Bab 2: Kehadiran di Ujung Malam
Malam-malam berlalu, dan rumah tua itu semakin terasa hidup dengan suara-suara aneh yang tak bisa dijelaskan Arya. Kadang pintu yang tertutup rapat bergeser perlahan, kadang suara langkah kaki terdengar dari lantai atas, tapi saat Arya naik untuk memeriksa, tak ada siapa-siapa.
Suatu malam, saat Arya duduk termenung di ruang tamu, ia merasakan hawa dingin menusuk dari arah sudut ruangan. Napasnya memburu, tapi ketika ia menoleh, hanya ada bayangan samar yang bergerak pelan.
Seketika, suara lirih terdengar, seperti bisikan, “Arya…”
Jantungnya berdetak kencang. Ia berdiri, mencoba meyakinkan diri, “Ini hanya angin… hanya imajinasiku…”
Namun malam itu, sesuatu berubah. Arya mulai merasakan ada yang mengamatinya, tapi sosok itu belum mau memperlihatkan diri.
Setiap malam, kehadiran itu semakin dekat, lewat sentuhan ringan di bahu, suara bisik yang lembut, dan kilatan cahaya samar yang hanya bisa dilihat sekilas.
Arya mulai menamai “kehadiran” itu dengan nama Luna, yang ia pilih dari sebuah cerita lama tentang bulan dan cahaya di malam gelap.
Rasa takutnya berubah menjadi penasaran, tapi ia masih belum berani mencari tahu lebih jauh.Malam itu, Arya duduk termenung di ruang tamu yang remang. Suasana hening, hanya terdengar desiran angin yang menerpa jendela tua. Ia masih merasa kehadiran itu—sosok yang sering ia panggil Luna, hadir di sudut ruangan.
Tiba-tiba, bayangan samar mulai terbentuk, menjadi sosok wanita muda dengan wajah yang sayu dan mata yang dalam, penuh kesedihan namun menatap Arya dengan tatapan kosong yang menggetarkan.
Arya menahan napas, mencoba menenangkan dirinya. Ia tahu sosok itu bukan manusia biasa, tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin mendekat, bukan lari.
“Apakah kamu yang selama ini menggangguku?” suara Arya pelan, nyaris berbisik.
Sosok itu tidak bicara, tapi matanya mengisyaratkan ada beban yang berat. Tanpa suara, ia melambaikan tangan pelan, seolah meminta Arya untuk mengerti.
Arya mengangguk perlahan, “Aku memanggilmu Luna, tapi aku belum tahu siapa kamu sebenarnya.”
Sosok itu menatap lama, lalu dari dalam bayangan gelap, sebuah gambaran samar muncul; sebuah cincin tua yang bersinar redup di tangannya, seperti sebuah petunjuk.
Arya menangkap maksudnya. “Sebuah janji… sesuatu yang belum selesai, bukan?”
Sosok itu mengangguk tanpa suara.
Malam itu, Arya sadar bahwa ia harus menggali lebih dalam masa lalu yang terbungkus misteri ini, untuk membantu Luna menemukan kedamaian yang selama ini hilang.