Jelita tampak duduk termangu menatap ke arah Jendela, tatapannya lurus ke depan, sudah 3 hari ia berada di rumah sakit , rasanya bosan, bingung dan jenuh. Oma pulang ke rumah untuk istirahat, sedangkan Abizar ada rapat penting yang harus ia hadiri sehingga pagi tadi ia ke kantor. Ia jadi kesepian, sedangkan ia juga belum bisa menemui bayinya saat sekali. Sampai sekarang dokter masih belum memberikan izin, entah kapan ia bisa menemui bayinya. Padahal ia sudah tidak sabar lagi ingin melihat makhluk mungil yang selama ini tumbuh di dalam rahimnya.
Ia kembali mengingat saat di mana ia dan Abizar melakukan hubungan itu untuk pertama kalinya. Suasana yang canggung dan takut. Saat itu ia sama sekali tidak merasakan apapun selain rasa sakit dan takut. Hanya air mata yang menetes. Sesuatu yang pa