“Ah, aku sekarang sedang di jalan. Maaf sayang, tapi aku tiba-tiba ada urusan penting pagi ini. Kita ketemu nanti sore saja, ya?” Abizar masih berusaha berbaik-baik di depannya. Ia akan terus bersandiwara. Jika dulu wanita itu yang bersandiwara dan menipunya, kini giliran dirinyalah yang akan berpura-pura di depan Jovanka palsu itu.
“Tapi Mas, aku maunya kau pulang sekarang,” suara Jovanka terdengar merengek. Dulu, jika wanita itu meminta dengan gaya manja seperti itu, Abizar pasti sudah mengiyakan permintaannya, tapi sekarang, Abizar sudah tidak peduli.
“Aku minta maaf Jovanka, tapi pagi ini aku benar-benar tidak bisa. Jika kau ingin bicara, tunggu aku nanti sore, oke?” ucap Abizar dengan tegas.
“Tapi kau mau ke mana? Tidak biasanya kau pergi pagi-pagi sekali. Kau bahkan bersikap kasar padaku tadi,” Jovanka mulai merengek, Abizar semakin muak mendengarnya.
“Tadi kan aku bilang, kalau aku ada urusan penting, tolong mengertilah Jovanka,” ucap Abizar.
“Hmm, baiklah kalau begitu, tapi kau janji, ya nanti sore kita bicara,” tanya Jovanka.
“Iya,” ucap Abizar lalu memutus sambungan telepon begitu saja. Ia masih mendengar respon dari Jovanka tapi ia sudah memutuskan telepon. Muak dan geram, itulah yang Abizar rasakan. Ia kemudian melanjutkan perjalannya, ia ingin menemui neneknya, meminta maaf atas segala perlakuannya selama ini. Ia sudah menentang sang nenek hanya untuk membela wanita tidak tahu malu itu.
Mobil Abizar berhenti di halaman sebuah rumah megah, ia turun dan berjalan ke arah pintu utama. Menekan bel lalu menunggu. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan melihat seorang pelayan.
“Selamat pagi, Tuan Abizar,” sapa si pelayan.
“Pagi, Oma ada, kan?” tanya Abizar sambil melangkah masuk.
“Iya, Tuan. Oma sedang berada di taman belakang melihat burung meraknya,” ucap sang pelayan.
Abi berjalan menuju arah belakang, sasampainya di sebuah taman indah di halaman belakang rumah megah itu, Abizar melihat neneknya sedang duduk sendiri sambil menatap ke arah seekor burung indah.
Abizar menghampiri sang nenek yang tidak menyadari kedatangannya.
“Selamat pagi, Oma!” sapa Abizar sambil merangkul bahu neneknya dari belakang. Oma Laura sedikit terkejut, tapi setelah itu ia tersenyum.
“Kau datang sepagi ini?” tanya Oma dengan sambil menyentuh wajah cucunya.
“Iya, Oma. Aku datang untuk menjenguk Oma. Bagiamana kabar Oma?” tanya Abizar sambil mencium tangan keruiput neneknya dengan lembut.
“Oma sudah sehat sekarang, kau lihat sendiri, kan? sekarang Quirky sudah dewasa, lihatlah ekornya jika mengembang seperti itu, dia terlihat sangat cantik. Lihat para betina yang ada di sekitarnya, mereka semua terkesima dengan kecantikan Qiurky.
“Iya, Oma, dia benar-benar sangat cantik,” timpal Abizar.
Mereka pun terdiam menatap burung merak itu. Baru setelah Abizar terdengar menghela nafas panjang, oma Laura menoleh ke arahnya.
“Jika kau ada masalah lagi. Coba ceritakan kepada Oma, jangan dipendam sendiri,” ucap oma Laura dengan tulus.
“Oma, aku sudah tahu semuanya,” ucap Abizar sambil tertunduk sebentar sebelum menatap neneknya dengan tatapan serius.
“Tahu apa?”
“Aku sudah tahu rahasia Jovanka dan aku merasa sangat kacau sekarang, Oma,” ucap Abizar, ia kembali menghela nafas panjang.
“Sini, peluk Oma,” ucap oma Laura.
Abizar menggeser tubuhnya dan memeluk neneknya dengan erat. Tubuh Abizar bergetar menahan kesedihan hatinya.
“Menangislah jika kau ingin menangis cucuku, tidak ada yang salah jika kita meneteskan air mata. Terkadang air mata bisa menghanyutkan semua perasaan buruk kita, jadi menangis lah. Oma yang sudah tua ini akan selalu menjadi orang yang mendukungmu, sayang.”
