Jelita menatap Abizar dengan tatapan tajam, apa lagi yang pria ini rencanakan? Dikala hatinya sudah mulai bisa terlepas dari bayang cinta Abizar, pria ini justru datang dengan wajah tampannya yang memelasnya itu. Ketika hatinya sudah mulai siap untuk melepas, cobaan datang mencoba menggoyahkan keteguhannya. Ini sungguh tidak adil.
“Apa yang harus aku dengarkan lagi? aku mohon jangan coba menggoyahkan hatiku, Pak. Kau tahu sekali kalau aku sedang berusaha keras, tapi kenapa kau malah datang untuk menghancurkan usahaku?” air mata Jelita luruh.
“Jelita, hanya satu kali ini saja. Tolong dengarkan penjelasanku. Aku mohon,” Abizar masih berusaha membujuk Jelita.
Jelita menghela nafas panjang. “Baik, kali ini saja. Bicaralah…” ucapnya.
“Iya, terima kasih, Jelita.”
“Tidak perlu berterima kasih, aku hanya akan mendengarkanmu saja kan, setelah itu kau tidak akan pernah mengganggu hidupku lagi,” ucap Jelita dingin.
“Baik, jika memang itu yang kau inginkan. Tapi sebelum itu aku ingin meminta maaf atas ucapanku yang sudah menyakitimu. Aku tidak bermaksud mengatakan itu, aku hanya terbawa emosi. Kau tahu Jelita, aku sekarang sedang kacau. Di saat aku akan memulai memperbaiki hubunganku dengan Jovanka, ternyata aku menemukan kenyataan pahit yang menghancurkan hatiku. Wanita yang selama ini cintai dan aku anggap istri, ternyata hanya seorang penipu besar. Wanita itu telah melakukan penipuan dan kebohongan besar kepadaku.” Ucapan Abizar terhenti, ia berusaha menguatkan hati untuk menceritakan hal itu kepada Jelita karena ia butuh dukungan Jelita, bukan permusuhannya.
“Apa maksudmu menipu?” tanya Jelita mulai penasaran.
“Orang yang selama ini aku anggap Jovanka ternyata dia adalah seorang penipu, dia bukan Jovanka yang sebenarnya. Dia telah berbohong dan hidup denganku dan berpura-pura menjadi Jovanka .” Abizar mulai menjelaskan.
“Wanita itu bukan ibu Jovanka yang sebenarnya? Tapi kan Bapak bisa membedakan orang, Kenapa Bapak malah tertipu?” tanya Jelita bingung.
“Jovanka ternyata punya kembaran, saat kecelakaan yang menimpa kami, Jovanka ternyata meninggal tapi keluargaku tidak menyadari itu. Padahal kami baru melangsungkan pertunangan dan berencana menikah.
Di tambah kondisiku saat itu juga sangat tidak memungkinkan untuk menerima berita yang beresiko membunuhku saat itu, sehingga terpaksa keluargaku menyembunyikan kebenaran tentang Jovanka dariku. Hingga kembaran Jovanka muncul dan berpura-pura menjadi Jovanka, aku yang hilang ingatan tentu saja percaya dan tidak berpikir panjang. Memoriku hanya sebatas mengingat tentang Jovanka saja, tidak ada yang lain. Sehingga keluarga tidak punya pilihan lain, wanita itu masuk dalam kehidupanku dengan sangat sempurna sampai akhirnya aku menikah dengannya.
Ironisnya, aku baru mengetahui kebenaran itu setelah dia berhasil membuatmu menjadi orang bodoh di dunia. Hanya aku saja yang tidak mengetahui kebenarannya. Oma yang mengetahui itu selalu berusaha mencoba menyampaikan kebenaran tentang penipu itu, tapi aku dengan bodohnya selalu membela wanita yang bahkan aku tidak kenal itu. Wanita yang mirip dengan Jovanka telah mengusai hidupku selama beberapa tahun bahkan sampai sekarang. Dia ternyata punya banyak rahasia dan aku sedang mencari tahu sedikit demi sedikit.
Maka dari itu Jelita, aku sangat membutuhkan dukunganmu. Aku ingin kau memaafkanku dan mau bekerja sama untuk memenjarakan wanita itu. Saat ini dia belum tahu kalau aku sudah mengetahui kebenaran tentang dirinya. Ia berpura-pura tidak tahu, Aku ingin membalasnya sekaligus membuatnya mendekam di penjara.”
Jelita terdiam, rupanya masalah suaminya ini sangat pelik. Di saat ia sudah mulai merelakannya bersama dengan wanita itu, ternyata wanita itu hanya seorang penipu. Ia menipu Abizar selama bertahun-tahun. Membuat Abizar mencintainya sampai segila itu. wanita itu benar-benar keterlaluan.
