Setelah subuh aku turun dari tower ini menuju minimarket dibawah yang buka 24 jam, setelah membangunkan Big D tentu saja untuk bertanya kode apartemen mewahnya yang akhirnya kami tuju tadi malam. Kami berakhir tidur bertiga dengan Little D yang menjadi pemisah kami. Pria kecilku tak mau diajak pulang kemanapun, ia ingin Big D membelikan rumah baru di luar kota malam itu juga. Sungguh tak masuk akal.
Anak itu terus histeris sepanjang malam. Terus memegangi kedua tanganku dan memanggil-manggil namaku dan Big D bergantian. Air mata terus meluruh dari pelupuknya yang terpejam. Kami sudah mengabari Paul dan Rachel Jillian tentang keadaan Little D. Bahkan aku juga menghubungi kedua orangtuaku dan Gamma. Sungguh mereka sangat menyesali apa yang pernah terjadi. Dan sekali lagi papa bilang akan percaya padaku apapun keputusanku tentang Dirgantara kecil kami.
Aku tahu kekwcewaan dan emosi keluargaku telah membutakan segalanya hingga anggota keluarga termuda kami yang menanggung luka terlalu dalam. Aku sangat khawatir Little D akan memiliki trauma tentang sebuah keluarga hingga dewasa kelak.
Big D dengan muka kusut dan lelah karena kurang tidur memaksaku menerima niat mengantarku turun. Aku hanya berbelanja secukupnya, beras dalam kemasan paling kecil, jamur tiram kering, jagung muda, wortel, bumbu instan, bawang putih, daging ayam beku, telur. Tak lupa Big D memasukkan kopi murni ke dalam troli belanja kami. Aku mengulurkan kartu debit ku, tapi Big D memerintahkan kasir ntuk menggesek kartu platinumnya. Tidak masalah buatku toh aku juga bibi dari keponakannya. Sebenarnya aku juga memasukkan celana dalam isi dua ke dalam troli, aku butuh ganti, abaikan.
Sudah pukul 7, harusnya aku bersiap-siap berangkat kerja. Tapi Pak D melarang ku meninggalkan Little D dengan kondisinya yang seperti itu. Bahkan aku mendengar dia membuat janji dengan psikiater anak pukul 10 nanti siang. Denting bel pintu berbunyi, pria berbadan seperti beruang dengan proporsi yang terlalu pas itu berlalu membuka pintu. Jas mahalnya tampak membalut tubuhnya dengan pas. Ada secangkir kopi yang ku buat dalam genggamannya. Asisten rumahtangga ku masuk membawa tiga koper besar dibantu supir keluarga Jillian. Bahkan aku menganga tak percaya dengan kemungkinan yang terbayang.
"Bunda ini koper yang diminta Tuan Dirgantara, semua keperluan bunda dan mas D sudah saya masukkan semua, barang kebutuhan saya juga" Mba Sri nyengir kuda, aku menghiraukannya dan beralih menatap bertanya pada big D sambil bersedekap.
"Maara, kita berdua tahu, Little D tidak mau pulang kemanapun," Pak D tau apa yang bercokol di kepalaku.
"Ia hanya menginginkan tempat baru. Apartemenku ini jalan terbaik, lebih dekat dengan kantor"
Aku tak menjawab bingung harus bagaimana. Apa kata orang nanti.
" Kita menikah, itu jalan terbaik." Kalimatnya seperti menjawab pertanyaan dalam benakku.
"Please, jangan gila" aku berkata santai dan berlalu ke dapur, tak menganggap omongannya sama sekali. Big D berdecak tak sabar.
"Mbak Sri sudah masak dirumah?" Aku bertanya wanita yang berjarak beberapa tahun diatasi yang juga membantuku merawat little D sejak ia masih bayi.
"Belum Bun...., Itu... Tuan Dirgantara nggak dijawab dulu pertanyaannya" si Bibi malah senyum-senyum.
"Biarkan saja dia, orangnya mah gitu, suka ceplas-coplos." Aku mengibaskan tangan.
"Maaf ya, Mbak Sri" aku tersenyum merasa bersalah. Kasian wanita yang belum pernah berkeluarga sama sekali ini, sudah 9 tahun bersamaku, bahkan mau saja ku boyong dari Surabaya ke Jakarta hingga saat ini setia bekerja padaku.
"Ah... Tidak masalah asalkan mas D baik-baik saja." Katanya tulus.
"Mbak Sri.... Kalo mama tanya gimana ya aku bilangnya?" Aku menerawang, sementara dengan cekatan Mbak Sri menata piring dan gelas untuk tiga orang.
"Mangkanya bunda mau aja nikah sama Tuan muda Jillian itu, udah ganteng, kaya lagi" Mbak Sri malah terkikik sendiri.
"Aku nengok D dulu ya Mbak Sri, kalau Mba Sri belum sarapan, sarapan aja dulu." Aku berlalu diiringi anggukan kepala ART ku yang baik itu.
"Sayang, ayo bangun.... Bunda mandikan ya...." Aku melihatnya sudah membuka mata tapi nampak enggan bergerak. Dia benar-benar seperti mayat hidup, membuatku trenyuh.
"Big D..." Little D berbicara tanpa gairah.
"Ayahmu di depan, sedang berbincang di telpon dengan teman kerjanya. Ayo mandi lalu kita sarapan bareng ya..." Little D hanya bergerak malas, tak menolak. Biasanya ia akan bilang, aku sudah besar Bun, aku bisa mandi sendiri. Aku juga sudah sepakat dengan Big D soal panggilan Ayah itu. Biarlah kalau bisa membuat putraku merasa utuh, tidak harus membuatku menikah dengannya kan.
Aku mendapati Big D berbicara menggunakan ponselku, aku mengernyit heran. Buat apa dia menggunakan ponselku tanpa ijin. Ekspresi yang ku lihat juga tak biasa pada wajah tegas itu.
Aku mengabaikannya sementara, lalu membuka koper dan memilih baju santai untuk Little D. Aku juga membalur minyak kayu putih pada perutnya, little D diam tak merespon padahal biasanya ia tak mau lagi memakai minyak kayu putih karena merasa bukan bayi lagi.
"Nah ayo kita sarapan, bunda sudah masak makanan kesukaanmu sayang." little D hanya diam, memadang keluar jendela tanpa minat.
"Emm.... Ayah.... Ayok kita sarapan" aku memaksa diri memanggil Pak D ayah, demi respon Little D-ku. Tapi, yang ku dapati seringaian Pak D yang membuatku menyesali sebutan baruku untuknya.