Indonesia, 2023
Kabarnya, apartemen di seberang gedung ada masalah.
Pintunya tidak bisa dibuka dari dalam maupun luar. Pemiliknya, seorang ibu berparas ayu, sudah pusing. Anaknya yang bungsu terkunci di dalam selama dua hari. Kata pihak berwenang, sistem keamanannya rusak sehingga pintu dan jendela yang mungkin bisa digunakan sebagai akses keluar-masuk lantas tercoret dari daftar. Sehari berselang, pintu akhirnya terbuka. Itu pun karena desakan si ibu yang memaksa para petugas menghancurkan pintu dengan peledak. Si anak ditemukan masih hidup, namun kabarnya tidak terlalu baik karena dirinya mengidap trauma.
Tragedi serupa terjadi selang sehari. Lokasinya masih di gedung yang sama, tepatnya lantai dua belas kamar nomor 302. Kali ini korbannya meninggal. Ia hanya pria tua yang kebetulan merangkap sebagai penderita maag. Setelah tiga hari menghilang dari peradaban, kepolisian segera mencarinya. Oleh pihak berwenang, si pria tua ditemukan tak bernyawa di depan kulkasnya yang kosong.
Sebulan kemudian, sebuah negara hampir hancur sebab perekonomiannya kacau. Tidak ada uang yang dapat ditarik dari mesin ATM juga bank yang saat itu sedang sibuk mengurusi kesalahan sistem yang mengakibatkan saldo tabungan nasabah senegara berubah-ubah dalam hitungan menit. Katanya, hanya bug, tapi tak ada yang tahu mengapa bisa terjadi di sembilan bank dalam waktu yang nyaris bertepatan.
Dunia gempar setelah ada lagi kasus serupa yang menyebabkan jutaan orang terjebak di delapan gedung pencakar langit yang tersebar di tiga benua berbeda. Mereka tidak dapat menggunakan lift karena pintunya tak mau terbuka. Sekitar dua sampai tiga ratus ribu orang terjebak di lantai atas, mulai dari lantai dua sampai seratus—kalau tak lebih dari itu.
Kasus terbaru terjadi sedetik yang lalu. Sebenarnya, dari jutaan kasus yang disebabkan oleh tangannya, pemuda itu mengakui bahwa yang satu ini adalah yang paling sepele, namun paling sulit ditangani. Tidak ada yang terkurung ataupun mati. Ia hanya pemuda yang telah putus harapan, itu saja. Ia tak ‘kan mati hanya karena itu, semua orang menjaminnya.
Lagi, ini bukanlah cerita misteri, sungguh! Jadi, tolong, siapa saja, katakan pada mereka, tak ada istilah pelaku untuk menyebut kesalahan sistem dunia holo tahun 2023 itu!
“Tapi ‘kan katamu, namaku Lunar VT2,” dan raut cemberut terukir di sana.
---
Kalimantan Timur, Selasa, 21 Februari 2023
Menurut buku yang pernah iseng dibacanya dulu, ada tiga kenikmatan yang umumnya didambakan manusia.
Yang pertama adalah kaya harta—rekening dengan nilai rupiah berdigit sepuluh atau sebelas beserta aset berharga berserakan di mana-mana. Yang kedua adalah romantika masa muda—waktu yang tepat mencicipi cita rasa kerasnya dunia orang dewasa tanpa dihantui rasa takut melakukan kesalahan. Lalu yang terakhir adalah hati tenteram dengan bumbu cinta.
Sampai sekarang Kretta sendiri masih tidak tahu apa maksudnya Dhimas menyodorkan buku usang tidak jelas itu dulu. Kretta tidak pernah tumbuh menjadi tipe yang bersahabat dengan buku-buku—terlebih sampai tahap tidak waras yang mengharuskannya menyelam di antaranya hanya demi sebait prosa karya pengarang A, B atau C dari tahun enam puluhan.
Tidak, terima kasih. Kretta tidak pernah mengerti dengan keantikan temannya yang satu itu.
