Pita sudah menunggu di depan toko sejak pagi, dan itu pertanda buruk, atau sangat baik.
Revan menghentikan mobil di tepi trotoar. Ia turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Fina, dan menjaga tangannya tetap di sisi tubuh sambil memperhatikan Pita yang berdiri di depan pintu kaca, menggigit bibir dengan wajah sudah merah.
"Bos Revan," bisik Pita ketika mereka sampai. "Jangan lihat dulu. Nanti Mbak Fin lihat."
"Lihat apa, Ta?" tanya Fina.
"Nggak ada. Mbak masuk dulu. Pelan-pelan, awas bendul."
Fina masuk. Revan menyusul dan berhenti di ambang pintu, karena pemandangan di dalam membuat langkahnya tertahan.
Papan menu hari kopi, yang selama ini bertuliskan kapur miring buatan Langga, sudah diganti. Papan kayu baru, hitam, di dinding sebelah etalase. Di atasnya, dengan cat putih yang tampaknya ditulis berkali-kali sampai rapi, tertulis dua kata besar: KOPI BU FINA. Di bawahnya lebih kecil: Selasa, Kamis, Sabtu. Dan di pojok, tulisan tangan yang jelas milik anak kecil: "Dibuat dengan sabar."
Fina berdiri diam. Revan tidak bisa melihat wajahnya dari belakang, hanya bahunya yang naik pelan.
"Pita," katanya akhirnya. "Ini..."
"Kejutan, Mbak." Pita menyeka hidung dengan punggung tangan. "Pita minta tolong tukang yang bikin papan menu warung sebelah. Pita minta Langga tulis kalimat pojoknya. Mbak jangan marah, Pita udah bayar sendiri, bukan pake uang toko."
"Aku tidak marah."
"Terus kenapa Mbak diam?"
"Karena aku sedang mencari kata yang lebih besar dari terima kasih."
Pita menangis lagi. Revan memejamkan mata sebentar dan tersenyum.
"Bos Revan juga," isak Pita, menunjuk dengan telunjuk basah. "Bos Revan tahu dari minggu lalu, kan? Tadi Bos kelihatan pura-pura kaget."
"Saya tidak pura-pura."
"Muka Bos itu nggak bisa bohong, tau. Mirip kucing yang ketahuan mencuri ikan."
•||•
Pukul sembilan, setelah Fina duduk di kursi tinggi dekat mesin kopi, mengelus tuasnya seperti mengelus punggung kucing lama, Revan mengeluarkan bungkusan dari mobil. Bingkai kayu sederhana, dilapisi kertas cokelat.
"Mas bawa apa?" tanya Fina.
"Hadiah dari Langga. Katanya harus digantung sebelum toko buka."
Ia membuka kertasnya. Gambar itu: Teh Hijau. Seorang laki-laki di dapur, dengan celemek bunga-bunga dan rambut mencuat, menuang air dari ketel ke cangkir. Di meja makan, perempuan kurus dengan bergo hitam menatapnya sambil tersenyum setengah mengantuk, dan anak kecil berkacamata di sudut ruangan memperhatikan keduanya dari balik gelas susu. Di bawah, Langga menulis tanggal dan nama dengan huruf kapital: TEH HIJAU. UNTUK IBU.
Revan memegang gambar itu lama, meski sudah melihatnya puluhan kali sejak pameran.
"Di sebelah papan menu," kata Fina. "Tapi lebih rendah. Supaya Langga bisa lihat tanpa menjinjit."
Revan mencari paku, palu kecil dari laci Pita, dan mulai bekerja. Pukulan pertama meleset dan mengenai jarinya. Pita menahan tawa sampai bahunya bergetar.
"Bos jago nulis laporan, tapi paku nggak?"
"Diam, Ta."
"Siap, Bos. Diam." Pukulan kedua lebih baik. Ketiga masuk. Ia menggantung bingkai itu, mundur, dan memiringkan kepala.
"Miring," kata Fina.
"Ke kiri atau ke kanan?"
"Ke kiri. Sedikit." Ia memberi isyarat dengan telunjuk. "Sedikit lagi. Sudah. Pas."
Pelanggan pertama masuk pukul sepuluh kurang lima: seorang ibu paruh baya dengan tas anyaman. Revan mengenalinya, perempuan yang memeluk Fina dengan air mata di hari kopi terakhir sebelum operasi.
