Fina membuka amplop itu dengan ujung kuku, pelan, seperti membuka sesuatu yang bisa menggigit.
Minggu pagi. Teras belakang masih basah oleh sisa embun, dan di kursi rotan sebelahnya cangkir teh hijau yang ia seduh sendiri satu setengah menit tampak mengepul tipis. Revan tidak ada di sana. Ia sudah bilang akan ada di dapur, membantu Mbak Marni mengemas kue untuk dibawa ke Bogor, dan Fina menduga ia menghindar dengan sengaja, memberi ruang tanpa diminta. Janji membaca sesudah urusan pengadilan itu tertunda tiga hari; Fina menunggu sampai rumah benar-benar tenang, dan pagi ini ia merasa waktunya sudah tiba.
Kertasnya tiga lembar, tulisan tangan Hasna yang miring dan cepat, tinta biru yang beberapa kali tertetes. Ia membacanya sekali, lalu sekali lagi.
Fin,
Aku sudah menulis surat ini empat kali. Tiga yang pertama kubuang karena isinya minta maaf, dan aku sadar kamu sudah terlalu sering menerima permintaan maafku dari kemarin sampai kemarin lagi. Aku tidak minta maaf lagi. Aku bilang terima kasih.
Terima kasih karena kamu tidak membalas kata-kataku waktu aku bilang kamu jalang. Terima kasih karena kamu tidak menang, padahal kamu bisa. Aku tidak tahu perempuan lain yang bisa begitu.
Aku masih akan marah kadang-kadang. Aku tidak mau berbohong. Tapi aku mau kamu tahu: karena kamu, aku tahu aku layak dipilih utuh. Bukan separuh, bukan sisa, bukan kasihan. Kamu mengajariku itu tanpa pernah berniat mengajari.
Jaga dirimu dulu, baru jaga Revan. Dan datang ke Bogor kalau sudah kuat. Aku buatkan teh. Mama tidak akan, tapi aku.
Hasna
Fina menaruh kertas itu di pangkuannya. Burung di pagar berkicau. Ia menunggu air mata datang, dan ketika tidak datang ia sadar ia sudah menangisi semuanya, sedikit demi sedikit, sejak hari pertama pernikahan itu, dan yang tersisa sekarang adalah sesuatu yang lebih tenang.
Pintu kaca bergeser. Revan muncul dengan kardus kue di dua tangan dan berhenti, membaca wajahnya dalam satu detik.
"Kuenya sudah. Mau kutunda berangkatnya?"
"Tidak usah, Mas." Fina melipat tiga lembar itu menjadi satu. "Berangkat sekarang."
"Kamu baik-baik saja?"
"Lebih baik dari yang kukira." Ia mengangkat wajah dan tersenyum. "Aku sudah membacanya. Nanti Mas boleh baca, kalau Mbak Hasna mengizinkan."
"Aku tidak mau baca."
"Aku tahu," kata Fina. "Makanya Mas boleh."
•||•
Rumah Reffa di Bogor berpagar besi hijau, berhalaman luas, dengan pot-pot anggrek berjajar di sepanjang teras. Fina turun dari mobil dengan satu tangan di lengan Revan dan satu lagi memeluk bungkusan kain.
"Ibu!" Bima berlari dari samping rumah, hampir terpeleset di rumput basah. "Mama Ibu! Kemarin aku baru pulang dari rumah Ibu, sekarang udah kangen lagi!"
"Pelan-pelan, Bim."
Bima berhenti satu langkah di depannya, menunduk, lalu mendongak dengan wajah serius seperti hendak mengajukan permohonan ke pengadilan. "Mama Ibu. Aku tetap boleh panggil begitu?"
Fina berlutut, hati-hati, tangannya menahan perut. "Tentu."
"Walaupun Papa sama Mama sudah..."
"Walaupun begitu." Ia merapikan rambut anak itu. "Bima punya dua Ibu, ingat? Satu Mama, satu Mama Ibu. Itu tidak bisa dicabut siapa pun."
Bima memeluknya, erat dan cepat, lalu langsung melepas karena malu dilihat Langga yang berdiri di belakang dengan sepeda. "Mas! Sepedanya mana?"
"Di mobil Papa. Ayo ambil."
Dua anak itu menghilang ke arah garasi, dan Fina melihat Revan, yang berdiri di sampingnya dengan tangan di saku, tersenyum kecil.
