Sekitar dua jam kemudian tamu jauh yang dinanti akhirnya datang. Yang masuk tanpa ba-bi-bu seolah sudah menjadi pemilik rumah adalah si bungsu. Meski Kretta berkata untuk tidak membawakan apa-apa, Bintang nyatanya tetap merepotkan diri berbelanja di minimarket terdekat. Tujuan pertamanya adalah kulkas kecil kosong yang terletak di sudut dapur.
Kretta mengalihkan pandangannya dari perempuan itu, menatap satu lagi tamunya yang membatu di ambang pintu. Dellon—atau panggil saja Dell; tinggi dengan raut keras. Berbanding terbalik dengan adiknya yang rapi berkemeja atas-bawah, ia hanya mengenakan kaus kasual dan jeans. Saat pertama kali terpikir tentang Dell adalah ketika Bintang menyinggung tentang kakaknya yang sedang cuti. Jadi, Kretta sekalian meminta Dell berkunjung—yang untungnya disambut baik oleh yang bersangkutan.
“Oh, masih hidup kau?” sapa Dell saat menjabat tangan kurus pemuda di depannya.
Kretta mendengus. “Sialnya masih.”
“Ya, sial sekali sepertinya. Padahal banyak orang menginginkanmu mati.”
Kretta menggeser tubuhnya, memberikan ruang bagi Dell untuk masuk. Ia meletakkan bokongnya di atas kursi kayu ruang tamu sebelum mengernyitkan dahi. Kretta diam-diam mengumpat karena lupa mengelapnya dengan kain basah tadi.
Dell melanjutkan sembari berjalan ke meja makan. Matanya menjelajah ke kanan dan kiri dengan tatapan menilai sementara ujung jarinya berpindah dari satu permukaan benda ke benda lain.
“Belakangan ini aku mendengar banyak berita jelek. Bukan Cuma satu-dua. Bayangkan, De Telegraafh saja sampai membuat rubik khusus untuk membahas semua itu. Beberapa orang gila malah menyebut kecelakaan itu bagian dari konspirasi global. Tanganku rasanya gatal.”
“Oh, jadi akhirnya kau suka membaca koran?” timpal Kretta.
Dellon mengambil bangku, menyamankan diri di sana sementara Bintang menuangkan jus buah instan yang baru saja dibelinya. Kretta dapat melihat kerutan di wajah pria muda itu bertambah dua.
“Besides, sejak kapan adikku jadi pembantu di rumahmu?”
“Dell, jangan mulai,” todong Bintang memperingatkan.
Kretta mendesah lelah.
“Pertama kali aku mendengar desas-desus dari beberapa kenalanku, aku berpikir, ah mana mungkin. Tapi setelah beberapa bulan belakangan berita di mana-mana, teori-teori mereka terdengar masuk akal. Aku penasaran. Serius, Kre, aku jauh-jauh datang ke sini khusus untuk bertanya padamu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Naps?”
“Bagaimana harus menjelaskan ini....?”
Kretta tersenyum miris. Bukannya ia tak tahu bagaimana harus menjelaskannya, tapi lebih pada dari mana ia harus memulai. Ia memang mengundang Dell untuk mendiskusikan masalahnya belakangan, tapi saat pria itu datang betulan, Kretta tidak yakin ada berapa banyak hal yang perlu dijelaskan di sini.
Naps.
Untuk seorang maniak up to date seperti Dell, tentu ia sudah tahu apa itu Naps. Naps adalah basis program yang sudah digunakan secara luas di berbagai negara—kalau tidak boleh dibilang di seluruh dunia. Bentuk pemrograman lanjutan dari Naps sangat luas dan universal, dari yang paling sederhana, seperti lampu otomatis dalam hunian pintar, hingga yang rumit, seperti sistem bank atau pabrik industrial.
