Siang yang cerah. Leticia sedang sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun alasan dia bekerja disini adalah karena Lukas. Namun dia juga tidak ingin menghabiskan waktu hanya dengan memandangi atau memikirkan pria itu.
Baginya, jika dia memang mencintai Lukas. Maka dia akan sebisa mungkin membantu mengurangi pekerjaan pria itu.
"Selamat siang, Leti..." Sapa seorang wanita paruh baya.
Leticia mendongakkan wajahnya. "Siang Nyonya. Maaf saya tidak melihat anda." Ucapnya seraya menundukkan badan, merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Leti. Kau terlihat sedang sibuk." Ucap wanita itu lagi.
Dia adalah Haralda, ibu kandung Lukas.
"Begitulah Nyonya. Anda mau bertemu Tuan Lukas?" Tanya Leticia, dengan nada enggan.
Haralda mengangguk. Dan tiba-tiba saja wajahnya menjadi sendu. "Aku merindukannya. Jika tidak mendatanginya seperti ini, maka aku tidak akan bisa melepaskan kerinduanku."
Leticia memasang wajah prihatinnya. Sedikit-sedikit dia mulai mengetahui bagaimana kehidupan Lukas selama ini. Dan bagaimana hubungan pria itu dengan keluarganya.
"Tuan Lukas ada didalam. Mau saya antar Nyonya?" Ujar Leticia, menawarkan diri.
Haralda menggeleng. "Tidak usah, Leti. Kau lanjutkan saja perkerjaanmu."
Leticia mengangguk. Lalu membiarkan Haralda melangkah menuju ruangan Lukas.
Diam-diam, dia berdoa didalam hati, berharap kedatangan Haralda tidak membuat pria yang dicintainya kembali bersedih. Seperti yang sudah-sudah.
***
Lukas duduk dikursi kebesaran miliknya seraya memandangi pemandangan kota dari kaca besar yang menjadi dinding penghalang diruangannya.
Ceklek.
Dia sontak berbalik saat mendengar pintu terbuka. Awalnya dia mengira itu adalah Leticia, dan dia sudah bersiap untuk memarahi wanita itu. Tunggu, mungkin pura-pura marah lebih tepatnya. Namun tidak jadi. Karena yang berdiri didepannya sekarang bukannya Leticia, melainkan seorang wanita paruh baya yang selalu mampu membuat emosinya menjadi tidak terkontrol.
"Lukas..." Panggil Haralda, dengan lirih.
Lukas memasang wajah datar, mengambil berkas diatas meja lalu membacanya. Seolah tidak melihat kedatangan Haralda.
"Mommy senang melihat kau terlihat baik-baik saja." Ucap Haralda lagi, kali ini dengan nada haru.
Lukas berdecak. "Sejak kapan anda jadi peduli begini padaku?" Dia meletakkan kembali berkas itu, dengan sedikit melemparnya. Lalu menatap Haralda dengan tajam. "Harus berapa kali kubilang, jangan pernah menemuiku lagi. Pergilah bersenang-senang, kemanapun anda mau. Tidak usah memperdulikan aku. Lagipula, aku memang tidak pernah terbiasa bersamamu."
Mata Haralda berkaca-kaca. Hatinya sakit mendengar anak semata wayangnya mengatakan kalimat yang dilontarkan Lukas barusan. Namun dia tidak bisa marah atau melakukan apapun untuk menghentikannya.
Lukas benar. Dia tidak pernah terbiasa bersama pria itu. Karena dulu dia terlalu sibuk dengan urusan kerjaan, jalan-jalan bersama teman arisannya hingga perjalanan bisnis keluar negeri.
Begitupula dengan Henri, suaminya. Pria itu tidak jauh berbeda dengan Haralda. Dia juga sibuk dengan pekerjaannya. Hingga tanpa mereka sadari, mereka telah menyia-nyiakan dan menyakiti Lukas dengan dalam.
Lukas harus tumbuh tanpa kasih sayang langsung dari orangtuanya. Bagi Henri ataupun Haralda, materi yang berlimpah cukup membuat Lukas bahagia.
