1 bulan kemudian...
Arvin menyampaikan informasi ke Cerina kalau komunitas anak surabaya angkatan mereka di Fakultas Teknik berencana untuk pulang kampung bersama Hari Sabtu minggu ini dengan transportasi bus.
"Rin, anak teknik rencana pulang sabtu ini naik bus. Kamu gimana jadinya pulangnya?"
"Oh sama vin, anak ekonomi juga pulang sabtu ini. Aku udah daftar buat ikut pulang bareng sih."
"Oalah, sip deh. Aku tak daftar juga habis ini." Sahut Arvin sambil terus melajukan motornya menuju kos Cerina.
Setelah kembali dari mengantarkan Cerin pulang. Saat Arvin sudah tiba di kontrakan, ternyata sudah banyak teman-teman Arvin yang ada di ruang tengah sedang bermain PS. Iya, berbeda dengan Cerin yang memilih untuk tinggal di kamar kos. Arvin memilih untuk tinggal di rumah kontrakan bersama dengan teman-temannya yg ia kenal berasal dari Surabaya juga. Mereka satu universitas namun beda-beda jurusan.
Sambil bermain bola di PS, Arvin yg mengetahui salah satu temannya merupakan PIC pulang kampung bersama di fakultasnya dia mulai mencari tahu apakah mereka akan gabung dengan fakultas lain atau tidak.
" Eh Do, mulih kapan (pulang kapan)?" Tanya Arvin kepada Edo temannya sekontrakan yang merupakan anak dari Fakultas Ekonomi.
"Sabtu iki, bareng rombongan bro."
"Oh iyo, kan ngkok fakultasmu mbek fakultasku bareng nge bus e (Oh iya, kan nanti fakultasku dan fakultasmu akan naik bus bersama)." Sahut Ali teman sejurusan Arvin.
"Maksude podho-podho nge bus e opo dadi siji bus e? (Maksudnya sama-sama naik bus atau jadi satu bus nya?)" Arvin yang merasa pancingan pertanyaan nya berhasil langsung bertanya menanggapi jawaban yang diberikan Ali.
"Dadi siji lah, berbaur kita. Sopo ngerti onok sing iso dadi jodohku kan (Jadi satu lah, berbaur kita. Siapa tau ada yang bisa jadi jodohku)" Jawaban Ali pun disambut tawa oleh para laki-laki yang sedang bermain di ruang tengah kontrakan Arvin itu, dan tidak sedikit dari mereka yang meneriakan kata 'modus'.
Keesokan harinya, seperti hari-hari sebelumnya Arvin mengantarkan Cerin pulang kuliah ke kosnya. Saat sudah tiba di depan kos Cerin. Arvin menawarkan untuk mengantar Cerin ke kampus saat besok pulang kampung bersama. Karena bus yg membawa rombongan mereka menjemput di kampus.
"Btw rin, besok ke kampusnya gimana kamu?"
"Ya kayak biasanya aja ke kampus vin jalan, kan gak ada alternatif lain sih. Deket juga. Kecuali kalau ada yang mau nganterin sih." Cerin menjawab sambil memainkan bola matanya, berniat memancing kepekaan Arvin.
"Ya kalau dibolehin nganter mah aku gas gas ae."
"Okee gass." Jawab Cerin bersemangat disertai senyuman lebar, sambil berbicara dalam hati. Peka juga si Arvin.
Hari Sabtu telah tiba. Sesuai janjinya Arvin datang ke kos Cerin untuk mengantarkan gadis itu ke kampus. Saat Arvin datang, Cerin menatapnya dengan heran. Tapi berhasil dia kendalikan lagi saat Arvin sudah benar-benar berada di depannya.
"Ayok, bawaanmu mek (cuma) itu tok a?" Tanya Arvin.
"Yuhuu, iya ngapain bawa banyak-banyak."
Saat Arvin sudah mulai melajukan motornya, Cerin bertanya apakah Arvin memang tidak membawa barang apapun untuk pulang. Tapi ternyata diluar dugaan Cerin. Barang Arvin masih ditinggal di kosnya. Dia akan mengambilnya setelah mengantarkan Cerin, dan dia nanti ke kampus akan diantarkan oleh teman kontrakannya yang tidak pulang.
"Lah, kasihan Eben dong nganterin kamu. Maaf ya gara-gara aku kamu jadi bolak-balik dan jadi ngerepotin Eben." Ucap Cerin tulus dengan nada sedih.
Mendengar jawaban Cerin, Arvin justru jadi tertawa "Hahaha santai kali rin. Eben kok dikasihani. Gak apa-apa kok. Toh nanti selama kita pulang kampung motorku mau sekalian di pinjem sama dia."
Kedatangan Cerin yang diantar Arvin dilihat oleh salah satu teman Fakultas Arvin,yaitu Defi. Defi tidak hanya mengenal Arvin, tapi juga mengenal Cerin karena sering pulang kampung bersama. Setelah Arvin pergi, Defi menghampiri Cerin yang masih berdiri di tempatnya diturunkan oleh Arvin dan belum berjalan menuju teman-temannya yang menanti bus mereka datang.
"Ciyee." Terdengar pekikan kompak tepat di belakang Cerin membuatnya langsung menoleh. Cerin langsung merasa malu setelah ketahuan diantar ke kampus oleh Arvin. Karena kedekatan mereka selama ini hampir tidak ada yang tau. Kecuali bestie-bestie Cerin yang sudah mendapat kepercayaannya kalau apapun yang diceritakan Cerin tidak akan bocor.
Setelah Defi dan temannya, Putri sudah saling berhadapan dengan Cerin. Tanpa ragu dan basa-basi lagi. Putri yang dasarnya ngomongnya ceplas ceplos langsung bertanya apa hubungan Cerin dan Arvin.
"Hubungan apa Put?" Cerin yang ditanya pun pura-pura tidak paham perihal yang ditanyakan Putri.
"Kamu pacaran sama Arvin rin?" Putri kembali bertanya.
Pertanyaan Putri sontak membuat Cerin kaget tapi sekaligus tertawa. Kaget karena kenapa Putri bisa berfikiran seperti itu. Tapi juga tertawa menertawakan hubungannya dengan Arvin yang hingga saat ini tidak ada kejelasan.
"Hahaha temen aja kita Put."
Putri yang tau betapa dinginnya sikap Arvin langsung menjawab lagi dengan nada khasnya yang terkenal jutek kalau bicara dan bicara seperti tidak ada spasi titik komanya.
"Gak mungkin kalau temen doang dia mau nganterin sampe bolak balik gitu. Orang aku aja kemarin minta tolong dianterin dianya gak mau, alasannya males bolak balik. Eh ini tadi aku lihat dia nganterin kamu. Mana dia gak sekalian bawa barang kan. Dia balik lagi, pasti mau ambil barangnya dulu. Pasti kalian ada apa-apa ini"
"Yaudah sih itu emang udah derita lo." Jawab Defi sambil sedikit ketawa.
Cerin yang mendengar itu hatinya berbunga-bunga, karena artinya Arvin rela berkorban waktu demi dia. Namun saat teman Arvin yang ngomel-ngomel tak berjeda itu pergi.
"Rin, bukannya Arvin udah punya cewek ya?"