Maara menangis haru, dan sedikit merasa lucu mendengar celotehan bocah 8 tahun yang sedang dipeluknya. Putranya kembali memanggilnya bunda. Little D menangis sesenggukan, ia bilang ia durhaka sama bunda, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri andai big D tidak menyelamatkan bunda. Itu kata little D. Mulai sekarang bocah itu berjanji akan menjaga bunda hingga bunda tua nanti. Mereka terus berpelukan hingga perawat datang untuk memberikan vitamin pada botol infus miliknya. Lalu keluarga besarnya berbondong masuk, Gamma juga mencemaskannya dari Singapore sana dan berjanji akan meluangkan waktu di akhir Minggu untuk pulang menjenguknya.
Soal Anita, Maara sungguh jengah melihat kedua sejoli yang terus menggenggam satu sama lain, bahkan little D menyuruh Sam untuk pulang saja.
"Please go home now, uncle" little D enggan menatap Anita, Anita sendiri takut-takut menilik ekspresi putra kandungnya itu. Kasian sekali putraku, pikir Maara sedih.
"Boy... Jangan mengusirku" dari suaranya, Sam cukup bersahabat. Ada kasih sayang seorang ayah terpancar dari tatapannya, mungkin inilah yang membuat little D lebih ramah kepadanya.
"Bawa saja Aunty dari ini, aku malas melihatnya." Little D benar-benar memusuhi Anita sekarang. Sepertinya ia sakit hati mengetahui Anita pernah tidak menginginkannya.
"Little D sayang, kau tidak boleh begitu" Bu Rachel mengelus kepalan little D sayang.
"Oma ingin kamu menghormati siapapun yang lebih tua dari kamu." Bu Rachel menasehati.
"Tapi, bukan dia Oma, Tidak ada yang menyukaiku selain bunda, bahkan kakek nenek, Om Gamma juga" Oh, God. Hati Maara teriris mendengarnya. little D benar-benar tak mau berdekatan dengan mama papa Maara.
"Tidak sayang, tidak seperti itu" Mama Maara menyela... Ada rasa bersalah terdengar, kedua mata mama berkaca-kaca. Papa hanya menunduk, Anita terisak dan Sam, entahlah. Pria itu sama dengan kakaknya, memiliki tatapan mata yang terlalu sulit diartikan.
****
Tiga hari berlalu, sudah cukup rasanya Maara beristirahat di rumah. Setiap hari saat jam makan datang, little D akan memaksanya makan segera dan meminum obat. Jangan lupa big D juga akan merecokinya dengan telpon-telpon tidak penting mengingatkan Maara tentang banyak hal. Pria dewasa itu cerewet sekali.
Mama Maara juga setiap hari datang menjenguk, membawakan makanan atau sekedar memasak makanan favorit di dapur sederhana rumah Maara. Mama juga terus berusaha mendekatkan diri pada si kecil. Meskipun little D selalu dingin dan mengacuhkan apapun yang mama sampaikan. Sedang Anita, Maara tidak tahu, hanya Sam yang datang di pagi hari di temani supir keluarga Jillian untuk menengoknya sekaligus mengantar jemput little D sekolah.
Sam juga menyampaikan bahwa Nita sedang mempersiapkan diri menemui keluarga besar kami untuk menjelaskan apapun yang pernah terjadi di masa lalu. Tapi yang jelas apapun yang akan mereka jelaskan itu akan berat untuk Anita dan Sam.
Aku ingin sekali menelponnya demi mendengar bagaimana perasaanya, tapi tempo hari Nita tak mau mengangkat panggilan-panggilan ku. Aku kecewa tentu saja, My God, adikku itu.
Gawaiku bergetar.
Pak D is calling....
Aku menghembuskan nafas, haruskah ia bertindak sejauh ini. Jujur saja Maara takut terbawa suasana hingga berakhir baper. Dia perempuan dewasa yang realistis. Maara tak akan sanggup dicampakkan seorang pria lagi jika tahu keadaanku sesungguhnya. Jadi, Maara akan tetap berdiri dengan tembok tak kasat mata yang kokoh.
"Ya pak D"
"Aku jemput 10 menit lagi, tidak ada bantahan"
Tut
Huuft... Tidak... Tidak... Aku baik-baik saja tanpa pria. No men no cry Maara. Sudah cukup yang dulu. Tidak akan ada lagi pria b******k yang akan mendapatkan pengorbananmu. Hanya little D, iya, hanya dia, tidak ada lagi. Begitulah yang benak Maara tekankan sepanjang Big D mulai terang-terangan mendekatinya.
Maara membenahi penampilannya, dan bersiap menghadapi big D hari ini.