Tidak, ia tidak ingin pria yang ia cintai mendapatkan wanita jahat. Abizar sangat baik untuk disakiti. Ia pantas mendapatkan yang terbaik. Bahkan Jika bukan dirinya, Abizar harus mendapatkan wanita yang jauh lebih baik.
“Jelita, aku mohon. Pikirkan ini dengan baik, aku tidak akan memaksamu untuk mendukungku, hanya saja, coba pikirkan ini sekali lagi sebelum mengambil keputusan. Jika kau memang sudah tidak ingin hidup denganku, setidaknya tolong bantu aku untuk membuat wanita itu mendapatkan ganjaran,” ucap Abizar penuh harap.
Jelita menatap Abizar dengan tatapan dalam. Ia menyentuh tangannya Abizar untuk menenangkannya pria itu.
“Jangan Khawatir, Pak. Setelah mendengar ceritamu, aku akan menjadi orang yang jahat jika tidak berubah pikiran. Iya, aku bersedia membantumu sampai wanita itu dipenjara,” ucap Jelita dengan yakin.
“Be…benarkah? Kau mau membantuku?” tanya Abizar masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Jelita.
“Iya,” ucap Jelita sambil tersenyum.
“Terima kasih,” ucap Abizar.
“Jangan khawatir, aku tidak akan melewati batasanku. Kita sudah sepakat untuk berpisah setelah anak ini lahir, dan jika kau masih mengingatkan kesepakatan itu, aku tidak akan memaksakan kemauanku lagi. Kau bisa dengan bebas melakukan apa yang kau mau.” Abizar memastikan.
“Baik. Tidak perlu memikirkan itu dulu. Jadi, apa yang akan aku lakukan untuk membantumu?” tanya Jelita.
“Untuk sementara, biarkan semua berjalan seperti biasa. Kau harus bersikap normal terhadap wanita itu, aku tidak mau dia curiga dan akhirnya melarikan diri. Sementara aku akan terus bersandiwara dan bersikap seolah tidak tahu apa-apa, meskipun sekarang aku masih belum yakin kalau aku bisa melakukannya secara alami, karena melihatnya saja aku sudah muak,” ucap Abizar, tangannya mengepal menahan emosi.
“Tenangkan dirimu, aku pasti akan membantu sebisaku, Kak…” Jelita tersenyum.
Abizar tertegun mendengar kata Kakak yang terlontar dari mulut Jelita, ia pun tersenyum.
“Terima kasih,” ucap Abizar sambil mengangguk.
***
Abizar baru kembali ke rumah saat malam, ia membuka pintu kamar dan mendapati Jovanka tengah duduk di depan meja riasnya. Abizar sengaja pulang larut malam untuk menghindari Jovanka, tapi ternyata wanita itu belum tidur.
“Kau baru pulang, Mas?” ucap Jovanka tanpa menatap Abizar, ia masih sibuk dengan wajahnya.
“Iya,” jawab Abizar singkat. Ia melepas sepatu dan jasnya lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Abizar menatap wajahnya di cermin, wajah tampan itu kini tidak berenergi. Cahayanya menghilang bersamaan dengan terkuaknya kenyataan yang merontokkan seluruh harapan dan menyisakan kesedihan dan penyesalan mendalam. Rahangnya mengeras, emosinya berkecamuk, tapi Abizar berusaha mengontrolnya. Ia memejamkan mata dan menghela nafas dalam, lalu membuka pintu.
“Mas dari mana baru pulang?” tanya Jovanka. Ia sekarang duduk di sisi ranjang.
“Aku hanya di rumah oma,” jawaban Abizar kali ini pun sangat singkat.
Ia berusaha untuk bersikap normal tapi kemungkinan ia akan gagal karena ketenangannya mudah sekali ditelan oleh emosinya.
“Tumben kau lama di sana,Mas. Apa ada sesuatu yang membuatmu betah di sana? Atau wanita jalang itu ada di sana, sehingga kau tidak pulang meskipun aku sudah memintamu untuk pulang.”
Abizar memejamkan mata menahan gejolak emosi yang mungkin sebentar lagi akan meledak. Wanita penipu ini benar-benar tidak tahu diri. Daripada rencananya gagal, ia lebih baik diam.
“ Jawab, mas. Kenapa kau sampai betah di sana?!” ternyata Jovanka juga memendam kekesalannya sehingga suara mulai meninggi.
Abizar masih terdiam, jika ia bicara pasti akan ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, Abizar benar-benar sudah tidak ingin bersama wanita ini lagi. Ia pun melangkah keluar tapi Jovanka menahan langkahnya.
“Kau jangan pergi, Mas. Jangan pernah berpaling dariku jika kita bicara seperti ini. Jawab aku…!!!” teriak Jovanka.