Pukul tiga lewat, Revan masih terjaga di sofa ruang tengah, satu lengan menutupi mata, mendengarkan jam dinding menghitung sesuatu yang tak mau ia ketahui.
Sejak Rabu siang ia mengulang satu hal di kepalanya: sebesar kacang. Ukuran yang lucu untuk sesuatu yang bisa mengambil segalanya. Ia sudah menghapal nomor ponsel Iqbal, nomor ruang biopsi, bahkan jam buka apotek dua puluh empat jam di ujung jalan. Semua itu rapi, berurutan, tidak berguna.
Dari kamar Fina terdengar bunyi lain. Pelan, putus-putus, bukan tangis. Revan duduk, menajamkan telinga, dan baru sadar bunyi itu adalah bacaan: kalimat yang berhenti di tengah, diulang dari awal, berhenti lagi.
Pintu kamar terbuka sejengkal. Lampu kecil di pojok menyala kuning, dan di atas sajadah, Fina bersujud dengan bahu yang bergetar. Ia belum menyadari ada orang. Revan melihat punggungnya naik turun, melihat ujung bergo hitam itu basah, dan ia mundur setengah langkah, merasa seperti orang yang lancang masuk ke tempat yang bukan miliknya.
Lalu ia berdiri di sana saja, sampai salam terakhir.
"Mas boleh masuk?" bisiknya.
Fina tidak menoleh. "Boleh. Tapi jangan bicara dulu."
Revan duduk bersandar di dinding dekat pintu, jauh dari sajadah. Fina menyelesaikan doanya dengan tangan terangkat, lama, bibir bergerak tanpa suara. Ketika ia akhirnya menurunkan tangan, wajahnya sembap dan tenang.
"Bagaimana kalau kembali?" katanya.
Tidak ada nada takut. Hanya pertanyaan, sederhana, ditaruh di lantai di antara mereka.
"Aku belum tahu."
"Aku juga belum tahu. Tapi aku ingin tahu sesuatu sebelum Jumat." Fina memeluk lututnya di atas sajadah. "Mas bisa bacakan sesuatu? Yang tentang orang sabar. Bukan yang manis. Yang benar."
Revan mengambil buku Kisah 25 Nabi dari meja ruang tengah, buku yang tiap malam ia bacakan untuk Langga, sampulnya sudah melengkung. Ia kembali duduk dan membuka halaman yang ia hafal tanpa perlu mencari.
"Nabi Ayub," katanya.
Ia membaca pelan. Tentang seorang nabi yang kaya, lalu kehilangan hartanya, anak-anaknya, kesehatannya, hampir semuanya. Tentang tubuh yang sakit bertahun-tahun, tentang orang-orang yang menjauh, tentang istrinya yang setia tinggal. Ia membaca bagian ketika Ayub tidak menyalahkan siapa pun, hanya berdoa bahwa penyakit telah menimpanya dan Tuhan adalah yang paling penyayang di antara semua penyayang.
"Sabar itu bukan berarti tidak takut," kata Fina setelah Revan selesai.
"Bukan." Revan menutup buku. "Dia mengeluh. Aku baru sadar tadi. Dia cuma mengeluh kepada yang tepat."
Fina menatapnya lama, lalu mengangguk sekali. "Mas, tidur di kamar sebelah malam ini. Jangan di sofa. Sofa itu bikin leher Mas bengkok."
"Kamu tahu aku di sofa?"
"Aku mendengar Mas membalik badan dari tadi."
Ia hampir tersenyum. Revan pun begitu.
Subuh datang lewat celah gorden, kelabu lalu keemasan. Mereka sholat berjamaah dengan Fina duduk di kursi, dan Revan mendengar suaranya sendiri membaca ayat yang sama dengan nada yang lebih rendah dari biasanya. Selesai salam, Fina tidak berkata apa-apa. Ia hanya menaruh dua jarinya sebentar di punggung tangan Revan, lalu menariknya lagi.
•||•
Sepulang sekolah, Langga menyerbu masuk dengan tas melorot dan seorang tamu yang tidak ia izinkan duduk di mana pun kecuali di meja makan. Fina mengintip dari ambang pintu dapur, dan melihat anak perempuan berkepang dua yang ia kenal duduk dengan lutut dilipat.