Saking populernya, sudah banyak negara yang membangun kota pintar dengan basis Naps. Awalnya itu seperti angan-anang saja. Bus dan metro melaju menyesuaikan jadwal kerja dan sekolah kota setempat—tidak datang atau pergi lebih cepat atau terlambat. Kartu pengenal diri telah terhubung dengan sistem pelayanan publik, bank, dan asuransi—dapat digunakan di mana saja. Akses pelayanan bebas serba cepat yang dikontrol oleh kecerdasan buatan. Stasiun pengisian kendaraan listrik sudah tersedia di setiap sudut kota. Sambungan panggilan darurat tidak lagi sulit dihubungi. Informasi cepat terkait evakuasi dan mitigasi bencana. Dan masih banyak lainnya.
Dan orang yang telah berjasa mewujudkan impian banyak orang itu adalah pemuda berkacamata di sebelah Dell: Kretta Dioma.
Kretta berdeham sebentar sebelum memulai. “Jadi... intinya, Naps... terinfeksi virus.”
Dellon langsung menoleh. Tanda tanya imajiner melayang di atas kepalanya. “Pardon?”
“Baiklah, aku tahu bagimu ini bisa jadi terdengar lucu, tapi percayalah ini benar-benar terjadi. Kau tahu aku adalah satu-satunya pemrogram yang tersisa dari timku saat produk kami dirilis. Naps adalah produk dasar. Jadi, dia memerlukan pemrograman lanjutan untuk diaplikasikan ke.... kau sudah tahu sendiri apa saja. Sayangnya, setelah setidaknya satu tahun penggunaan, aku menemukan beberapa hal aneh terjadi.”
Bintang menyodorkan badan ke depan, bersandar pada meja dan bergabung dalam diskusi. “Masih ingat berita heboh soal kasus saldo rekening yang berubah-ubah itu?”
“Yang di Singapura?”
Gadis itu mengangguk. Antingnya bergoyang. “Kementerian keuangan Singapura sempat mengganti sistem bank nasional mereka. Tidak ada yang tahu kalau dua tahun kemudian akan terjadi crash yang konon katanya, ‘penyebabnya masih menjadi misteri’. Gara-gara itu, rekening koran orang satu negara berantakan. Kegiatan ekonominya lumpuh total. Akhirnya, mereka beralih ke e-wallet konvensional, yang tidak terintegrasi dengan Naps. Tapi, ya... tetap saja, butuh waktu beberapa hari untuk memperbaiki sistemnya.”
“Apa maksudnya, ‘penyebabnya masih menjadi misteri’?” tanya Dell jengkel.
“Kau tidak berharap seseorang mengayakan secara terang-terangan itu semua gara-gara Naps dan membuat semua orang panik kan?” serobot Kretta.
“Ah begitu..... Tapi bagaimana ya.... ini masih tidak masuk akal buatku. Sebenarnya virus apa yang membuat... kau tahu...” Dell kesulitan mencari kata-kata yang tepat, memutuskan mengganti pertanyaannya. “Bagaimana kau yakin kalau itu Naps?”
“Aku yakin kenalan-kenalan anonym-mu juga mencari sedang tahu dengan cara mereka sendiri—atau sudah tahu tapi tidak yakin dengan dugaan mereka. Mau bagaimana lagi, sudah banyak kejadian seperti itu. Kasus Merauke Tower, proyek kereta bawah laut Filipina, lalu apalagi ya... aku sampai tidak hafal saking banyaknya.
“Beberapa media dalam negeri dilarang memberitakan hal-hal seperti itu—tahu sendiri kalu orang-orang sensitif dengan berita seperti itu, kan? Selain kasus-kasus yang tidak diberitakan secara blak-blakan, kebanyakan yang terjadi hanya masalah-masalah kecil, semacam pasokan listrik putus, air bersih mati, lift macet...”
“Mungkin kau belum tahu Dell,” tambah Bintang kurang sopan. Kretta dapat melihat kerutan tanda tersinggung di dahi si sulung. Bintang melanjutkan, “Tahun lalu beberapa negara sudah membuat perkumpulan untuk mendiskusikan kejadian-kejadian luar biasa di tempat mereka. Dan sekarang, perkumpulan itu statusnya sudah jadi lembaga legal. Aku salah satu anggotanya.”