"Mbak Fina," kata ibu itu pelan. "Saya dengar Mbak sudah buka lagi. Saya ke sini... Saya kangen kopinya."
"Hari ini kopinya belum diumumkan resmi, Bu," kata Pita cepat. "Tapi untuk Ibu..."
"Untuk Ibu, saya yang buatkan," kata Fina.
Ia turun dari kursi tinggi, berdiri di belakang mesin, dan mengerjakannya sendiri: menimbang, menggiling, menekan, menuang. Revan memperhatikan tangannya. Gerakannya masih halus, tetapi sedikit lebih lambat dari yang ia ingat dari hari kopi yang dulu. Ia membuatkan dua cangkir lagi untuk pelanggan berikutnya, lalu satu lagi.
Satu jam.
Ketika Revan melihat Fina menyangga diri dengan tangan di tepi meja, ia sudah melangkah maju, tetapi Fina menggeleng sebelum ia sempat membuka mulut.
"Cukup," katanya sendiri. Ia berbalik pada Pita, dan suaranya tidak gemetar. "Ta, ambil alih. Tiga cangkir terakhir, takarannya sama. Aku mau duduk."
"Siap, Mbak."
"Mas, aku mau duduk."
"Ini." Revan menarik kursi. Fina duduk dan menyandar. Napasnya pendek, tapi wajahnya tidak murung. Ia menatap Pita yang kini mengerjakan pesanan dengan hati-hati, lidahnya menjulur sedikit.
"Tidak mudah," bisik Fina, lebih kepada dirinya. "Berhenti padahal masih mau."
"Kamu hebat."
"Bukan hebat. Belajar." Ia tersenyum miring. "Tubuh yang ini tidak bisa dibujuk."
Ibu paruh baya tadi bangkit dari mejanya dan mendekat dengan cangkir kosong di tangan. "Mbak Fina. Enak. Sama persis seperti dulu."
"Terima kasih, Bu. Besok Selasa saya buka lagi."
"Saya datang tiap Selasa, kalau begitu." Ia menatap Fina dengan mata yang lembap. "Dua belas tahun lalu saya juga duduk seperti Mbak sekarang. Pelan-pelan, ya. Yang penting tetap buka."
•||•
Sepulang sekolah, pintu toko berdenting dan dua bayangan kecil masuk berebutan.
"Ibu!"
Langga dan Taya berseragam, tas di punggung, masing-masing memegang gulungan kertas. Taya lebih dulu mengangkat miliknya. Gambar toko kue dari luar, dengan papan KOPI BU FINA terpampang dan lampion kecil berderet di atap.
"Itu gambar Tante Fina lagi buka toko," katanya bangga. "Gambar Langga lain. Dia nggak mau tunjukkin."
"Mas Langga?"
Langga menyodorkan kertasnya ragu. Isinya bukan gambar toko. Isinya laki-laki berkacamata dan perempuan berbergo di tepi laut, menghadap air yang tak berujung, tidak ada orang lain di pantai kecuali dua anak kecil dan seekor kepiting.
"Langga baca di buku biru," katanya, memerah. "Maaf, Bu, nggak sengaja. Tapi Langga mau ikut."
Fina tertawa sampai terbatuk, dan Revan tertawa bersamanya.
Di pintu, sebuah bayangan tinggi berdiri tanpa masuk. Iqbal. Ia mengangkat satu tangan, tersenyum pada Fina, dan berkata ke arah Revan, "Pak Revan. Taya minta saya antar, tapi saya tahu diri."
"Dokter mau masuk?"
"Kopinya enak, saya dengar. Lain kali." Ia memberi hormat dengan dua jari ke dahi, lalu berbalik pergi.
"Papa nggak minum kopi sore-sore!" teriak Taya dari dalam. "Katanya nanti nggak bisa tidur!"
Revan menatap punggung Iqbal yang menjauh, lalu Fina yang sedang menyeka air mata tawa dengan jari. Ia berjongkok di sampingnya supaya sejajar.
"Fin."
"Hm?"
"Minggu ini kita ziarah ke Mama dan Papa kamu."
Fina berhenti tertawa. Sebentar saja, ia menatap Revan, lalu Langga yang pura-pura sibuk dengan krayon, lalu papan menu bertuliskan namanya.
"Iya," katanya. "Aku juga mau ke sana."