“Jelita, apa yang seharusnya aku lakukan? aku hanya pria b******k. Jangankan wanita baik sepertimu, aku bahkan tidak pantas untuk wanita manapun di dunia ini. Aku hanya bisa membuat orang-orang menderita, aku tidak mampu melakukan hal yang bisa membuatmu bahagia, hiks…hiks….!”
Akhirnya Abizar sampai pada batasnya. Air matanya mengalir tak mampu membendung luapan kesedihan di hatinya. Penyesalan dan ketidakberdayaan seakan menghantamnya bertubi-tubi. Ia merasa tidak pantas untuk siapapun dan tidak berguna.
Sementara itu Jelita terlihat sudah bersiap-siap, ia duduk termenung di sisi ranjang dan menatap lurus ke arah jendela. Ia kembali teringat ucapan oma Laura saat wanita itu datang berkunjung.
“Kau tidak bisa tinggal di sini lagi, wanita jahat itu pasti akan melakukan segala cara untuk