“Iya, sebaiknya kau temui putrimu. Sudah lama ia menunggumu untuk membelainya. Sejak keluar dari penjara, kau bahkan tidak pernah menyuapinya sekalipun. Tapi anak itu selalu menantikan dirimu dengan sabar, ia sama sekali tidak pernah mengeluh, pergilah temui Katrina, dia anakmu, jangan kau sia-siakan dia.”
Jovanka pun beranjak dari tempatnya dan berlari keluar. Untung saja ia memakai alas kaki sehingga kaca yang berserakan di lantai tidak melukainya.
Jovanka terus berlari menuruni anak tangga menuju putrinya yang sedang duduk sambil menonton film Barbie kesukaannya. Jovanka pun langsung memeluk putri kecilnya itu sambil terisak.
“Maafkan Mama, Nak. Maafkan mamamu yang tidak berguna ini.” Jovanka terus saja memeluk sang putri membuat Katrina kebingungan.
“Mama, kenapa menangis? Apa K