Begitu mereka sampai di depan pintu, Abizar langsung menegtuk pintu ruangan. Ketika pintu terbuka, ia melihat Jovanka terbaring di atas brankar dengan kondisi lemah. Cindy yang memang tidak mengetahui kenapa menelponnya untuk beretamu segera masuk sambil menggandeng Katrina di tangannya.
Betapa terkejutnya Cindy melihat kondisi sahabatnya itu. Ia berlari menghampiri Jovanka.
“Jovanka, apa yang sudah terjadi padamu?” tanyanya dengan linangan air mata.
Jovanka yang memang sejak tadi menunggu kedatangan mereka hanya bisa meneteskan air mata. Apalagi saat melihat Katrina yang hanya berdiri kebingungan melihat ibunya berbaring. Sedang saat melihta ASbizar, Jovanka hanya bisa membuang muka.
“Aku tidak apa-apa, hanya terluka kecil di pergalangan tangan.” Ia menatap ke arah Katrina.
“Sayang,