Meja makan besar itu belum pernah terisi penuh sejak Revan kecil, dan ia baru menyadarinya ketika menghitung kursi.
Tujuh. Wira di ujung dengan tongkat bersandar di sisi kursinya. Ressie di sebelah kanan, dengan rambut disanggul rapi dan blus yang jelas ia pilih dengan hati-hati. Arini, ibu tiri Fina, duduk di seberang dengan kerudung abu-abu dan tas kecil yang tidak pernah lepas dari pangkuan. Pita kikuk di dekat Langga, sudah tiga kali meluruskan garpu yang sebenarnya tidak miring. Fina di samping Revan, dengan bergo hitamnya, dan di antara mereka sepiring pepes ikan yang uapnya naik pelan.
Langga menghitung dengan jari. "Kita tujuh, Pa. Nanti kalau Bima datang jadi delapan."
"Hari Sabtu, ya."
"Hari Sabtu," ulang Langga, puas.
Mbak Marni menaruh mangkuk terakhir, sayur asem yang mengepul. Ressie menunggu sampai semuanya tenang, lalu menaruh sendoknya di piring dan berdiri.
"Sebentar. Sebelum kita makan, Mama ada yang harus dikatakan."
Meja mendadak sunyi. Pita berhenti mengatur garpu.
Ressie menarik napas, dan Revan, yang sepanjang hidupnya tidak pernah melihat ibunya gugup, melihat jari-jarinya meremas tepi taplak.
"Ibu Arini," katanya. "Fina. Mama sudah minta maaf di kamar rumah sakit, tapi Mama merasa itu tidak cukup. Itu sembunyi-sembunyi, di antara selang dan obat. Mama mau mengatakannya di meja ini, di depan orang yang membesarkan Fina."
"Bu Ressie, tidak usah..." kata Arini.
"Harus." Ressie menegakkan punggung. "Saya menilai anak Ibu dari tempat ia datang, bukan dari apa yang ia lakukan. Itu salah saya, dan saya minta maaf."
Tak ada yang bergerak. Revan melihat Fina menatap piringnya, rahangnya kencang.
Arini meletakkan tangannya di atas meja. "Anak saya memang dibesarkan di rumah sederhana, Bu," katanya tenang. "Dia tidak pernah malu karenanya, dan saya tidak pernah malu. Tapi terima kasih sudah mengatakannya."
"Fina?" kata Ressie.
Fina mengangkat mata. "Ma, aku sudah memaafkan Mama."
"Mama tahu. Tapi Mama ingin mengucapkannya sendiri, supaya tidak ada yang bisa bilang Mama tidak pernah mengatakannya."
Ia duduk, dan Wira, tanpa menoleh, menaruh tangan di atas tangan istrinya. Langga memecah sunyi dengan suara kecil yang jernih. "Boleh makan sekarang, Oma?"
"Boleh, sayang."
Tawa kecil pecah di meja, dan sendok mulai bergerak.
•||•
Mereka makan setengah jam dalam obrolan yang aneh dan hangat: Pita menceritakan pelanggan yang mencoba menawar kopi, Wira bertanya soal gambar Langga untuk pameran kota, Arini memuji sayur asem Ressie dengan tulus. Revan mengunyah dan tidak merasakan apa pun. Ia sedang menyusun kalimat yang sudah ia susun sejak Kamis.
Ketika piring-piring hampir kosong, ia meletakkan sendok.
"Ada yang mau aku sampaikan juga."
Kepala-kepala menoleh. Fina tidak menoleh. Ia hanya diam, dan Revan merasakannya di sisi tubuhnya: perhatian yang penuh, tenang, seperti orang yang sudah menebak.
"Hasna meminta berpisah. Kamis ini ada ikrar di pengadilan agama. Aku menyetujui, bukan karena terpaksa, tapi karena itu permintaannya dan karena ia benar." Ia menelan ludah. "Aku tidak mau kabar ini sampai ke kalian lewat bisik-bisik. Aku akan tetap jadi ayah Bima dan Kirana. Mereka akan sering di sini. Hasna dan aku sudah sepakat."
Reffa tidak ada, tetapi namanya tergantung di udara. Ressie menunduk dan tidak membantah.
