Dengan kerinduan yang sudah membuncah, Abizar berjalan memasuki lobi rumah sakit. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk menemui Jelita. 4 hari sudah ia tinggal di apartement dan menahan segala kerinduan karena syarat Jovanka yang licik itu dan lagi-lagi ia harus mengikutinya karena menurutnya itulah yang terbaik.
Ia terpaksa menandatangani surat persetujuan perceraian itu hanya untuk meyakinkan Jovanka saja agar wanita licik itu tidak mengganggu bayi Jelita. Dan sekarang ia sudah kembali, ia ingin menjelaskan semuanya kepada Jelita agar tidak salah paham.
Dengan jantungnya bergemuruh, Abizar berjalan di lorong menunuju ruangan perawatan istrinya. Begitu sampai di depan pintu, ia menarik nafas sembari membayangkan akan seperti apa reaksi Jelita saat ia datang dan membawa bunga mawar k