Jika saat ini Kretta diberi pilihan di antara tiga kenikmatan tersebut, maka pada jin manapun itu, Kretta akan sangat berterima kasih sebelum menolak pada detik berikutnya. Keinginan Kretta saat ini sangat sederhana.
Kretta ingin tidur.
Sudah beberapa bulan ini porsi tidurnya terkikis. Dari yang mulanya delapan, berkurang ke tujuh, lalu sampai ke lima jam per hari. Jeleknya, ia lebih sering tertidur daripada tidur, entah di meja kerjanya, di atas kloset, di bus—yang jelas di mana pun kecuali di kamarnya. Andai punggung manusia bisa berbicara, sudah pasti ia mendengar rengekan minta diluruskan.
Tapi untungnya tidak.
Akan repot jadinya jika ada pihak tambahan yang mengomelinya. Untungnya, untuk saat ini hanya ada satu orang saja yang—entah perhatian atau terlalu perhatian—selalu mengingatkannya untuk mengisi kulkas atau sekadar menutup mata satu-dua jam.
Bukan seperti Kretta memiliki masalah tidur kronis atau apa.
Kretta selalu tidur tepat waktu—atau setidaknya ia sudah mencoba. Sayangnya, setiap kali ia terlelap, ia akan terbangun tidak lama kemudian dengan sensasi jatuh dari ketinggian. Kalau sudah begitu, matanya akan terbuka lebar disusul dengan denyutan di pelipis.
Uh.
Ponsel pintarnya berdering.
Tanpa melihat nama “Bintang Dyamanusa” yang terpampang di layar, Kretta mengangkat telepon. Punggungnya ia sandarkan pada kursi kerja sambil merasakan sensasi tulang-tulang yang direnggangkan. Suaranya benar-benar renyah di telinga. Detik itu bumi bagaikan surga.
Setidaknya, sampai suara perempuan yang sangat familier menyapa telinganya.
“Yo, Kre, sudah tidur?”
Jika ini adalah dirinya dari masa SMK, telepon sepagi ini biasanya berasal dari teman sekelasnya yang menanyakan kenapa ia belum hadir lima menit menuju bel jam pertama. Terkadang Kretta merindukan masa di mana ia bisa tidur hingga pukul 7.30 dan suara temannya yang berseru dari ujung sambungan, “Bro, kau serius? Jam segini kau baru bangun? Si bapak sudah datang, kau mau dijadikan ikan kering lagi?!”
“Kre?”
Kretta berkedip di balik kacamata lensa cekungnya. Di hadapannya adalah tiga buah monitor keluaran dekade lalu, pernah digadang memiliki masa guna ekonomis tertinggi—setidaknya, pada zamannya.
Memijit pelipis, ia bertanya balik, “Anu, kenapa tadi, Tang?”
Kretta bisa mendengar suara helaan napas—Bintang sudah tidak berniat menanyakan pertanyaan yang sama.
“Aku sedang menjemput Dell di stasiun, setelah ini baru ke tempatmu. Kau mau dibawakan apa?”
“Tidak perlu. Cukup bawakan Dell hidup-hidup saja sudah cukup.”
Kretta sontak menjauhkan ponsel pintarnya dari telinga ketika mendengar suara protes laki-laki dari sana menginvasi gendang telinganya. Hanya setelah suaranya tidak lagi terdengar—terima kasih pada Bintang yang mungkin berhasil menjinakkan kembali kakaknya—Kretta mendekatkan kembali telinganya pada sumber suara.
“Jadi... jam berapa kalian akan datang?” tanyanya.
“Satu atau dua jam lagi mungkin. Profesor Petra baru saja menghubungiku soal pekerjaan dan, ugh.... kenapa jalannya harus macet pagi-pagi begini!”
Kretta menaikkan sebelah alisnya. “Oh? Tumben.”
“Iya kan? Pokoknya kau tunggu saja. Kalau sudah sampai nanti aku langsung naik. Pintu depan tidak dikunci kan?”
“Tidak.”
Lagipula Kretta tidak punya barang berharga yang bisa dicuri.
