"Siapa yang kau sebut sialan?"
Deg.
Leticia sontak membalikkan badan kearah asal suara. Wajahnya langsung pucat. Matilah dia setelah ini. Bagaimana tidak, Lukas, pria yang barusan dia sebut sialan, tengah memandanginya dengan tajam.
Pria itu berdiri tegap seraya meletakkan kedua tangannya didada.
"Kenapa diam? Tanyanya lagi. Dia menaikkan sebelah alisnya.
Leticia mengerjapkan mata lalu menelan salivanya dengan gugup. "Aku...aku tidak mengucapkan kata sialan tadi. Kau pasti salah dengar." Elaknya, namun tidak berani menatap mata Lukas.
"Salah dengar? Pendengaranku masih berfungsi dengan baik jika kau ingin tahu. Dan aku jelas-jelas mendengar kata sialan dari bibirmu itu." Ucap Lukas, lalu melangkah satu langkah. Membuat jarak diantara mereka semakin tipis.
"Benarkah? Astaga! Aku pasti asal bicara saja tadi. Aku merasa kesal karena belum mendapatkan taxi. Itu saja. Ya aku kesal karena itu." Lagi-lagi Leticia mengelak.
Lukas menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Leticia. "Kau yakin?" Bisiknya pelan. Dia sedikit menghembuskan napas disana. Lalu kembali menegakkan kepalanya. Menatap tepat ke manik mata wanita itu. "Jadi, Aku sialan? Sungguh?" Lukas berdecak. "Harusnya kau tidak mengumpat dibelakangku. Itu terlihat seperti seorang pengecut." Ucapnya lagi.
"Aku...aku tidak..." Leticia diam sebentar, mencoba mencari alasan yang tepat. "Maaf." Namun yang keluar dari bibirnya justru permintaan maaf. Dan itu berarti dia baru saja mengakui kesalahannya.
"Hanya maaf?"
Leticia mendongakkan kepalanya, menatap Lukas yang lebih tinggi darinya. "Aku tidak bermaksud apa-apa. Sungguh. Aku minta maaf."
Lukas berdecak. "Dasar wanita! Selalu saja bertindak sesukanya lalu meminta maaf sesukanya juga."
Leticia menundukkan wajah, merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol ucapannya. "Aku minta maaf."
"Kalau aku bilang aku tidak memaafkanmu bagaimana?" Ucap Lukas, mencoba menantang Leticia. Dia ingin tahu seberapa besar nyali wanita itu.
"Aku akan melakukan apapun asalkan kau memaafkanku, dan juga..." Leticia sengaja menggantung kalimatnya.
"Dan juga...?" Tanya Lukas, dengan nada menggantung juga.
"Dan juga jangan memecatku karena permasalahan ini." Jawab Leticia dengan pelan.
Lukas mengerutkan dahi dengan ekspresi heran yang tidak mampu ditutupinya. Kenapa wanita itu malah mengatakan bahwa Lukas akan memecatnya. Setau dirinya, dia tidak menyinggung masalah itu sama sekali. "Kau mengira aku akan memecatmu karena ini?"
Leticia mengangguk.
"Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak bisa mengerti jalan fikiran wanita." Ucapnya sedikit dramatis. Lalu kembali menatap Leticia. "Kau yakin akan melakukan apapun asal aku memaafkanmu?"
Leticia kembali mengangguk. Kali ini dengan antusias.
Lukas berfikir sebentar. "Aku belum menginginkan apapun sekarang. Jadi anggap saja kau punya satu hutang permintaan maaf padaku."
"Tapi..."
"Kau tidak terima? Kenapa aku merasa kau tidak menyesal sama sekali!" Ucap Lukas lagi, sengaja membuat Leticia semakin gugup. Karena dengan melihat wanita itu gugup, membuatnya merasa terhibur.
Leticia menggeleng. "Aku sungguh menyesal. Aku tidak berbohong."
Lukas mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan mempercayainya. Nanti jika aku sudah menginginkan sesuatu, aku akan mengatakannya kepadamu. Sekarang, ayo ikut aku, aku akan mengantarkanmu pulang."
Leticia menatap Lukas dengan heran. "Tidak usah. Kau pergi saja bersama Nyonya Adeline. Aku naik taxi saja."
"Kau berani memerintahku?"
Leticia kembali menggeleng. "Bukan begitu!" Ucapnya cepat. "Aku hanya tidak ingin menyusahkanmu."
"Memangnya aku bilang kalau kau menyusahkan?"
"Tidak..."
Lukas berdecak. "Aku sepertinya harus ekstra sabar menghadapimu!" Ucapnya lalu menarik tangan Leticia dan melangkah menuju mobil.
***
tok tok tok.
Suara ketukan dipintu kamar Leticia membuat kegiatan tidur-tidurannya terganggu. Dia beranjak melangkah menuju pintu.
