Jelita membuka mata saat dering ponselnya terdengar, tangannya meraba ponsel yang ada di atas meja dekat ranjang. Keningnya terpaut menyesuaikan cahaya ponsel dengan matanya yang baru saja terbuka setelah semalaman beristirahat dengan nyaman.
Setelah memperjelas hubungannya dengan Abizar, perasaanya kini lega. Ia tidak terbebani dengan ketidaknyamanan karena merasa kalau dirinya perusak rumah tangga orang.
Ia sudah terlepas dari perasaan yang membelenggu itu. Kini hatinya lebih tenang, apalagi Abizar sudah mengakui dan menerima keputusannya dengan lapang d**a. Meskipun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai Abizar, akan tetapi ia harus menguatkan hati untuk melupakan pria itu dan memulai lembaran baru dengan dalam hidupnya.
Ia menatap layar ponselnya lekat-lekat, nama Bima tertera di layar.
“Halo..” sapanya dengan nada suara serak khas bangun tidur.
“Halo, Kak. Ini sudah jam 6 pagi, loh. Ayo bangun, katanya mau jalan pagi.” Suara Bima terdengar dari seberang sana.
“Aku baru bangun. Baiklah tunggu sebentar,” ucapnya lalu mematikan sambungan telepon dan bergegas bersiap-siap.
Jelita tersenyum melihat Bima berdiri di sebuah taman menunggunya sambil melipat tangan di d**a. Pemuda itu terlihat tampan dengan celana sport dan kaos oblong, meskipun sejak dulu ia memang sudah cukup tampan. Jelita melanjutkan langkahnya menghampiri Bima.
“Kenapa Kakak lama sekali? aku sudah menunggu hampir satu jam loh, di sini,” ucap Bima seolah mengeluh.
“Ya, maaf. Aku ketiduran, coba kau gak nelpon, aku mungkin akan tidur sampai siang,” ucap Jelita sambil tertawa kecil. Melihat Jelita tertawa lepas, Bima tersenyum.
“Lain kali aku tidak akan buat janji dengan Kakak lagi kalau begitu. Aku akan datang langsung saja dan mengetuk pintu Kakak sampai Kakak bangun,” ucap Bima.
“Ya, gak bisa begitu dong. Kau itu harus nelepon dulu, buat janji denganku dulu. Kalau kamu tiba-tiba datang aku juga gak bakalan bukain pintu,” ucap Jelita.
“Huh… dasar! Makanya kalau gak mau disamperin langsung, kalau buat janji itu yang tepat waktu,” Bima masih berkomentar.
“Iya bawel. Kok kamu jadi laki-laki cerewet banget sih,” ucap jelita sambil mengacak rambut Bima. Diperlakukan seperti itu Bima terdiam, wajahnya memerah. Jantungnya berdebar.
Jelita yang tidak peka sama sekali tidak menyadari jika diamnya Bima dan tatapan yang penuh damba itu tertuju padanya. Bima masih terdiam saat Jelita sudah melangkah lebih dulu.
Bima berjalan mengikuti langkah Jelita yang pelan. Pemuda itu menatap lurus ke depan di mana Jelita berada. Sesekali Jelita menoleh ke arahnya dan tersenyum, Bima hanya membalas senyumnya tanpa berkata apa-apa. Setiap kali bersama jelita, hatinya berbunga-bunga. Ia merasa bahagia dan tenang, setiap kali melihat senyum indah yang tersungging di bibirnya, jiwanya seolah meronta, seakan ingin berteriak mengakui betapa cantiknya dirinya dengan senyumnya itu. Namum, lagi-lagi Bima masih harus bersabar, karena wanita yang ia cintai ini, masih terikat pernikahan dengan pria b******k itu. Bima berjanji, setelah Jelita benar-benar lepas dari pria itu, ia akan menyatakan perasaannya dengan lantang, sehingga siapapun akan mengakui jika hanya dirinyalah yang pantas untuk Jelita, bukan yang lain, apalagi pria b******k itu.
“Hei Bima kenapa bengong? Ayo…!” Bima terkejut saat mendengar seruan Jelita menyebut namanya.
Bima mempercepat langkahnya menyusul Jelita yang sudah berjalan lebih dulu.
“Kak, boleh aku pegang tanganmu? Kita jalan beriringan saja, takutnya kau terjatuh,” ucap Bima beralasan.
Jelita tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk.
“Oke, baiklah,” ucapnya lalu mengulurkan tangannya kepada Bima. Pemuda itu tersenyum senang lalu menyambut tangan Jelita dengan suka cita. Jelita yang menganggap genggaman tangan mereka itu hanyalah bentuk perlindungan Bima untuknya, tersenyum dan terus berjalan. Berbeda dengan Bima, genggaman tangan mereka adalah awal dari pendekatannya yang nyata. Hari ini ia berhasil memegang tangan Jelita, ia berjanji, dia hari mendatang, ia akan menggenggam hatinya.
