Abizar menunduk tajam, menyesali perbuatannya yang lagi-lagi membuat Jelita menderita. Ia berulang kali menghela nafas dalam dan menghembuskan dengan kasar. Ia masih berusaha mengumpulkan energi untuk memikirkan ke mana kemungkinan Jelita akan pergi. Seorang satpam menghampirinya.
“Maaf Pak, boleh saya tahu kenapa anda tadi meminta diperlihatkan ruangan CCTV, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya dengan sopan, karena sejak tadi ia melihat Abizar gelisah dan tegang.
Abizar mengangkat kepalanya dan menatap satpan itu denagn tatapan tajam. Oma yang memahami emosi cucunya dengan cepat menahan Abizar saat cucunya itu hendak berdiri dan menyerang satpan yang kebingungan itu.
“Begini, istri dari cucu saya yang merupakan pasien di rumah sakit ini telah kabur dan kami masih kebingungan hasus