"Rin, bukannya Arvin udah punya cewek ya?"
Defi yang mengetahui kalau Arvin sudah memiliki pacar sontak menanyakannya ke Cerin untuk memastikan. Membuat suasana hati Cerin seketika berubah drastis, hati yang awalnya berbunga-bunga rasanya langsung dijatuhkan begitu saja menjadi begitu gelap. Tetapin, Cerin masih berusaha untuk mengontrol ekspresi raut wajahnya agar tidak terlihat sedih.
"Ohya ta? Aku gatau tuh Def. Mereka masih pacaran kah sampai sekarang?" Bukannya jawaban yang Cerin berikan tapi justru pertanyaan balik kepada Defi.
Defi yang jadi tidak enak hati kepada Cerin karena pertanyaannya pun. Memilih pura-pura tidak tahu apakah Arvin masih berpacaran atau mereka sudah putus.
"Eh aku juga gatau sih masih atau dah putus. Tapi kalau lihat kalian kayaknya dah putus deh." Sambil nyengir-nyengir kuda Defi menjawabnya dan hal itu membuat Cerin hanya bisa membalas dengan senyuman manisnya.
Saat Defi dan Cerin asik berbincang, mereka melihat bus yang akan membawa mereka pulang kampung memasuki gerbang kampus. Mereka pun akhirnya ikut berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Setelah PIC pulang kampung mereka mengabsen, mereka pun mulai memasuki bus.
Cerin memasuki bus diikuti oleh Nilam, teman satu jurusan Cerin. Saat sudah memilih tempat duduk, tanpa sadar Cerin melihat Arvin yang ternyata masuk bus tepat Setelah Nilam. Dia pun memilih tempat duduk tepat di depan Cerin. Cerin pun tersenyum bahagia, dan dibalas senyuman juga oleh Arvin. Mereka berdua saat ini duduk depan belakang dengan posisi yang sama-sama di dekat jendela. Posisi duduk mereka yang tidak bersebelahan tidak menghambat mereka untuk tetap mengobrol. Arvin dan Cerin sepanjang perjalanan tetap mengobrol. Ya walaupun pinggang dan leher Arvin jadi korbannya, karena dia sering menoleh ke belakang untuk bisa tetap mengobrol dengan Cerin.
Arvin yang terlihat senang mengobrol sepanjang perjalanan dengan Cerin terlihat tidak mau berhenti mengobrol. Bahkan dia sampai tidak membiarkan Cerin tidur. Padahal perjalanan ini merupakan perjalanan malam. Setiap Cerin akan tidur, Arvin tidak segan-segan untuk mengganggunya.
"Ih ngantuk an, jam berapa ini wes tidur ae kamu." Celetuk Arvin yang melihat Cerin baru saja memejamkan matanya.
"Merem aja sih vin, belum tidur kok." Kilah Cerin, yang sebenarnya dia mengantuk. Hanya saja dia juga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa mengobrol dengan Arvin.
"Vin rodok rono an loh. sempit aku iki. (Vin agak kesana an deh, aku kesempitan)" Tiba-tiba saja Ali yang duduk di sebelah Arvin protes dengan nada agak kesal. Karena Arvin menoleh ke belakang dengan tanpa melihat situasi kondisi sekitar. Tanpa sadar badan Arvin yang besar itu, pantatnya mendorong badan Ali yang kecil hingga space tempat duduk Ali sempit. Beruntung ada sandaran tangan di sisi tempat duduk Ali yang dekat lorong bus. Kalau tidak ada mungkin Ali sudah jatuh terjerembab di lantai bus.
Arvin yang tersadar, langsung reflek tertawa begitu pula dengan Cerin. Dia juga meminta maaf kepada Ali dan segera membenarkan posisi duduknya. Setelah itu dia melanjutkan lagi mengobrol dengan Cerin. Dan lagi lagi Ali protes karena lama-lama p****t Ali kembali mendorong tubuhnya. Arvin memang kalau sudah mengobrol dengan Cerin jadi lupa situasi kondisi.
Di saat Arvin dan Ali masih berdebat permasalahan tempat duduk mereka, teman Cerin yang duduk di seberang Nilam, Mono mengatakan ke Nilam untuk menggoda Cerin."Sabar ya Lam, seharian bakal jadi obat nyamuk. Mending pindah tempat duduk aja deh tuker sama Arvin.Hahaha"
Mendengar itu Nilam mengiyakan dan ikut tertawa. Cerin yang sadar telah mengabaikan temannya langsung meminta maaf ke Nilam dan dijawab oleh Nilam dengan tertawa dan menyuruh Cerin untuk meneruskannya tidak apa-apa. Karena Nilam sendiri lebih memilih untuk bermain Hp. Tapi karena sudah terlanjur tidak enak hati. Cerin pun berhenti mengobrol sejenak dengan Arvin dan mengobrol dengan Nilam. Tapi siapa sangka Mono menggoda Cerin lagi. "Kok ga dilanjut ngobrolnya sama abang rin?"