"Tante Fina!" Taya melambai. "Papa cuma antar sampai pagar. Katanya jangan mengganggu, tapi Langga yang minta."
Memang. Dari jendela, Fina sempat melihat CR-V putih itu berhenti, Iqbal menurunkan Taya, mengangkat tangan sekali ke arah rumah, lalu pergi tanpa turun dari mobil. Ia menaruh itu di sudut ingatan yang tidak akan ia buka hari ini.
Di meja makan, Langga menggelar kertas besar. Ia dan Taya sedang menggambar pohon. Pohon yang tinggi, cabangnya melebar sampai ke tepi kertas, daunnya dari spidol hijau tiga gradasi. Di bawahnya ada garis-garis kecil yang Fina kira rumput, tetapi ternyata orang-orang bergandengan.
"Itu siapa saja?"
"Ini Ibu." Langga menunjuk sosok paling besar dengan bergo hitam. "Ini Papa. Ini Bima, ini Mama Hasna, ini adik bayi, ini Kakek dan Oma. Ini Taya, ini aku."
"Kok Taya di sini?"
"Dia minta." Taya cemberut sambil mewarnai batang. "Aku juga mau ikut pohonnya, Tante."
"Pohon apa itu, Mas Langga?"
"Pohon yang kuat. Kata Kakek akarnya harus lebih besar dari daunnya." Langga mendongak, kacamatanya bergeser. Mbak Marni meletakkan sepiring pisang goreng di sampingnya, dan Langga mengambil satu tanpa melepas pandangan dari Fina. "Ibu, besok Ibu ke dokter lagi?"
Fina mengerjap sekali. "Besok ada pemeriksaan kecil. Ibu pulang sore."
"Hasilnya kapan?"
"Kamis depan."
Langga menghitung dengan jari, bibirnya bergerak. "Berarti seminggu. Itu lama ya, Bu."
"Lama."
Taya menaruh spidol. Ia menatap Fina dengan mata orang yang sudah terlalu sering menunggu di lorong rumah sakit. "Papaku juga takut, Tante. Kemarin dia nggak makan. Tapi dia bilang kalau takut itu artinya sayang, jadi nggak apa-apa."
Fina tidak menjawab seketika. Ia hanya mengelus kepala Taya, lalu rambut Langga yang mulai tebal lagi.
"Papamu benar," katanya. "Tambahkan satu hal di gambarnya. Akar yang banyak."
Langga langsung menunduk, mengambil spidol cokelat, dan menarik garis-garis dari batang ke bawah tanpa bertanya lagi. Taya ikut, lebih rapi, lebih panjang. Fina memandang dua kepala kecil yang beradu di atas kertas, satu berkacamata dan satu berkepang, dan bertanya dalam hati apakah Langga tahu lebih banyak daripada yang ia akui. Anak itu terlalu pendiam di bagian tertentu. Ia mewarisi itu dari ibunya.
•||•
Malam itu Fina membuka buku biru di meja samping ranjang. Amplop putih ia geser ke ujung, dengan hati-hati, tidak dibuka.
Halaman pertama bertuliskan tangan rapi: HAL-HAL UNTUK LANGGA. Resep bubur sumsum, cara menalikan sepatu, doa tidur, semua tertulis seperti wasiat yang diam-diam. Ia membacanya sekali lagi dan merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya, sesuatu yang selama ini ia kira tidak bisa digeser.
Ia mencoret judul itu dengan satu garis lurus. Di bawahnya ia menulis: HAL-HAL YANG INGIN KAMI LAKUKAN.
Revan berdiri di pintu dengan segelas air. Ia melihat kertas itu. "Boleh Mas masuk?"
"Boleh. Duduk di sini, Mas."
Ia menunjuk tepi ranjang, dan Revan duduk, tidak terlalu dekat. Fina membalik halaman kosong dan menyerahkan pensil.
"Dulu buku ini untuk kalau aku tidak ada. Sekarang aku mau isinya untuk kalau aku ada." Ia menatap kertas, bukan wajah Revan. "Aku tidak tahu hasilnya Kamis depan. Tapi aku memilih hidup, apa pun hasilnya. Mulai dari yang ini."
Revan memegang pensil itu dengan dua jari, seperti menerima sesuatu yang rapuh.
"Mulai dari mana?"
"Laut yang tidak ada orangnya."
Revan menunduk, dan menuliskannya di baris pertama.