“Oh?” Si sulung menunjukkan sinar ketertarikan. “Semacam badan rahasia?”
“Ya, tidak seperti itu juga sebenarnya. Masih ada lembaga yang lebih penting, tapi itu lain cerita.” Bintang mengubah topik, “Traffic jam pagi ini, atasanku berkata bahwa penyebabnya adalah kegagalan sistem Naps. Untuk alasan yang belum diketahui, sinyal lampu lalu lintasnya tidak menyala sesuai dengan aturan.”
Kretta terlalu sibuk membersihkan kandang binatang ini sampai belum sempat mencari tahu keanehan apa yang sebenarnya terjadi. Ia membayangkan beberapa lampu perempatan di sejumlah blok menyala hijau bersamaan. Akan lebih dramatis lagi jika saat itu ada ibu-ibu berkereta bayi yang baru saja menyeberang malah terperangkap di tengah jalan, terkepung kendaraan.
Kretta pernah melihat yang lebih parah lagi sebenarnya.
“Intinya, sesuatu yang buruk mulai terjadi beberapa bulan belakangan pada produk-produk Naps.”
“Oke-oke, aku mengerti bagian itu, termasuk status perusahaan... uh, apa namanya... El-fuga? Bintang juga sudah memberitahuku sedikit-sedikit selama di perjalanan—walaupun tidak sejelas sekarang. Satu hal yang masih mengganjal dari tadi, kalian terus-terusan berkata alasan—maksudku alasan pastinya, mekanisme virus—nya tidak diketahui. Tapi tidak mungkin, ‘kan, kalian tidak benar-benar tahu apa yang terjadi?”
Mata si sulung menyipit curiga. “Atau kalian berharap aku bisa menciptakan keajaiban begitu saja?”
“Ya, itulah tujuanku meminta bantuanmu. Tapi jangan khawatir, memanggilmu di saat seperti ini tidak akan membuahkan hasil jika kami tidak menemukan apa pun terlebih dulu.”
“Nice. Jadi apa yang kalian temukan?”
“Virus itu adalah jenis baru. Aku bisa memastikan itu bukan jenis virus yang pernah ada sebelumnya. Karena itu, antivirus yang sudah ada tidak akan bisa mendeteksinya. Parasit ini bekerja seperti bom waktu: begitu sistemnya terprogram, dia akan melakukan hitung mundur. Setahun setelah pemrograman, sistemnya akan terganggu—ralat, maksudku, bisa setahun atau mungkin lebih. Yang pasti, itu akan datang cepat atau lambat. Akhirnya, entah perangkat kerasnya yang rusak lebih dulu atau output-nya yang error.”
“Aku tidak tahu ada program semacam itu,” gumam Dell sambil menelaah kembali.
“Aku pun tidak. Tidak ada yang tahu.”
“Yang mengherankan adalah kau, orang yang memrogramnya, tidak sadar ada parasit berbahaya semacam ini di dalam produkmu. Apa kau selalu minum sebelum bekerja?”
“Mana ada.” Kretta memasang raut keberatan. “Mereka tidak akan menjual apa pun pada anak berseragam sekolah.”
“Ya, lagipula aku tidak akan mengizinkan Bintang berteman dengan tukang mabuk.”
Giliran Bintang yang keberatan. Ia berceletuk, “Mulai lagi.”
Seolah tidak pernah menyaksikan kesinisan barusan, Kretta melanjutkan, “Soal virusnya, aku sendiri juga bingung bagaimana itu bisa di sana. Aku tidak mau berasumsi macam-macam untuk saat ini. Yang jelas, kita harus segera melakukan sesuatu.
“Beberapa bulan belakangan aku menggarap antivirus. Belum jelas bisa dipakai atau tidak, tapi aku pikir cukup layak untuk dicoba.”