Tapi tidak. Bukan itu yang Lukas inginkan. Dia hanya ingin Ibunya ada dirumah, memasakkannya sesuatu, menjemput kesekolah. Makan malam bersama, dan dia juga ingin ayahnya membacakan dongeng sebelum dia tidur.
"Mommy minta maaf. Mommy menyesal, Luke..."
Lukas mencibir. "Menyesal?" Dia lalu mendengus. "Simpan semua penyesalanmu nyonya. Sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Lebih baik anda pergi. Jangan membuang waktu berharga anda dengan mendatangiku kesini."
Haralda tersenyum tipis. "Mommy akan memaklumi jika kau masih marah. Tapi mommy tidak akan pernah bosan untuk meminta maaf padamu. Dan mommy akan selalu mendatangimu, Luke."
"Terserah. Lakukan saja semaumu. Dan aku juga akan melakukan semauku. Bukankah itu adil?"
***
Leticia menatap pintu ruangan Lukas dengan khawatir. Dia bisa merasakan terjadi sesuatu didalam sana yang akan berdampak pada emosi Lukas. Pria itu pasti merasa sedih sekarang.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka, disusul dengan keluarnya Haralda dari dalam ruangan. Wanita itu menghela napas berat, lalu menyeka sudut matanya yang berair.
Selalu seperti itu.
"Nyonya, anda baik-baik saja?" Tanya Leticia, dengan nada khawatir.
Haralda menggeleng seraya tersenyum tipis. "Aku tidak akan baik-baik saja sampai dia memaafkanku." Ucapnya dengan lirih. Dia menatap Leticia. "Bisakah kau temani dia sekarang? Dia pasti merasa sedih." Pintanya.
Leticia mengangguk. "Tentu saja Nyonya."
"Terimakasih, Leticia. Kau baik sekali. Aku permisi dulu."
"Hati-hati dijalan Nyonya." Ucap Leticia seraya menundukkan sedikit wajahnya.
Seperginya Haralda, Leticia mengambil segelas teh hangat yang tadi dia buat saat Haralda memasuki ruangan Lukas. Dia memang selalu memberikan pria itu teh jika sedang dalam mood buruk. Dan bersyukurnya pria itu tidak pernah menolak.
Tok tok tok
Dia mengetuk pintu ruangan Lukas. Dan masuk saat ada perintah dari dalam.
Hatinya berdenyut nyeri seketika saat melihat Lukas dengan wajah sendunya. Walaupun dia tidak tahu apa yang sudah dilalui oleh pria itu, tapi dia tahu kalau pria itu tetap saja mempunyai perasaan.
"Minumlah." Ucap Leticia pelan, dia meletakkan segelas teh tersebut diatas meja Lukas.
Lukas menoleh. Menatap Leticia dalam, lalu menghela napas berat. "Kau masih punya satu hutang permintaan maaf padaku kan?"
"Huh?"
"Boleh aku mengatakan apa yang kuinginkan sekarang?"
Leticia diam sebentar. Lalu mengangguk.
Gantian Lukas yang diam sejenak, dia menghela napasnya berkali-kali lalu bangkit dari duduknya. Pria itu mendekati Leticia, dan berhenti tepat didepan Leticia. Jarak mereka mungkin hanya satu langkah saja.
"Boleh aku memelukmu?" Pinta Lukas.
Leticia terkesiap. Merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Saking tidak percayanya dia diam saja, tidak menjawab ataupun menolak.
Lukas tertawa pelan, namun tawa yang ia keluarkan sarat akan kesedihan serta kepedihan. "Bahkan kau pun tidak mau memelukku." Ucapnya.
Tanpa menghabiskan banyak waktu lebih lama lagi, Leticia langsung menabrakkan tubuhnya kearah Lukas. Memeluk pria itu dengan erat.
Lukas terpaku. Dan entah bagaimana caranya, perlahan-lahan hatinya menghangat. Rasa nyaman itu datang begitu saja. Pelukan Leticia terasa sangat menenangkan.
