Bangku besi di lorong rumah sakit itu dingin, dan Fina sudah duduk di atasnya empat puluh menit.
Di sampingnya Revan memegang buku biru dengan dua tangan. Sudah sebelas baris ia isi sejak Kamis lalu: laut yang tidak ada orangnya, Bandung tanpa ponsel, makan soto di warung pinggir jalan yang Fina suka dan Revan belum pernah masuki. Pagi tadi ia tidak membukanya sama sekali. Ia hanya memegangnya, dan sesekali ibu jarinya mengusap sampul.
Biopsi Jumat lalu hanya satu jarum kecil dan sekantong es di pinggang. Yang panjang adalah enam hari sesudahnya. Revan tidak masuk kantor sama sekali, dan Dimas, untuk sekali itu, tidak menelepon untuk menyuruhnya pulang. Fina menyibukkan tangan: merajut, memasak bubur yang kali ini tidak gosong, mengajari Langga membedakan daun mint dan daun kemangi. Malam-malam ia lebih sering memandang plafon daripada tidur. Langga hanya bertanya satu kali, Selasa, apakah Ibu masih mau dibuatkan teh, dan Fina menjawab mau.
Pintu ruang Iqbal terbuka. Suster Citra keluar lebih dulu dengan wajah yang tidak bisa Fina baca, kemudian Iqbal, membawa map cokelat tipis.
Fina berdiri. Revan berdiri sedetik kemudian. Tangannya setengah terulur ke siku Fina, lalu berhenti di udara. "Boleh?" bisiknya. "Boleh," kata Fina, dan Revan menyangga sikunya.
"Bu Fina, Pak Revan." Iqbal menarik napas. "Hasil biopsinya sudah saya baca dua kali, dan saya minta patolog membacanya sekali lagi supaya saya tidak salah."
"Dok."
"Jinak."
Fina mendengar kata itu, tetapi kata itu tidak masuk. Ia menatap bibir Iqbal seolah masih ada kalimat lain yang belum selesai.
"Bayangan itu jaringan parut, Fin," kata Iqbal, kali ini suaranya melembut, lupa pada "Bu". "Bekas operasi. Tubuhmu menyembuhkan dirinya dengan cara yang rapi tapi berlebihan. Tidak ada sel kanker di sana. Sama sekali." Ia membuka map dan menunjukkan selembar kertas berisi kolom-kolom yang tidak ia pahami. "Kita masuk masa pemantauan. Kontrol tiap tiga bulan, kalau tiap kontrol bersih, nanti jaraknya diperpanjang."
Fina menutup mulut dengan telapak tangan. Bahunya turun begitu saja, seperti tali yang dipotong. Air matanya jatuh tanpa suara, deras, dan ia tidak mencoba menahannya. Seminggu. Seminggu penuh ia menahan sesuatu di dalam dada, dan sekarang semuanya mengalir keluar sekaligus.
Revan tidak berkata apa-apa. Ia melepaskan siku Fina, mundur setengah langkah, lalu berlutut. Lututnya menyentuh ubin lorong, lalu dahinya, dan ia sujud di sana, di depan perawat yang lalu-lalang dan pasien yang duduk menunggu nomor antrean. Punggungnya naik turun. Tak seorang pun tertawa. Suster Citra memalingkan wajah dan menyeka matanya dengan ujung lengan.
Lama sekali Revan di sana. Ketika ia bangkit, matanya merah dan wajahnya basah, dan ia tidak malu. Fina menatap laki-laki itu, laki-laki yang sembilan tahun lalu tidak mengangkat teleponnya, sekarang bersujud di lantai rumah sakit tanpa peduli siapa pun melihat. Ia mengulurkan tangannya lebih dulu.
"Mas. Boleh aku pegang tanganmu?"
"Kamu yang tanya?" Suara Revan pecah di tengah. "Boleh. Boleh, Fin."
Jari mereka bertaut, dingin dan basah, dan untuk beberapa saat tak satu pun dari mereka bisa bicara.
Iqbal mengulurkan tangan. Revan menatapnya sebentar, kemudian menjabatnya dengan dua tangan.
"Terima kasih, Dok."
"Itu kerja tubuhnya, bukan saya." Iqbal tersenyum tipis. Genggamannya erat, tetapi singkat. "Pak Revan. Jaga dia."
Hanya itu. Tak ada kalimat lain, tak ada tatapan yang tinggal lebih lama dari semestinya. Revan mengangguk, dan Fina melihat dua laki-laki itu saling memahami sesuatu yang tidak pernah mereka bicarakan.
"Selamat, Fin," tambah Iqbal.