"Apa sih? iri bilang boss." Jawab Cerin dengan nada tinggi yang biasa dipakainya kalau lagi ngomong dengan Mono. Karena mereka berdua memang entah mengapa tidak pernah akur. Mono yang suka menggoda Cerin, dan Cerin yang lama-lama kesal dengan Mono yang selalu menggoda nya. Mono itu dasarnya emang usil orangnya.
Lalu saat bus berhenti di rest area karena ada yang mengeluh perutnya sakit. Hampir semua orang dalam bus ikut turun untuk merilekskan badan yang dirasa pegal akibat duduk berjam-jam dengan space yang sempit, begitupun Nilam. Tapi Cerin yang dasarnya mageran tidak mau turun bus. Tinggallah dia dg segelintir orang dalam bus, termasuk Arvin. Saat itu lah mereka mengobrol lagi dan tidak disengaja sama-sama melihat bulan yang saat itu sedang cantik-cantiknya. Bulat sempurna dengan warna yg sangat bersinar terang.
"Rin lihat deh itu bulannya bagus."
"Woh iya bagus bulet terang gitu."
"Ya bulet e gausah sambil natap aku gitu." Arvin menjawab dengan nada kecewanya. Cerin sebenarnya tidak ada niatan untuk menyindir badan Arvin yang bulet. Karena sebenernya badan Arvin itu tidak bulat sempurna. Hanya besar saja, apalagi jika dibandingkan dengan Cerin. Kalau mereka berdiri bersisihan maka akan terlihat seperti angka sepuluh berjalan. Begitupun dengan Arvin, dia sebenarnya hanya bercanda terkait body shamming untuk dirinya sendiri. Karena Cerin sudah biasa bercanda dengan arvin, ia pun paham dan langsung menanggapi dengan bercanda juga.
"Ups keceplosan. Habisnya mirip. Bunder seser.Hahaha."
"Terusno terusno enak enakno." Arvin pura-pura marah, tapi dengan raut wajah yang tersenyum menanggapi candaan Cerin.
Mereka terus membahas bulan tiada henti sampai tidak sadar teman-teman mereka sudah masuk bus lagi dan lagi-lagi Cerin kena sentil si Mono.
"Gmana bincang-bincang e wes sampe Surabaya durung?(Bagaimana bincang-bincangnya sudah sampai Surabaya belum?)"
"Lapo seh No. Wes ndang turu kono loh.(Ngapain sih No. Udah cepat tidur sana)" Jawab Cerin ketus.
Setelah debat kusir dengan Mono yang tidak akan ada ujungnha selesai. Akhirnya Cerin bilang ke Arvin kalau dia sudah mulai mengantuk, dan mengajak Arvin untuk tidur saja. Walaupun sebenarnya kalau mengobrol dengan Arvin rasa kantuk cerin hilang. Tapi karena sudah terlalu malam Cerin pun sadar diri tidak enak dengan Nilam kalau dia berisik sedangkan Nilam pasti juga ingin istriahat. Sehingga dia memilih untuk tidur juga seperti Nilam.
Akan tetapi, ternyata Arvin tidak membiarkan Cerin tidur begitu saja. Dia masih saja menoleh ke belakang dan mengganggu Cerin.
"Lah kan ngantuk an. Ngunu ngelokno aku.(Gitu mengejek aku.)"
"Lah kan lek kamu emang ngantuk an tiap hari. Liat tuh matamu udah segaris loh daritadi."
"Ini wes dari lahir Rin." Jawab Arvin sambil tersenyum. Karena mata Arvin memanglah sipit.
"oh iya lupa Vin. Hahahaha"
Arvin dan Cerin memang sudah sangat terbiasa saling becanda tentang fisik mereka. Itu sebabnya walaupun saling mengejek, tidak ada yang merasa sakit hati. akan tetapi mereka tidak pernah bercanda atas fisik orang lain.
"Ngantuk tenanan ta?(Ngantuk beneran kah?)" Arvin bertanya memastikan saat melihat Cerin yang masih kadang menutup mata kadang membuka matanya.
"hmm" Jawab Cerin singkat dengan mata yang sudah terpejam.
Tidak lama setelah Arvin mengembalikan posisi duduknya menghadap ke depan lagi, Arvin kembali menengok ke belakang.