Leticia memeluknya dengan erat, menyandarkan kepalanya didada Lukas, lalu menepuk-nepuk pelan punggung pria itu dengan satu tangannya. Dan Lukas hanyut begitu saja. Dia juga melakukan hal yang sama, memeluk wanita itu dengan erat, seraya menyembunyikan wajahnya dileher wanita itu.
Cukup lama mereka berpelukan, tanpa suara. Hanya kehangatan tubuh masing-masinglah yang mereka rasakan. Membiarkan segala perasaan yang ada mengalir begitu saja.
Kali ini saja, bisakah Lukas mempercayakan hatinya kepada Leticia?
Membiarkan wanita itu menuntunnya kesuatu perasaan yang selama ini dia sangkal?
***
"Uncle, kapan kau akan membelikan pesawat yang kau janjikan kepadaku?" Tanya Vando kepada Lukas.
Lukas berada dirumah Tristan sekarang, memenuhi undangan makan malam dari pria itu. Dan dia sedang berada diruang televisi bersama Vando dan Layla, sementara para wanita sedang berada didapur, membereskan sisa-sisa makan malam yang baru selesai sepuluh menit yang lalu. Sedangkan Danis, Tristan dan Vando memilih duduk di ruang keluarga yang berada tidak jauh dari ruang televisi.
"Sabar Jagoan, uncle sedang mencarikan yang terbaik untukmu." Jawab Lukas, tidak berbohong. Dia memang sedang mencari-cari mainan yang paling bagus untuk Vando.
"Uncle, kenapa kau memberikan Vando pesawat? kau tidak ingin memberiku juga?" Itu suara Layla, gadis kecil yang usianya tidak jauh berbeda dengan Vando itu menatapnya dengan wajah cemberut.
Lukas terkekeh pelan. "Tentu saja uncle akan memberikanmu juga, tapi bukan pesawat. Uncle akan membelikanmu mainan barbie yang baru, lengkap dengan rumahnya."
"Benar Uncle?" tanya Layla dengan mata berbinar.
Lukas mengangguk. "Sekarang, beri Uncle satu ciuman dulu." dia memegang pipi kanannya.
Layla mengangguk antusias, lalu mencium pipi Lukas. "Aku sayang uncle."
Lukas tertawa lalu mengacak rambut Layla dan Vando. Uncle akan duduk bersama daddy kalian, kalian main atau menontonlah dulu." Perintah Lukas yang langsung diangguki oleh kedua anak kecil itu.
Setelah itu dia melangkah menuju ruang keluarga, dan menghempaskan badannya disofa, disebelah Orlando.
"Sudah mau bercerita?" Tanya Orlando kepada Lukas.
"Cerita apa?"
Danis berdecak. "Masih pura-pura tidak tahu." Dia melirik Tristan. "Bisa kau beritahu dia apa yang sedang ditanyakan oleh Orlando, Tris?"
Tristan tertawa pelan. "Sekretaris cantikmu, Luke."
"Sialan kalian semua!" Umpatnya. "Tidak ada cerita apa-apa tentang dia." elaknya.
Orlando mencibir. "Kau dengar Tristan, tidak ada apa-apa antara dia dengan sekretaris cantiknya itu. Beritahu sepupumu sekarang."
Lukas kembali mengumpat. "Jangan coba-coba Tristan!"
Orlando, Danis dan Tristan tertawa.
"Salah kau sendiri tidak gerak cepat. Jangan sampai dia diambil orang lain karena gengsimu itu. Pria didunia ini bukan hanya sepupuku saja Luke. Jika sepupuku tidak bisa mendekatinya, bukan berarti pria lain tidak bisa juga kan?"
Lukas mendengus. Namun diam-diam memikirkan perkataan Tristan. Dan seketika dia ingat pria yang menjemput Leticia beberapa hari yang lalu saat makan siang.
Sial!
Dia tidak bisa begini terus.
Wanita itu harus menjadi miliknya!
Harus!
***