"Terima kasih, Di." Suara Fina serak. "Untuk semuanya."
Iqbal mengangkat map sedikit, seperti memberi hormat, lalu kembali ke ruangannya.
•||•
Sorenya Fina duduk di ruang tengah dengan selimut rajut di pangkuan, dikelilingi bau pepes ikan yang membuat seluruh rumah terasa seperti hari raya. Ressie sudah mendengar kabar sebelum mobil mereka masuk pagar. Ia berdiri di teras dengan celemek dan mata sembap, lalu memeluk Fina lebih lama daripada yang pernah ia lakukan, kemudian menyuruhnya duduk dan tidak menyentuh apa pun. Wira, di kursi dekat jendela, hanya mengangkat dua tangan ke langit sambil bibirnya bergerak.
"Pepesnya jangan dihabiskan sendiri," kata Ressie dari dapur, setengah mengomel. "Satu porsi dulu. Kata dokter Hendra apa tadi, Pa?"
"Pelan-pelan, Ma," jawab Wira tanpa menoleh. "Semua pelan-pelan."
"Nah. Dengar itu, Fin."
"Iya, Ma."
"Dan jangan 'iya, Ma' saja. Habiskan nasinya."
Fina tertawa kecil. Tiga minggu lalu ia tidak percaya kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut Ressie dengan nada begitu.
Pukul tiga lewat, pintu depan terbuka dan Langga masuk dengan tas melorot.
"Ibu!"
"Ibu di sini."
Anak itu berlari, berhenti, lalu berbalik, seperti baru ingat sesuatu. "Ibu sudah dengar dari dokter?"
"Sudah, sayang. Hasilnya baik."
"Baik banget?"
"Baik banget."
"Yes." Langga mengepalkan tangan kecilnya. "Tunggu sebentar, Bu. Langga ada urusan sama Papa." Ia mengaduk ranselnya, mengeluarkan selembar kertas lipatan yang agak kusut, dan berjalan tegak menuju Revan yang berdiri di dekat tangga.
Bukan ke Fina. Bukan ke Kakek. Ke Papa.
"Papa."
"Iya, Nak."
Di belakang Langga, Pak Ucup berpura-pura sibuk dengan kunci mobil di ambang pintu, jelas sudah tahu apa yang akan terjadi. Langga menyodorkan kertas itu dengan dua tangan. Tulisan merah di sudutnya: angka delapan dan dua. Di bawahnya, bintang kecil dari guru.
"Matematika," kata Langga. "Pecahan. Langga salah satu doang." Ia menelan ludah. "Bu Laila bilang gambar Langga juga dipilih buat pameran kota. Yang pohon besar itu."
Revan menerima kertas itu seperti menerima sesuatu dari tangan Tuhan. "Delapan puluh dua?" bisiknya.
"Delapan puluh dua. Satu salah gara-gara Langga ceroboh, bukan gara-gara nggak ngerti."
"Ceroboh itu bukan bodoh."
"Kata Kakek juga begitu."
Mata Revan bergerak dari angka ke wajah anaknya dan kembali ke angka. Sedetik, dua detik, dan Fina melihat rahangnya bergetar.
"Papa," kata Langga lagi, lebih pelan. "Dulu Langga bilang nggak akan pernah lupa."
Ruang tengah mendadak sunyi. Ressie berhenti di ambang dapur dengan sendok di tangan. Wira menurunkan tangannya.
"Sekarang Langga ingat yang bagus-bagus juga."
Revan berlutut, tanpa kata, dan memeluknya. Kertas itu terjepit di antara dada mereka, kusut, dan ia tidak peduli. Langga membalas dengan lengan kurus yang melingkar di leher Papanya, kacamata miring, wajah terbenam. Fina melihat bahu Revan naik turun untuk kedua kalinya hari itu, dan melihat tangan kecil Langga bertahan di punggung ayahnya.
Ia menunduk. Ia tidak mau mengganggu.
Ketika Revan akhirnya melepaskan, Langga mengusap hidung dengan punggung tangan dan menoleh pada Fina. "Ibu, lihat nggak? Papa nangis."
"Ibu lihat."
"Nggak apa-apa, ya? Kata Kakek laki-laki boleh nangis kalau dia bangga."
"Boleh," kata Fina. "Sangat boleh."
Langkah Ressie terdengar dari dapur. Ia berdiri di ambang pintu, mengusap mata dengan punggung tangan yang masih memegang sendok, dan suaranya lebih tegas dari biasanya, tetapi jelas bergetar.
"Senin malam kita makan bersama di meja besar. Mama yang masak. Arini Mama undang, Pita juga. Dan tidak ada yang boleh menolak."