Wajah Jovanka pucat pasi, ia merasakan dejavu. Ia lalu menatap ke arah David yang masih terlelap, emosinya lalu mencuat membakar akal sehatnya. Matanya merah menahan geram yang tidak lagi bisa terbendung. Pria b*****t ini selalu mengganggu hidupnya, ia tidak pernah berhenti menyusahkan hidupnya. b******n yang ada di hadapannya ini sudah berkali-kali mengambil keuntungan darinya.
Jovanka menoleh ke sana-ke mari mencari sesuatu. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah pisau yang ada atas keranjang buah. Dengan perlahan ia bangkit dan berjalan menuju keranjang itu. Dengan d**a yang bergemuruh, Jovanka mengambil pisau itu lalu kembali melangkah ke arah ranjang di mana David masih tertelap.
Nafas Jovanka semakin memburu, jantungnya berdetak kencang, matanya melotot murka. Jika pria ini mat