Abizar menatap Jovanka dengan tajam. “Kau jangan memancing emosiku, lepaskan tanganmu dan biarkan aku pergi,” ucap Abizar dengan nada dingin.
“Tidak! Aku tidak akan melepaskanmu. Kita harus bicara! Kenapa kau sampai bersikap seperti ini, Mas? Jelaskan padaku. Apa aku sudah melakukan kesalahan? katakan, Mas. kau bukan Mas Abizarku yang dulu lagi. Kau sudah berubah.” Jovanka mulai terisak.
Jika dulu Abizar akan luluh hanya dengan melihatnya menitikkan sedikit air mata, kini, ia bahkan sudah muak melihat apa pun yang wanita itu perbuat.
“Apakah kau sama sekali tidak menyadari kesalahanmu?” tanya Abizar. Mendengar itu Jovanka berhenti menangis dan menatap Abizar dengan tatapan was-was.
“A-apa maksudmu, Mas? kenapa kau bicara seperti itu padaku?memangnya apa salahku, katakan! Apa yang suda