"Leo, kenapa?" Tanya Leticia, kepada adik bungsunya. Jarang sekali pria itu menemuinya ke kamar begini, kalau tidak ada yang penting. "Masuklah." Ajak Leticia, menggeser tubuhnya. Setelah itu menutup kembali pintu kamar.
"Kakak sibuk?" Tanya Leo.
Leticia menggeleng. "Tidak. Ada apa? Kau ada masalah?" Leticia balik bertanya. Dia duduk diatas kasur. Sementara Leo duduk di sofa yang ada dikamar Leticia.
"Kak..."
"Hm."
"Kau mencintai Lukas?"
Leticia sontak terbatuk, lalu berdeham. "Kau ini bicara apa. Mana mungkin kakak mencintainya."
"Kak, aku tidak akan memaksamu untuk mengakuinya. Tapi, sebagai adik, aku minta kau lupakan apapun yang kau rasakan terhadap pria itu."
"Leo, apa maksudmu?"
"Aku tahu kau mengerti maksudku, kak. Kau terlalu baik untuknya. Dia itu b******k ! Dia tidak akan bisa hidup dengan satu wanita saja dihidupnya. Tolong kak, Jangan berharap apapun padanya."
"Leo..."
"Aku mengatakan ini karena aku menyayangimu kak. Aku tidak ingin kau terluka olehnya."
Setelah mengatakan itu, Leo lalu beranjak keluar dari kamar Leticia.
***
Group chat the brothers.
Tristan Alaric : Tania mengundang kalian semua untuk makan malam besok. Diharapkan kehadiran kalian beserta keluarga.
Danis Hansel : Ada acara apa? Istrimu ulang tahun?
Tristan Alaric : Tidak, kami mengadakan syukuran atas kehamilan Tania. Akhirnya kami diberi kepercayaan setelah tiga tahun menikah.
Orlando Arsenio : Wah, berita bagus. Selamat Brother. Kau akan menjadi seorang ayah sebentar lagi.
Danis Hansel : Selamat brother. Aku akan datang bersama Lily, Layla dan Leondre.
Orlando Arsenio : Aku juga akan datang bersama Valeria dan Vando.
Lukas Benyamin : Sialan kalian semua ! Kalian ingin pamer istri dan anak ya?
Tristan Alaric : Thank you brothers. Hahaha. Makanya menikah Luke, kau akan tahu bagaimana enaknya punya istri.
Lukas Benyamin : Aku sudah tahu bagaimana rasanya berhubungan suami istri. Tidak perlu menikah untuk merasakannya.
Tristan Alaric : Sialan kau ! Bukan itu maksudku.
Orlando Arsenio : Aku prihatin sekali kepadamu Luke. Kewarasanmu sudah benar-benar hilang sepertinya.
Lukas Benyamin : Jangan perhatian begitu Orlandoku sayang. Walaupun belum menikah, aku pastikan aku hanya tertarik kepada wanita. Trust me.
Orlando Arsenio : Terserah kau saja. Aku malas berurusan denganmu.
Danis Hansel : Jangan meladeni pria gila itu. Biarkan saja dia dengan kegilaannya.
Luka Benyamin : Mulutmu semakin pintar saja sejak kutinggalkan Danis. Kau dendam karena aku mencampakkanmu ya?
Danis Hansel : Enyahlah kau pria gila!
Tristan Alaric : Kau harus datang besok Luke. Kalau tidak kubakar kantormu itu.
Lukas Benyamin : Bakar saja. Aku punya asuransi.
Tristan Alaric : Baiklah kalau begitu aku akan menyuruh sepupuku untuk mendekati sekretarismu yang cantik itu. Bagaimana?
Lukas Benyamin : Damn you, Tristan. Aku akan datang. Kau puas?
Orlando Arsenio : Oh jadi kau diam-diam ada affair dengan sekretarismu ya? Dasar c***l!
Lukas Benyamin : Jaga ucapanmu Orlando, sebelum aku menculik Vando selama tiga hari.
Orlando Arsenio : Menculik? Ck. Tidak akan kubiarkan! Kau tidak akan bisa lagi membujuk Vando untuk diajak pergi denganmu.
Lukas benyamin : Hahaha. Kau pasti meracuni fikiran anakmu kan? Dasar! Ayah macam apa kau ini.
Orlando Arsenio : Aku akan melakukan apapun untuk melindungi anakku dari pria gila sepertimu, Luke.
Lukas tertawa karena telah berhasil membuat sahabat-sahabatnya merasa kesal. Dia memang selalu begitu. Membuat semua orang merasa gila menghadapi tingkahnya.
Namun hanya saat bersama mereka saja. Jika saat sedang sendiri seperti ini. Dia akan kembali merasa kesepian dan merasa hampa.
Keluarga.
Dia bahkan tidak pernah benar-benar merasakan memiliki keluarga.
***