"Satu hal lagi." Revan menoleh ke Fina, bukan ke yang lain. "Aku tinggal di rumah ini bersama istriku. Selama Fina mengizinkan. Aku tahu sekarang apa yang Papa ceritakan di ICU. Aku tahu tentang utang itu." Wira menunduk dalam-dalam, bahunya mengecil. "Dan aku mau semua yang duduk di sini dengar: aku tidak di sini untuk melunasi apa pun. Kalau aku hanya membayar, aku akan pergi begitu lunas. Aku di sini karena aku mau di sini."
Fina menatapnya. Lama. Revan tidak tahu apa yang ia baca di wajah itu, rasa terkejut, atau rasa hati-hati, atau sesuatu yang belum punya nama. Ia tidak menyela. Ia tidak mengangguk. Ia hanya menyimpan, seperti orang menaruh surat di laci yang belum waktunya dibuka.
"Terima kasih sudah mengatakannya di depan mereka, Mas," katanya akhirnya. Pelan, tanpa menjawab apa pun yang ia tunggu. "Aku mendengarnya."
Pita menyeka mata dengan ujung serbet. Langga memandang berganti-ganti ke Papa dan Ibu, kacamatanya melorot, lalu diam-diam menyorongkan piring puding ke tengah meja, seolah itu cara paling masuk akal menyelamatkan suasana.
•||•
Wira menyusul Revan ke dapur ketika Mbak Marni sedang keluar membuang sampah. Ia berdiri bertumpu pada tongkat, lama, memandang punggung anaknya yang sibuk menata gelas.
"Van."
"Pa."
"Papa tidak berhak lega," kata Wira pelan. "Tapi Papa lega kamu mengatakan itu di meja, di depan Fina. Bukan di belakangnya."
Revan meletakkan gelas. "Papa jangan minta maaf lagi malam ini. Sudah cukup yang Mama lakukan."
"Papa tidak minta maaf. Papa cuma bilang terima kasih." Tongkat itu mengetuk lantai sekali. "Hari itu Papa takut kamu akan membencinya karena Papa yang memaksa. Ternyata Papa salah kira. Kamu justru jadi laki-laki yang Papa harapkan tiga puluh tahun lalu, sayangnya baru sekarang."
Revan tidak punya jawaban, jadi ia menyerahkan lap kering ke tangan ayahnya. Wira menerimanya, dan mereka berdua mengelap gelas dalam diam sampai Pita menjengukkan kepala dari pintu, bertanya apakah ada yang butuh bantuan membawa puding.
"Sudah, Ta," kata Revan. "Papa lagi kerja."
"Wah." Pita membelalak. "Bapak bisa lap gelas?"
"Bisa," jawab Wira dengan wajah tersinggung yang dibuat-buat. "Tiga puluh tahun saya lap gelas. Tanya Ressie."
Arini menemukan Fina di teras sesudah semua piring dicuci. Pintu kaca ke dapur terbuka dan Revan, yang menyimpan lap, mendengar tanpa sengaja.
"Nak."
"Ibu."
Arini tidak berkata apa-apa dulu. Ia hanya memeluk Fina, erat, dengan tangan di punggung yang kurus, dan Fina membiarkan kepalanya jatuh di bahu perempuan itu.
"Ibu bangga," bisik Arini. "Kamu berani bertahan. Dulu Ibu pikir bertahan itu kewajiban. Kamu menunjukkan bahwa bertahan itu juga keberanian, kalau pada akhirnya kamu sendiri yang memilih." Ia mengusap punggung Fina. "Sekarang pilihlah yang membuatmu bahagia, Nak. Bukan yang membuat orang lain tenang."
"Iya, Bu."
"Itu bukan perintah. Itu doa."
Fina tertawa kecil di bahunya, basah.
Malam hampir pukul sepuluh ketika Revan mengunci pintu depan. Rumah sudah tenang. Ia lewat di depan kamar lantai bawah dan berhenti karena lampu menyala. Pintu terbuka sejengkal, dan di dalam Fina duduk di tepi ranjang dengan amplop putih di tangan, bukan di meja, bukan tertindih buku biru. Ia memegangnya dengan dua tangan, belum membukanya.
Revan tidak bertanya. Ia hanya berdiri di ambang pintu sampai Fina mendongak.
"Kamis, Mas," katanya. "Sesudah urusan Mas di pengadilan. Aku mau membacanya sesudah itu."