pita bilang sebentar lagi. Pita jaga. Pita jaga terus sampai Mbak balik."
Fina duduk di kursi pelanggan dekat etalase. Revan berdiri di sampingnya, tidak menyentuhnya, hanya dekat. Di luar, hujan menetes dari kanopi, dan di atas kepala Fina lonceng pintu berdenting pelan ketika pelanggan terakhir pergi.
"Mas," katanya, hampir berbisik. "Jangan bilang Langga dulu."
Revan menunduk. "Dia sudah bertanya kenapa kita pulang kontrol selalu telat."
"Biar ia bertanya. Kalau hasilnya buruk, aku sendiri yang bilang. Kalau hasilnya baik, tidak perlu ada yang bilang apa-apa." Ia mengangkat gelas itu, hangat di antara dua telapak tangannya. "Aku tidak mau dia menunggu Kamis bersama kita."