Pagi itu, sinar matahari masuk menyusup lewat celah jendela yang retak, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara. Namun suasana di rumah tua itu terasa berbeda—seperti beban berat yang belum terangkat masih menggantung di udara.
Arya duduk di meja kayu tua, memegang kotak kayu yang semalam ditemukan bersama sosok Luna. Ia membuka kotak itu perlahan dan menemukan sebuah surat kusam serta sebuah cincin tua dengan batu permata yang mulai memudar warnanya.
Surat itu tertulis dengan tinta yang hampir pudar, tapi tulisannya masih bisa terbaca:
"Untukmu yang menemukan surat ini, ketahuilah, janji yang menahan aku di sini adalah janji cinta yang terputus oleh takdir. Aku menunggu seseorang yang bisa mengerti dan membantuku menuntaskan cerita ini."
Arya merasakan perih di dadanya. Janji cinta? Apa sebenarnya yang terjadi?
Malamnya, saat suasana rumah semakin sunyi, sosok Luna muncul dengan tatapan lebih lembut, namun masih ada kesedihan yang dalam di matanya.
“Aku dulu mencintai seseorang,” bisik sosok itu tanpa suara, hanya aura perasaan yang Arya rasakan begitu kuat. “Janji kami terputus oleh sebuah tragedi yang tak bisa aku ubah.”
Arya mengangguk, walau belum sepenuhnya mengerti, ia tahu bahwa kisah itu penuh luka.
“Aku ingin membantu,” kata Arya dengan tegas. “Katakan apa yang harus aku lakukan.”
Sosok itu menatap Arya lama, lalu dari bayangannya muncul gambaran seorang pria muda dengan senyum hangat—seorang pria yang sepertinya sangat berarti bagi Luna.
“Carilah dia… atau jejaknya,” kata Luna perlahan. “Hanya dengan itu aku bisa bebas.”
Arya merasa berat tapi juga terpanggil untuk menjalani misi ini. Ia tahu, perjalanan itu bukan hanya untuk Luna, tapi juga untuk dirinya sendiri.
Di luar, angin malam berhembus lebih kencang, seolah mengiringi tekad Arya yang semakin bulat.