Jelita membeku berdiri terpaku menatap kertas yang ada di tangan Jovanka. Tidak, bukan kertas itu yang menajdi fokus keterkejutannya. Melainkan ucapan terakhir Jovanka yang membuat hatinya bagai tersayat sembilu. Apa yang sudah ia dengar? Abizar telah lebih dulu menandatangani persetujuan pereraian secara tertulis itu? apa yang wanita itu bicarakan? ini tidak mungkin!
“Kau pasti bohong, kan? Abizar tidak akan pernah melakukan itu, tidak akan!” Jelita berontak, menolak kenyatan yang merurutnya hanya omong kosong yang wanita penipu itu katakan.
“Kau tiak percaya kalau ini tanda tangan suamiku? Oh, tentu saja kau tidak percaya karena kau telah dengan mudahnya terperangkap dengan kata-kata manisanya. Kau tidak tahu apa yang sebenanya yang ia rencanakan bukan? Tapi jika kau masih tidak percay