Luna yang terbangun setelah pingsan karena terkejut melihat Pak An yang penuh darah di sekujur Tubuhnya. Saat terbangun luna sudah berada di sebuah gubuk kumuh dan bau yang ternyata gubuk itu Adalah tempat tingga Pak An selama bekerja di rumahnya. Mengetahui itu Luna berusaha melarikan diri Tapi Pak An mengawasi dan mengatakan "Apa nona menganggapku pembunuh keluargamu atau karena Nona melihat darah di tubuhku tadi ?". Luna pun hanya melirik dengan sinis dan mengatakan "Lalu Kenapa tidak ada polisi disini ? Bahkan tau jika semua orang mati, tapi tidak melapor, bukankah aneh jika
Aku tidak curiga padamu Pak An?". Meskipun Luna gadis 15 tahun tapi dia jenius IQ nya sangat tinggi Dan lagi dia adalah mahasiswi hukum di kampus ternama dunia. Itu adalah hal yg membuat Luna tidak Terlalu panik dengan keadaan, karena selama berkuliah hukum dia mendapat banyak pelajaran hukum Dan kejahatan yg bermacam-macam. Luna juga mengamati sekitar bagaimana caranya dia bisa Melarikan diri dari Pak An. Luna pun menanyakan alasan kenapa tubuh Pak An dipenuhi darah jika tidak Membunuh semua orang. Dan Pak An hanya menjawab "Jika kau benar mahasiswi hukum bukankah kau
Tau ada beberapa faktor yg bisa membuat aku dipenuhi darah". Luna pun tersenyum karena Pak An Sedikit membantu hal yg menjadi teka teki untuk Luna, jawaban Pak An memang tidak menjawab Keseluruhan pertanyaan Luna, tapi itu sudah sangat cukup baginya untuk mengulik hal lainya. Luna pun Menyuruh Pak An untuk menelpon polisi jika memang bukan dia pembunuhnya. Dan Pak An Mengatakan"Itu di sebelahmu (sebuah ponsel), cepat telpon lah sebelum aku kabur". Luna pun segera bergegas untuk menelpon polisi dan mengatakan jika semua orang di rumahnya dan menyuruh polisi
Untuk cepat datang. Dan tidak lama polisi datang tapi Pak An langsung memeluk polisi itu seakan Mereka teman lama yg bertemu lagi. Melihat itu Luna hanya terdiam dan menanyakan "Siapa kalian?" Polisi itu pun menjawab jika dia adalah kerabat Pak An yang datang untuk mengunjungi Pak An. Mendengar itu Luna heran dan berkata "Tapi bagaimana bisa, aku menelpon nomor resmi kepolisian Tapi...kenapa kalian yang datang...?! Tunggu, apa kalian membunuh polisi yg asli saat mereka datang dan Sengaja melakukan ini semua?! Apakah kalian semua sungguh bekerja sama?" Pak An pun menyuruh
Luna untuk tenang dan tidak terlalu gegabah dalam menyikapi semua ini. "Aku pikir kamu terlalu pintar Sebagai mahasiswi hukum hahah.....jangan terlalu cepat itu tidak akan seru jika kamu mengetahui Semuanya dengan mudah dan cepat. Polisi pun juga mengatakan hal yg serupa dengan Pak An dan Mereka mengikat luna dan mengurung lalu menanyakan berapa sandi brankas milik ayahnya. Luna pun Spontan mengatakan jika ia tidak akan mengatakan apapun meskipun dia harus tersiksa sampai mati. Mendengar hal itu polisi menamparnya menggunakan kayu yg ada di sana sambil mengatakan " Apa kau
Yakin nona cantik, tidak apa meski kau tersiksa hampir mati?...Aku rasa kau hanya bermulur besar dan kau pasti berfikir jika kami tidak akan menyiksamu, tapi sayangnya kami akan melakukan apapun untuk membuka brankas itu nona....jangan khawatir nona Luna kami punya waktu yg senggang yg cukup untuk Mengatasimu, jika kau tidak ingin kami melukai wajah mu yg sangat mulus ini maka beritahu sandi Brankas nya saja bukankah sangat mudah". Luna pun hanya diam sambil memikirkan cara apa yg tepat Untuk menjebak mereka. Dan luna terpikir jika mengalihkan topik dengan mengatakan
"HAHAHAH...sepertinya kalian memang tidak tau apa apa, bagaimana mencari sesuatu yg tidak ada" Mendengar itu Pak An marah dan menanyakan maksud luna dan luna menjawabnya "bukankah kau orang Terdekat ayahku bagaimana kau bisa mengatakan brankas segalanya, kau tidak akan menemukan Apapun di dalamya karena bukan disana tempatnya". "Lalu dimana?!" ujar polisi. Tapi Pak An tidak percaya dengan apa yg dikatakan oleh Luna karena dia sangat cerdik bisa saja kita sedang ditipu. "Ada di lantai bawah tanah" kata luna. Pak An pun memutuskan pergi ke lantai bawah sendiri untuk memeriksa.