Jelita terbangun tiba-tiba karena bermimpi buruk, peluh membasahi keningnya. Ia menatap sekeliling, masih tempat yang sama dengan situasi yang sama. Jelita bangkit dari rebahnya, ia menoleh ke arah meja kecil di samping dipan, ada sisa air minun di gelas. Jelita langsung meneguknya karena tenggorokannya terasa kering. Entah saat ini malam atau subuh, Jelita tidak tahu lagi karena jam tidak ada.
Ia kembali menatap sekeliling, mencari sesuatu untuk dijadikan sebagai pelindung diri. Ia tidak bisa berdiam terus seperti ini di saat orang-orang jahat itu merencanakan hal buruk padanya. Lampu yang menjadi penerang sedikit membantu penerangan di dalam ruangan yang gelap itu. Sambil terus mencari, ia juga mencari cara agar bisa keluar dari tempat itu.
Tapi saat ia sibuk mencari sesuatu terdengar