“Hiks..hiks…” Akhirnya Abizar terisak di pelukan neneknya, lama mereka terdiam, dan hanya membiarkan Abizar menumpahkan semua kesedihannya.
Bayangan Jovanka kekasihnya yang ternyata sudah tiada, kebodohannya mempercayai orang lain dan membiarkannya menguasai semua kehidupannya membuatnya semakin bersedih. Segala perasaan bercampur menjadi satu membentuk muara kepedihan di dalam hatinya.
Setalah beberapa lama, Abizar melepas pelukannya dan segera menghapus sisa kesedihan di matanya yang sembab. Oma tersenyum.
“Mataku bengkak, ya Oma?” tanya Abizar sambil menepuk-nepuk wajahnya.
“Sedikit, tidak apa-apa. Melihatmu begini, mengingatkanku saat kau berumur tujuh tahun. Kau sering sekali menangis. Di cubit pipinya sama ibu-ibu komplek kau menangis, digangguin sama teman-teman perempuan pun kau menangis,” oma mulai menggoda Abizar.
“Ah, Oma. Itu kan waktu aku masih kecil. Sekarang aku baru kali ini menangis, kok,” sanggah Abizar sambil tersipu. Oma hanya terkekeh.
“Tapi kau tahu, apa yang membuat Oma bangga padamu saat itu?” ucap Oma.
“Apa, Oma?”
“Kau tidak pernah takut dengan siapa pun, kau selalu membela teman-temanmu yang di bulli. Kau bahkan sering berkelahi di sekolah karena hal seperti itu,” ucap Oma sambil mengenang masa lalunya.
“Ah, Oma serius? Jadi aku jagoan dong?” ucap Abizar.
“Iya, aku adalah jagoan, dulu dan sekarang bahkan kau akan menjadi seorang jagoan yang bijak untuk selamanya, Abizar,” ucap sang nenek sambil mengusap kepala Abizar, cucunya.
Abizar tersenyum, ia sedikit melupakan kekacauan hati dan perasaannya.
“Terima kasih , Oma. Aku sudah merasa sedikit lebih baik,” ucap Abizar.
Oma Laura tersenyum sambil menatap cucunya itu dengan tatapan dalam.
“Kau harus pikirkan dengan matang, langkah apa yang akan kau tempuh. Jangan terbawa emosi saat menghadapi situasi semacam ini. Perhitungkan baik-baik, semua tindakanmu agar kau bisa melakukannya dengan baik, kau mengerti ucapan Oma, kan?” tanya sang nenek .
“Iya, Oma. Aku akan berusaha menyelesaikan masalahku ini dengan baik,” ucap Abizar.
Mereka pun berbincang sampai siang, Abizar bahkan tidur siang di rumah Oma, di dalam kamar miliknya dulu. Ia tidak ingin pulang ke rumahnya dan bertemu wanita itu.
Ia sedang menenangkan pikirannya, sembari mencari cara yang tepat untuk membalas perbuatan Jovanka palsu yang tinggal di rumahnya itu.
Mata Abizar terbuka saat mendengar dering ponselnya berbunyi. Dia meraba ponselnya dan melihat siapa yang menelpon. Ternyata si penipu itu.
“Halo?” sapa Abizar dengan suara datar.
“Halo Mas, katanya kau datang sore, ini sudah jam lima, Mas. Kapan kau akan datang ? kenapa kau seperti ini?” cecar Jovanka dengan tidak sabar. Mendengar rengekan Jovanka seperti biasa, ia hanya bisa menggertakkan bibirnya geram.
“Bisa-bisanya ia dengan tidak tahu malu terus bersikap seolah-oleh dialah Jovanka. Sebenarnya apa yang ia inginkan?” Gerutu Abizar dalam hati.
“Aku masih di rumah Oma, kau tunggu saja sampai aku datang,” ucap Abizar dengan nada datar.
“Loh, buat apa ke sana? Oma sudah baik-baik saja, kan? ayo cepetan pulang, aku sudah menunggumu sejak tadi. Jadi jangan banyak ala…”
“Tut..!”
Lagi-lagi Abizar memutus sambungan telepon Jovanka secara sepihak. Ia benar-benar sangat muak dengan tingkah Jovanka palsu itu. Rasanya Abizar ingin sekali menyiramnya dengan air dan mengusir wanita itu secepat mungkin dari rumahnya. Tapi ia tetap harus sabar.
Sementara itu, Jovanka semakin kesal dengan tingkah Abizar yang tiba-tiba bersikap aneh padanya. Memutus sambungan telepon dan tidak terpengaruh lagi dengan rengekan manjanya. Kecurigaannya mulai mencuat. Apakah Abizar sudah menaruh perhatian kepada Jelita dan berencana untuk menduakannya?