Setelah menelepon Cindy, Jovanka langsung menekan nomor ponsel Abizar. Meskipun suaminya itu marah besar kepadanya, tidak mungkin ia akan mengabaikannya ketika sakit begini. Ia yakin Abizar akan luluh dan datang mengunjunginya.
“Halo, siapa ini?” sapa suara dari seberang telepon.
“Ini saya, mas,” jawab Jovanka.
“Kenapa kau menghubungiku?” ucapan sinis itu terdengar lagi. Jovanka menggigit bibirnya menahan rasa sakit di d**a.
“Mas, aku hanya ingin mengatakan jika aku sedang di rawat di rumah sakit Pritama,” ucap Jovanka menyampaikan kondisinya.
Hening yang ia dengar dari seberang sana, tidak ada respon untuk beberapa saat. “Baiklah, saya akan datang,” ucap Abizar setelah keheningan tadi.
“Benarkan, mas akan datang? Terima kasih, mas,” ucap Jovanka merasa senang.
“Tapi kau jangan sena