“Bima, aku haus. Kita singgah di toko itu dulu, yuk,” ajak Jelita sambil menunjuk sebuah minimarket yang ada di seberang jalan. Mereka sudah berjalan beberapa menit, Jelita memang tidak kuat berjalan lama karena perutnya yang sudah semakin membesar.
“Kakak sudah capek, ya? ayo kita sekalian istirahat dulu di sana baru pulang,” ucap Bima lalu menggandeng tangan Jelita berjalan menuju minimarket itu.
“Ah, segarnya…” ucap Jelita setelah meneguk air mineral dingin. Mereka duduk di kursi toko yang memang disediakan untuk pelanggan.
“Apa aku bilang, kalau kita berolah raga pasti jiwa dan raga akan terasa lebih sehat dan segar. Apalagi bumil seperti Kakak, harus banyak gerak. Nanti kalau kandungan Kakak sudah semakin tua, aku akan mengajak Kakak ke pusat senam ibu hamil. Kebetulan aku ada kenalan di klinik itu. Jadi kakak bisa sekalian konsul dan bergabung untuk mmengikuti senam di sana,” ucap Bima menawarkan.
“Wah, benarkah? Aku mau,” sambut Jelita dengan antusias.
“Oke, nanti ya kalau kakak sudah siap,” ucap Bima lalu kembali meneguk minumannya.
Mereka lalu terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Jelita menatap Bima, pemuda yang ada di hadapannya ini sangat baik dan perhatian padanya. Kasih sayangnya tidak pernah berkurang sejak dulu, bahkan sampai sekarang, ketika keadaannya sudah seperti ini pun, pemuda ini tetap memberikan seluruh perhatian untuknya. Andai saja ia bisa melihat Bima sebagai seorang pria.
“Bima…” ucapnya.
Bima menoleh ke arahnya.
“Iya? Kakak memanggilku?” tanya Bima.
“Terima kasih karena telah baik padaku,” ucap Jelita.
“Apa yang kau katakan itu, kak Jelita? Aku merasa senang bisa memberikan perhatian ini kepadamu. Jangan berkata seolah kau terbebani dengan semua yang aku lakukan. Bersikap biasa saja, dan anggap ini adalah hal normal yang dilakukan seorang pria kepada wanita yang akan dilindunginya. Jangan berterima kasih.” Jelita sedikit terkejut saat mendengar ucapan Bima. Entah telinganya yang salah dengar atau perasaanya menanggapi kalimat itu berlebihan. Tapi ia merasa jika ucapan Bima yang baru saja terdengar di telinganya adalah perkataan seorang pria yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita.
“Bima… apa maksud dari ucapanmu itu?”
Bima seakan tersadar jika mulutnya sudah mengeluarkan semua isi hatinya sehingga Jelita mulai tersadar. Belum saatnya Bima, jangan lakukan itu dulu kalau kau tidak ingin Jelita menghindarimu. Kau seharusnya bisa lebih mengontrol perasaanmu di hadapannya. Hatinya mengingatkan.
“Oh, mak…maksudku itu Kakak tidak perlu berterima kasih karena aku memang senang sekali membantu Kakak. Bukankah sejak dulu kita selalu saling membantu? Jadi Kakak tidak perlu merasa terbebani,” ucapnya meralat perkataannya yang sebelumnya.
“Oh, begitu,” ucap Jelita.
Bima menarik nafas lega, hampir saja ia ketahuan. Padahal belum saatnya ia mengungkapkan apapun menyangkut perasaannya. Ia tahu Jelita masih menaruh perasaan kepada pria itu, sehingga ia harus pelan-pelan memalingkan hati Jelita kepadanya.
“Bagaimana? Kita pulang?” tanya Bima.
“Oke, aku juga sudah lapar,’”
“Hmm, bagiamana kalau kita makan dulu saja, setelah itu baru pulang?” ucap Bima kembali menawarkan.
“Itu ide yang bagus,” ucap Jelita mengangguk. Mereka pun meninggalkan tempat itu lalu berjalan mencari warung untuk mereka sarapan.
Mereka tidak menyadari, jika sejak tadi ada sepasang mata yang tengah mengawasi. Mata hitam yang tajam itu terlihat berkaca-kaca dan memerah menahan emosi. Ia merasa geram melihat wanita yang ia cintai jalan bersama laki-laki lain sambil bergandengan tangan, itupun di saat Jelita masih berstatus istrinya. Ini tidak bisa dibiarkan, pemuda itu semakin lama semakin melewati batasan yang seharusnya.
Dengan penuh emosi ia menyalakan mesin mobil, menyusul mereka berdua. Mobilnya berhenti tepat di hadapan keduanya. Abizar turun dari mobil dengan wajah penuh amarah.
Jelita dan Bima dengan refleks melepas genggaman tangan mereka, terkejut melihat Abizar yang tiba-tiba ada di hadapan mereka.
“b******k…Bugh…!”
Bima terhuyung ke belakang menerima serangan Abizar yang tiba-tiba.
“Bima…!!!”