“Itu artinya kau sudah tahu kode virusnya?”
“Bisa dibilang begitu. Akan lebih mudah kalau kutunjukkan langsung.”
Kretta bangkit dari kursinya, diikuti Dell dan Bintang. Ia baru akan membuka pintu ruang kerjanya sebelum teringat satu hal penting.
Oh, yang benar saja.
Kretta lupa tidak memasukkan ruang kerjanya ke dalam daftar “ruangan yang perlu dibersihkan sebelum Dell datang atau hal buruk akan terjadi”.
Benar saja, kerutan di dahi laki-laki itu bertambah begitu pintu dibuka dan lampu dinyalakan. Bintang menepuk dahi. Kakaknya akan mengomel sebentar lagi.
Ruang kerja Kretta nyaris selalu gelap. Ia senang bekerja di malam hari atau tempat apa saja yang minim cahaya. Sumber penerangannya dalam bekerja hanya lampu duduk di atas meja kerjanya atau monitor komputer itu sendiri. Namun bukan itu yang membuat Dell menahan diri untuk tidak muak.
Bungkusan makanan instan di lantai sama sekali tidak tersentuh sejak terakhir kali mereka diletakkan di sana. Kemasan roti sobek, botol plastik, tisu—oh apa itu bungkus sisa mi cawan?
“...”
Kretta menunggu reaksi Dell. Ia diberitahu Bintang bahwa untuk memenangkan hati kakaknya, seseorang perlu menarik perhatiannya dulu—yang mana Kretta sudah melakukannya—dan tidak membuat Dell jijik soal apa pun.
Dan apa pun berarti apa pun. Debu di sofa, udara yang terlalu kering atau lembap, gunungan cucian, sampah berceceran di lantai, dan sarang laba-laba di langit-langit apartemennya bukanlah pengecualian.
Sepertinya, Kretta dalam masalah.
Dell berdeham. Ia tahu kedatangannya akan dimanfaatkan oleh dua bocah tidak beres ini. Sejak take off dari Schiphol, Pemuda itu sudah bersiap andai mereka mengaku telah tanpa sengaja membobol dan melenyapkan arsip pemerintah daerah tertentu—dan meminta Dell melakukan sesuatu untuk membebaskan mereka dari masalah. Sayangnya, tidak ada yang bilang Dell harus bersirobok dengan sampah.
“Well, aku terkesan kau tidak membuat seluruh bagian rumahmu seperti kandang kuda. Mana antivirus yang katamu mau kau perlihatkan?”
“Ya, uh, sebelah sini.”
Kretta mempersilakan Dell menekuni hasil pekerjaannya sementara matanya terus berkirim sinyal rahasia dengan entitas lain di sana. Ia bisa melihat mata Bintang melancarkan omelan-omelan imajiner yang Kretta akui, pantas ia dapatkan.
Salahkan saja kelalaiannya.
“Ini hampir selesai,” komentar Dell. Jejak-jejak raut tidak suka itu sekali lagi digantikan oleh perasaan kagum. “Kau sudah mengujinya?”
“Belum. Aku perlu bantuanmu di sini.”
“Oh? Jadi, apa yang bisa kubantu?”
“Yang pertama, aku butuh uang. Yang kedua, aku butuh tenaga. Kata Bintang, Lembaga Pertanggungjawaban akan mengadakan konferensi sebentar lagi. Mereka itu kumpulan tidak berguna—tidak perlu diperhitungkan—tapi masalahnya bukan di sana. Aku ingin menyelesaikan proyek ini sebelum mereka mengambil keputusan nonsense lagi. Dan oh iya, aku juga lupa memberitahumu. Sebenarnya, sekarang statusku adalah buronan.”
“...”
Dell mendadak bisu. Rasa-rasanya ia ingin Kretta diam-diam membobol arsip negara saja ketimbang berurusan langsung dengan aparat kepolisian.