Hasna muncul di ambang pintu dengan Kirana di pelukan. Gaunnya sederhana, rambutnya dikuncir seadanya, dan ia terlihat jauh lebih muda daripada yang Fina ingat dari beberapa bulan lalu.
"Katanya mau datang sebagai tamu," kata Hasna. "Jangan berdiri di situ. Masuk."
Fina menyerahkan bungkusan kain itu. Hasna membukanya satu tangan, dan selimut rajut merah muda pucat itu mengembang, lembut, dengan tepi bergelombang yang sedikit tidak rata karena rajutan pertama dari kemoterapi. Ada satu baris yang jelas salah, benang yang ia tarik terlalu kencang saat tangannya gemetar.
"Ini yang salah," kata Fina cepat. "Aku tidak membongkarnya."
"Aku suka yang salah." Hasna menempelkan selimut itu ke pipi Kirana. "Itu satu-satunya yang kelihatan dibuat manusia."
Mereka duduk di teras belakang yang menghadap kebun, hanya berdua. Revan sengaja mengikuti anak-anak ke garasi. Hasna menaruh Kirana di boks dan menuangkan teh dari teko kaca ke dua gelas.
"Kontrolmu kapan lagi?" tanya Hasna.
"Tiga bulan. Kalau bersih, nanti diperpanjang."
"Berarti kamu aman dulu."
"Aman dulu." Fina menunduk ke boks. "Kirana tidurnya nyenyak."
"Tidur nyenyak itu cuma kalau siang. Malamnya dia bangun tiap jam dua." Hasna menghela napas, setengah mengeluh, setengah bangga. "Mama bilang aku dulu begitu juga."
"Dimas membantu?"
Hasna mengaduk tehnya lebih lama dari perlu. "Dia datang tiap Sabtu bawa belanjaan, berdiri di pagar. Aku suruh masuk, dia bilang nggak enak sama Mama. Mama sendiri yang akhirnya menyuruhnya masuk dan menyuruhnya perbaiki keran." Ia berhenti. "Jangan senyum."
"Aku tidak senyum."
"Kamu senyum di dalam kepala."
"Sudah baca?" tanya Hasna, tidak menatapnya.
"Sudah."
"Jangan dibahas. Aku malu."
"Aku tidak akan membahas." Fina menyentuh gelasnya. "Tapi aku mau Mbak tahu: aku membaca bagian terakhir tiga kali."
Hasna tertawa pendek, matanya basah. "Kamu ini."
Mereka diam. Dari kebun terdengar bunyi rantai sepeda dan teriakan dua anak laki-laki berebut siapa yang duluan.
•||•
Reffa keluar membawa nampan ketika matahari mulai naik. Ia meletakkannya di meja teras tanpa kata: dua cangkir kecil, sepiring kue sus, dan satu teh hangat dengan irisan jahe. Teh itu ia taruh persis di depan Fina.
Fina menatap cangkir itu, lalu Reffa. Ia ingat kata Hasna di tangga, beberapa pekan lalu: dia tidak akan mengatakan apa-apa, tapi dia akan menyuguhkan teh.
"Terima kasih, Tante."
Reffa tidak langsung pergi. Ia berdiri dengan tangan bertaut, memandangi kebun, bukan Fina. Rahangnya mengencang dan mengendur.
"Hasna bilang," katanya, pelan sekali, "kamu yang menyuruh Revan pergi hari itu. Hari anak saya melahirkan."
"Saya hanya..."
"Saya belum selesai." Reffa akhirnya menoleh. Matanya tua dan lelah, tetapi tidak lagi keras. "Kalau kamu menahannya, Revan terlambat, dan Hasna melahirkan sendirian. Saya sudah memikirkannya berhari-hari. Kamu bisa saja menahannya. Kamu tidak." Ia menarik napas. "Terima kasih, Fina."
Itu kalimat lembut pertama yang pernah Reffa ucapkan kepadanya. Fina memegang cangkir dengan dua tangan supaya tidak bergetar.
"Sama-sama, Tante."
Reffa mengangguk kaku dan kembali ke dalam. Hasna menatap ibunya yang menjauh, lalu menatap Fina dengan mata yang menyipit dan geli, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang nyaris mustahil.
"Dia akan menyangkal kalau ditanya," bisik Hasna.
"Aku tidak akan bertanya."
Dari garasi terdengar tawa Langga dan Bima, lalu bunyi sepeda menggelinding di paving, dua bayangan kecil melintas di ujung kebun. Fina menyesap teh jahe itu. Hangat, pedas, sedikit terlalu manis. Persis seperti yang ia butuhkan.