“Sip. Aku tutup teleponnya. Bye.”
Sambungan terputus.
Kretta menautkan jemarinya satu sama lain, merenggangkan tubuhnya yang kaku di sana-sini. Melihat ke arah dua monitornya yang menyala, pandangannya disapa oleh deretan kode. Pelipisnya kembali berdenyut.
“Sampai mana tadi?” batinnya.
Kretta keluar dari ruangan gelap itu lima menit kemudian, hanya untuk menyipitkan mata saat melihat cahaya matahari menerobos masuk dengan tidak sopannya. Langkahnya menuju kamar mandi terhenti saat kakinya menginjak bungkus kosong roti sisir yang sudah ia lahap isinya sekitar.... empat... atau tujuh hari lalu?
Kretta tidak ingat.
Matanya menerawang ke penjuru ruangan. Meja dan kursi di ruang tamunya telah menjadi pajangan sejak entah berapa bulan lalu. Ia juga mengoleksi banyak debu dan bungkus roti di atas lemari dan meja dapurnya—dan juga lantainya. Ruang makannya hanyalah sebuah meja bar minimalis yang tergabung dengan konter dapur. Lalu, menerangi keseluruhan ruangan berprinsip open plan tersebut, jendela besar menampakkan sisi lain dari ibukota yang... yah, tidak bisa dibilang memanjakan mata.
Apartemennya selalu seperti ini. Setidaknya ia selalu peduli dengan kebersihan kamar mandi dan tentu saja, ruang kerjanya.
Jumlah orang yang pernah datang ke sini bisa dihitung dengan jari. Bosnya di perusahaan dulu hanya pernah berkunjung sekali. Kretta tidak berharap banyak saat pria itu memberinya sejumlah uang sebelum mencoretnya dari daftar karyawan. Cepat atau lambat ia tahu perusahaan itu akan karam, begitu pula dengan semua karyawan di sana.
Satu-satunya orang yang masih sering berkunjung adalah Bintang, perempuan sepantarannya yang barusan menelepon.
Bintang sudah sering datang sejak Kretta pindah dari apartemennya yang dulu, sekitar satu atau dua bulan lalu. Perempuan itu juga sering menghubunginya, sebatas “halo” atau “apa kabar?” Kadang, ia akan datang dengan membawa beberapa camilan lalu pergi begitu saja setelah memastikan Kretta masih bernapas.
Benar-benar pengertian.
Satu-dua kali perempuan itu juga menetap beberapa jam. Ia tidak pernah segan menyulap dapur Kretta menjadi kantor dadakan jika memang diperlukan. Dengar-dengar, atasan perempuan itu sering meminta data tak kenal siang atau malam, hujan ataupun terang, setelah atau sebelum gempa. Ya, asalkan Bintang sendiri menyukai pekerjaannya, Kretta tidak melihat sedikit pun masalah. Sebaliknya, ia kagum dengan bagaimana perempuan itu selalu mengeluh di belakang tanpa benar-benar berniat mengundurkan diri.
Rencananya, Bintang akan datang pagi ini bersama kakaknya, Dellon. Terakhir bertemu, yang bersangkutan masih hobi menghalu soal kecerdasan buatan dan menonton anime bergenre mecha saat senggang. Setelah sukses menjadi salah satu staf Departemen Pertahanan Belanda, Kretta sudah tidak tahu bagaimana kabar orang itu sekarang. Mungkin cita-citanya mengenai inovasi partner AI dalam bentuk hologram tiga dimensi sudah terwujud. Tapi siapa tahu saja belum. Kalau menciptakan teknologi memang seenak mengarang mimpi, mungkin Kretta tidak akan menyewa apartemen b****k di kawasan terpencil jauh dari jalan negara.
Ya, setidaknya ia bisa melihat banyak kucing liar berkeliaran di gang-gang depan, mencuri ikan asin atau jadi bulan-bulanan anjing tetangga.
Ngomong-ngomong...
Sepertinya Kretta harus membersihkan apartemennya dulu sebelum lanjut bercerita.