Seketika Susana hati Abizar yang tadinya bagus berubah menjadi buruk, ia menatap tajam ke arah Bima yang terlihat sudah memasuki ruangan. Bima tersenyum penuh semangat berjalan menghampiri Jelita yang juga tersenyum senang ke arahnya.
“Kakak apa ka…” langkah Bima terhenti karena ia tiba-tiba terhalang oleh dinding kokoh tubuh Abizar yang berdiri kaku tepat di hadapannya.
“Jangan harap kau bisa sedekat itu dengan istriku…!” ucapan dingin Abizar menyambutnya. Bima hanya menatap Abizar dengan tatapan acuh tak acuh. Ia lalu bergerak ke samping, tapi Abizar mengikutinya, lalu Bima kembali bergerak ke arah yang berlawanan, Abizar tetap terus menghalanginya.
Melihat tingkah kekenak-kanakan keduanya, Jelita hanya menggeleng dan menghela nafas panjang.
“Pak… biarkan saja Bima ke sini. jangan be