Jam 10.05 menit kami sudah berada di ruang tunggu Psikater anak yang ditunjuk Pak D. aku sudah menghubungi sekertarisku kalau hari ini aku mungkin akan datang terlambat atau bakhan tidak datang sama sekali ke kantor.
"Tuan Jillian" terdengar perawat menyebut nama Pak D. Pak D memandangku menguatkan akan apapun yang kami dapati di dalam nanti. Aku mengangguk sekilas, berusaha menguatkan diri bahwa anakku tidak gila, hanya stres ringan dan butuh perawatan sebelum terlambat, itu yang ku tanamkan kuat-kuat dalam benakku.
Kami menuntun Little D di kanan dan di kiri, dirinya tidak mau membuka mulutnya sama sekali. Hanya iya dan tidak jika kami bertanya. Aku menangis tak tega melihat kondisinya. Pak D mengusap punggungku menenangkan.
"Bapak dan Ibu Jillian..." aku menyambut uluran tangan dan tetap diam saja tak membantah juga tak membenarkan anggapan si dokter yang ku taksir beberapa tahun lebih tua dariku namun wajahnya terlihat lebih muda dari umurnya.
"hay tampan, bolehkah aku berkenalan denganmu?" Dokter yang ramah, pikirku.
Putraku kelihatan ragu tapi tetap mencium tangan dokter Veronika dengan sopan setelah melirikku terlebih dulu.
"Baiklah, apakah kau mau duduk di kursi itu" dokter Vero tersenyum tulus, ada jejak lesung manis di sisi bibir kanannya.
"Big D" Putraku merengek seolah meminta perlindungan.
"Tak apa Boy, itu akan membuatmu lebih rileks"
"Bunda..." Little D merengek sembari memelukku erat.
"Ayahmu benar sayang" ku elus punggungnya penuh sayang.
"Bund... itu alat yang diproduksi pabrik kita kan? benar kan dokter Vero?" Pak D berusaha membujuk Little D dengan kursi yang tersambung dengan mesin sederhana yang ada di belakangnya. itu kursi nyaman untuk hipnoterapi dengan headset di kepala pasien yang terkonek mesin deteksi gelombang otak dan monitor pantau. Abaikan saja panggilan Pak D padaku tadi.
"Benar sekali, apakah kamu tidak tertarik mencobanya Little D?" Seharusnya suara dokter Veronika terdengar menggiurkan di telinga putraku. Ku dengar dokter Veronika sudah memahami permasalahan Little D dari Pak D pagi tadi.
Setelah memastikan Little D memejamkan mata dokter mengarahkan untuk kedua orangtua itu menunggu di luar. Awalnya Maara merasa keberatan, tapi melihat manik mata Pak D yang menenangkan Maara menurut. Duduk berdampingan seperti pasangan suami istri. Supir keluarga Jillian mengangsurkan sebotol air mineral untuk Pak D, namun pria itu memberikan kepada Maara terlebih dulu setelah membuka tutup botolnya. Maara menggumamkan terima kasih lalu meneguknya. Maara butuh menenangkan diri, setidaknya air mineral membantunya tetap terjaga mengingat tidurnya semalam tak nyeyak dengan waktu yang sangat singkat. Tak disangka Pak D juga melakukan hal yang sama pada botol air mineral itu.
"Pak D nggak jijik?"
"Hanya bekasmu, kenapa harus jijik?" Dengan muka lempeng Big D menjawab singkat, sedangkan aku takambil pusing.
Pov Author.
Maara bersandar pada kursi tunggu hingga beberapa menit ke depan raungan Little D memecah keheningan. Tubuhnya segera berdiri sebagai repon tapi dengan sigap Big D mencegah untuk menerobos masuk. Maara sesenggukan tanpa bisa ditahan, menutup mata dengan kedua tangannya yang bergetar. Dirgantara tak kuasa menghadapi semua ini, ia sama seperti Maara, khawatir. Ia memang tidak pernah mengalami seperti Little D maka dari itu ia sungguh kecewa kenapa Sam bisa ceroboh begini. Yang bisa ia lakukan adalah memeluk wanita dalam dekapannya, lalu bersandar pada kepala wanita itu.
Setengah jam sudah Little D ada di dalam, tak ada lagi jerit tangis bocah itu. Kini dua dewasa itu duduk dengan Maara bersandar pada bahu Big D. Maara sudah lebih tenang namun matanya terpejam. Tak sadar ada sepasang mata yang melihatnya penuh pertanyaan dan sekelumit kerinduan di ujung ruang tunggu.
Saat Little D keluar ruangan diantar dokter Veronika dengan raut muka bocah itu yang lebih tenang membuat Maara memeluk Little D penuh syukur. Ia juga mengabaikan tangan Big D yang terus melingkari pinggangnya posesif.
"Ayah.... Bunda.... Aku lapar" Maara, mengangguk haru, Little D memanggil Pak D ayah, dan merengek manja padanya, meski suaranya serak dan matanya bengkak karena habis menangis. Tapi Maara tetap berucap terima kasih pada dokter Veronika. Sementara Big D memerintahkan dokter Vero segera mengirimkan perkembangan Little D segera.
"Tentu Tuan dan Nyonya, asisten saya akan segera mengirimkan berkasnya"
Pak D bersamalaman secara formal begitupun Maara. Lalu siapa sangka seperti adegan slow motion pada sinetron, Maara terpekur mendapati dirinya menjadi objek pandangan lurus seorang Fredy Husen hingga suara dokter Veronika menginterupsi.
"Sayank kau disini, dimana putri kita?"
Oke Maara sudah paham sekarang, dokter cantik itu adalah perempuan yang dibanggakan mantan calon ibu mertuanya 10 tahun lalu. Dunia sesempit ini ya, pikir Maara.