Pov. Maara
Beberapa hari telah terlewati, kesehatanku juga telah membaik. Little D sering nampak melamun dan murung. Terimakasih kepada Pak D yang ternyata keberadaannya diantara kami sangat membantu mengalihkan perhatian Little D dari apapun itu yang mengganggu pikirannya.
"Bund.... Aku mau dia saja jadi ayahku."
Aku melongo bodoh mendengarnya, meski ini sudah ku duga. Little D lebih nyaman bersama Big D, sosok pelindung sebagai ayah ia dapatkan pada Dirgantara. Perlakuan big D yang bersahabat membuat ia tak pernah sungkan kepadanya. Kami sedang makan malam di luar atas inisiatifku, karena tak kuasa melihat little D selalu murung sejak kejadian itu. Big D yang ditunjuk little D terbatuk, dan segera mengambil air putih di sisinya lalu segera menguasai diri.
"Aku juga mau adik yang kuat seperti superhero dan aku tak mau dekat-dekat dengan aunty uncle" dari dulu D ku ajarkan memanggil Anita dengan Aunty, soal dia memanggil uncle untuk Sam, tidak ada yang mengajarkan, tidak Big D tidak juga Oma Opanya. Dia tetap membatasi dirinya dengan Sam meski tak sebenci seperti kepada Anita. Sangat nampak little D lebih nyaman dengan pamannya dari pada ayah kandungnya. Aku paham kenapa little D jadi begini. Ia hanya anak-anak yang tak pernah menginginkan hal ini menimpanya. Aku tau ia ingin adik yang seperti superhero yang tak mungkin menyakitinya layaknya superhero seperti kedua orangtuanya yang membuatnya merasa tersingkir. Kasihan sekali D-ku sayang.
"Kalau perlu pindah ke luar kota saja, aku juga tidak mau ketemu kakek nenek dan Om Gamma" dia terus saja berceloteh, berkata cepat menyelesaikan kalimatnya seolah aku akan memotongnya dan menolak kemauannya.
Baiklah, aku ingin menangis sekarang, ini sungguh berat untuk kami. Little D sungguh butuh psikiater rupanya. Ini terlihat mulai diluar batas. Aku hendak bicara tapi Big D meremas tanganku. Ia berdehem menjernihkan kerongkongannya sebelum bersuara.
"Kiddos, tentu saja aku ayahmu. Bukankah aku sudah berjanji akan memenuhi semua keinginanmu." Big D berusaha menangkan putraku. Tatapannya mengunci iris sendu keponakannya, keponakan kami.
"Kita bertiga akan pindah di luar kota yang jauh?" Little D terlihat bersemangat dengan binar mata yang nampak tak biasa. Aku memukul dadaku yang sesak, anakku maafkan perempuan ini yang kurang baik menjagamu. Kalau tahu seperti ini aku akan benar-benar berhati-hati menjaga semua ucapanku.
"Aku benci mereka big D, disini sakit" air mata menetes dari pelupuk yang biasanya menatap penuh semangat itu. Tangan kecilnya menepuk-nepuk arah jantungnya. Kami terdiam, aku ingin meraihnya ke dalam pelukanku. Namun, pria besar sudah melakukannya terlebih dulu. Menyalurkan kekuatan untuk menghadapi kenyataan.
"Aku pikir, bunda yang melahirkanku, tapi ternyata bukan" little D ku mulai histeris. Ia menjerit tertahan dalam d**a pamannya.
"Aku benci diriku big D, aku mau mati saja kalau boleh."
"Tidak boleh/tidak boleh" aku menjawab sama persis dengan Dirgantara. Aku sudah meleleh tak kuat, seirama dengan raungan tertahan anakku. Big D menampakkan ekspresi menakutkan dengan otot-otot yang semakin menegang, rahangnya mengeras sempurna. Kami bertiga berakhir berpelukan dalam restoran outdoor ini. Tak peduli lagi apa kata orang, yang kami tahu pria kecil kami butuh lebih dari sekedar dukungan.